Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 145


__ADS_3

Dirga lagi-lagi tertidur dalam perjalanan pulang ke hotel. Fandi kembali menggendong Dirga menuju kamarnya. Fandi mulai merasa dekat dengan Dirga. Dirga pun tampak sangat nyaman berada di dekat Fandi.


‘Andai saja kamu anakku.’ Batin Fandi.


Fandi kemudian membaringkan Dirga ke tempat tidur. Setelah melepaskan sepatu anak itu, Fandi lalu menyelimuti tubuh kecil Dirga.


Sebelum ikut berbaring di tempat tidur yang sama dengan Dirga, seperti biasa Fandi selalu membersihkan dirinya dulu. Ia masuk ke kamar mandi dan mulai mengguyur tubuhnya.


Besok pagi Fandi berniat mengajak Dirga untuk jalan-jalan seharian. Karena Fandi melihat Dirga sepertinya jarang sekali di ajak keluar oleh orang tuanya.


Fandi berbaring di samping bocah kecil itu. Fandi memperhatikan setiap detail paras wajah Dirga. Semakin Fandi memandang wajah Dirga, semakin Fandi bahagia. Fandi merasa mulai menyayangi Dirga. Entah karena Dirga adalah anak dari Jingga. Yang Fandi tahu, ia ingin lebih dekat lagi dengan Dirga.


“Selamat tidur sayang.” Fandi mengecup kening Dirga dengan penuh perasaan.


*****


“Jangan daddy.. Sakit.. Jangan pukul mama sama Dirga lagi.. Dirga janji tidak akan nakal lagi.. Hiks hiks hiks..” Dirga mengingau dalam tidurnya sambil menangis terisak.


Fandi terbangun mendengar suara Dirga yang menangis. Ia langsung membangunkan Dirga. Saat bangun Dirga seketika memeluk Fandi sangat erat. Fandi membiarkan dirinya di peluk oleh Dirga.


“Dirga, tenang ya. Dirga sama om Fandi. Jangan takut!” Ujar Fandi menenangkan Dirga sembari menghapus air mata Dirga.


Tubuh anak laki-laki itu berkeringat dingin. Fandi kembali memeluknya.

__ADS_1


“Dirga minum dulu.” Fandi menyodorkan air putih pada Dirga. Dirga pun meminumnya.


“Terima kasih om.” Balas Dirga tetap ramah.


“Dirga mimpi apa kalau om Fandi boleh tahu?” Tanya Fandi penasaran. Fandi kembali menarik Dirga dalam pelukannya.


“Dirga mimpi buruk om.” Dirga mengatur nafasnya yang tidak beraturan.


“Mimpi buruk seperti apa?” Tanya Fandi lagi.


“Dirga mimpi di pukuli lagi sama daddy. Mama juga di pukuli.” Fandi tercengang mendengar jawaban Dirga.


'Di pukuli?' Gumam Fandi dalam hatinya.


“Sebenarnya daddy itu jahat om. Daddy sering marahin Dirga, tapi mama selalu bela Dirga. Tiap kali daddy mukuli Dirga, mama selalu bela. Dan mama juga ikut kena pukul sama daddy.” Dirga menceritakan apa yang dirinya alami kepada Fandi sembari menangis.


“Kenapa daddy seperti itu sama anaknya sendiri?” Fandi merasa emosi mengetahui betapa buruknya Dirga dan Jingga di perlakukan.


“Dirga bukan anak daddy om.” Jawab Dirga menunduk.


“Bukan anak daddy? Siapa yang bilang begitu?” Tanya Fandi semakin penasaran.


“Daddy yang bilang. Tiap kali marah, daddy bilang kalau Dirga itu anak haram. Dirga itu anak mama sama orang lain kata daddy. Daddy juga bilang kalau Dirga bikin sial.” Jawab Dirga menatap Fandi dengan wajah polosnya.

__ADS_1


‘Dirga bukan anak Jingga dan suaminya. Dirga anak Jingga sama orang lain. Apa itu artinya Dirga anakku?’ Fandi terdiam. Ia mencoba mencerna maksud dari ucapan Dirga.


“Apa Dirga pernah bertanya sama mama?” Tanya Fandi semakin penasaran.


“Pernah om. Dirga pernah nanya sama mama.” Jawab Dirga lagi.


“Terus mama bilang apa sama Dirga?” Fandi ingin memastikan kalau firasatnya memang benar Dirga adalah anak kandungnya.


“Mama nangis om dan cuma bilang kalau Dirga itu anak mama yang paling mama sayang. Dirga juga sayang sekali sama mama.” Dirga seketika tersenyum. Dirga seolah sedang membayangkan Jingga mengatakan hal itu padanya.


“Dirga..” Fandi menarik Dirga kembali dalam pelukannya. Fandi berkali-kali mencium puncak kepala Dirga.


“Om Fandi?” Sahut Dirga.


“Iya sayang.” Balas Fandi.


“Om Fandi sayang sama Dirga ya?” Tanya Dirga melirik Fandi.


“Iya Dirga. Om Fandi sayang sama Dirga.” Fandi kembali menciumi Dirga dengan penuh kasih sayang.


“Dirga belum pernah di peluk dan di cium daddy seperti ini om, karena Dirga bukan anak daddy.” Ucap Dirga sembari merebahkan kepalanya ke pelukan Fandi.


“Sekarang Dirga sudah punya om Fandi. Om Fandi akan sering-sering memeluk dan mencium Dirga seperti ini.” Balas Fandi tanpa ragu-ragu.

__ADS_1


*****


__ADS_2