Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 6


__ADS_3

Malam harinya Riko datang ke warung tempat Fandi bekerja. Warung makan tersebut masih terlihat ramai pembelinya.


Riko merasa tidak enak bila langsung memanggil Fandi. Riko lalu duduk dan memesan segelas minuman dan memakan gorengan yang tersedia di meja. Fandi yang sedang sibuk melayani pembeli mengetahui jika sahabatnya telah datang. Fandi memberi isyarat agar Riko sabar menunggunya.


Beberapa jam kemudian Riko merasa kalau perutnya mulai keroncongan lalu ia memutuskan untuk memesan makanan. Riko memang sangat suka makan apalagi makan masakan padang. Riko memesan nasi satu porsi dengan satu potong rendang dan melahapnya tanpa henti. Setelah selesai makan, Riko menoleh ke arah jam dinding. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Pembeli pun sudah mulai sepi.


“Mana bahannya Rik?” Fandi datang sambil membawa gunting dan pisau.


“Eeh.. Lu udah kelar kerjanya?” Tanya Riko penasaran.


“Udah. Gue baru selesai mencuci piring dan bersih-bersih meja.” Balas Fandi lagi sambil meletakkan perkakas yang ia bawa tadi.

__ADS_1


“Tiap hari lu kayak gini? Gue salut bro!” Riko kemudian membuka kantong kresek yang berisi bahan yang akan mereka perlukan lalu meletakkannya di atas meja.


“Hhmmm..” Balas Fandi singkat mengangguk seraya tersenyum.


“Betapa gak bersyukurnya gue selama ini bro! Gue masih saja suka mengeluh. Udah gak perlu capek-capek kerja, mau apa cuma tinggal minta sama orang tua. Makan pun tinggal makan!” Riko menunjukkan kekagumannya pada sahabat barunya Fandi.


“Alhamdulillah Rik, lu harusnya banyak-banyak bersyukur.” Fandi lagi-lagi membalas sambil tersenyum.


Fandi merasa beruntung memiliki teman sekaligus sahabat seperti Riko. Selain baik, Riko juga tulus pada Fandi.


Setelah selesai membuat perlengkapan untuk MOS esok hari. Fandi dan Riko kemudian mencoba mengenakannya dan benar saja mereka saling tertawa melihat penampilan mereka satu sama lain. Bola kaki plastik di belah dua menjadi topi, tas di buat dari kardus bekas dan di beri tali dari sumbu kompor minyak, kalung dari lolipop yang di lilitkan dengan tali rafia, dan banyak lagi.

__ADS_1


“Busyet! Gue bakalan kelihatan seperti badut besok bro.” Riko tertawa membayangkan betapa lucunya besok penampilan mereka saat ke sekolah.


“Gue waktu di kampung gak pernah melihat ada kegiatan MOS seperti ini Rik.” Fandi pun ikut tertawa. Ia tertawa begitu lepas seketika melupakan kesedihannya yang teringat kembali dengan kedua orang tuanya.


“Gue malah penasaran sama Jingga lu bro.” Lagi-lagi Riko bicara asal, membuat Fandi langsung terdiam. ‘Jingga gue?’ Fandi terdiam lalu tersenyum kecil mendengar kata-kata Riko.


“Cewek-cewek pakai topi juga kan bro?” Tanya Riko lagi.


“Seingat gue yang cewek gak pakai topi deh Rik, tapi rambutnya di kucir 5 terus di kasih tali rafia warna warni." Fandi pun langsung membayangkan penampilan Jingga besok. Ia yakin Jingga masih terlihat cantik.


“Wkwkwkwkwk...” Riko tertawa cekikikan sambil memegangi perutnya yang buncit.

__ADS_1


Setelah selesai, Riko berpamitan dan Fandi masuk ke warung menuju kamarnya yang terletak di bagian belakang warung.


*****


__ADS_2