
Fandi bergegas berjalan ke ruang perawatan pak Irwan. Fandi melihat Laura terduduk di depan ruangan tersebut.
“Laura, papa kenapa?” Tanya Fandi khawatir. Laura tampak menangis terisak-isak. Air matanya bercucuran jatuh.
“Papaku Fandi.” Jawab Laura masih menangis.
“Tenanglah Laura. Papa pasti baik-baik saja.” Fandi menarik Laura ke dalam pelukannya. Laura semakin menangis terisak-isak. Fandi berusaha untuk menenangkan Laura, meskipun hatinya juga tak karuan memikirkan kondisi pak Irwan.
1 jam berlalu, dokter pun keluar dari ruangan pak Irwan dengan wajah lesu. Fandi dan Laura segera menghampiri dokter dengan penuh harap. Namun penjelasan dokter kali ini membuat Laura menangis histeris hingga jatuh pingsan. Pak Irwan telah meninggal dunia. Tubuhnya tak bisa lagi bertahan dengan penyakit jantung yang selama ini telah menggerogoti tubuhnya. Pak Irwan menyerah. Meski sempat kecewa dengan perilaku Laura, namun sebelum meninggal pak Irwan telah ikhlas dengan keputusan Laura untuk bercerai dari Fandi.
“Laura.” Fandi mengusap rambut Laura. Laura terbaring di ruangan lain sebelah ruangan pak Irwan.
“Fandi, papa mana?” Tanya Laura dengan suaranya yang parau.
“Laura, papa sudah meninggal. Kamu harus ikhlas.” Jawab Fandi menenangkan Laura.
“Fandi, aku yang menyebabkan papa sakit dan meninggal.” Laura berkali-kali menyalahkan dirinya.
“Ini sudah takdir Laura. Bukan salah siapa-siapa. Sekarang kamu temani jenazah papa. Biar aku yang mengurus semua proses keberangkatan kita ke Indonesia. Secepatnya kita akan bawa jenazah papa untuk di kuburkan di Indonesia.” Ujar Fandi sembari membantu Laura untuk bangkit dan berdiri.
__ADS_1
“Terima kasih Fandi.” Ucap Laura sebelum menuju ruangan pak Irwan.
Fandi mengambil ponselnya menelepon. Fandi tampak serius mengurus semua proses pemulangan jenazah pak Irwan ke Indonesia. Laura tak henti menangis memandangi wajah papanya.
Setelah selesai mengurus semua administrasi rumah sakit serta berkas pemulangan jenazah ke Indonesia, Fandi dan Laura langsung menuju bandara. Mereka akan berangkat dengan pesawat jet pribadi keluarga Laura.
*****
Fandi memperhatikan Laura. Meskipun sebentar lagi mereka akan resmi bercerai, Fandi tetap perduli dengan keadaan Laura. Mata Laura tampak sembab. Fandi mendekati Laura dan mengajaknya untuk berbicara.
“Laura, kamu mau makan?” Tanya Fandi sembari membawakan Laura kentang goreng.
“Dari siang aku belum melihat kamu makan. Kamu harus makan sedikit. Atau kamu nanti bisa sakit.” Bujuk Fandi menyodorkan kentang goreng pada Laura.
“Aku tidak mau apa-apa Fandi. Aku tidak selera.” Tolak Laura lagi.
“Pleasa! Sedikit saja.” Fandi menyuapi kentang goreng tersebut ke mulut Laura dan akhirnya Laura bersedia memakannya.
“Terima kasih Fandi.” Ucap Laura sambil mengunyah kentang goreng.
__ADS_1
“Sama-sama.” Balas Fandi tersenyum.
“Apa kamu sudah mengabari Sam kekasihmu?” Tanya Fandi penasaran.
“Aku sudah menghubunginya. Tapi Sam tidak bisa ikut, karena dia ada urusan mendadak.” Jawab Laura tersenyum berat.
“Tidak apa-apa. Aku akan membantumu mengurus semuanya.” Balas Fandi lagi menenangkan Laura.
Akhirnya mereka sampai bandara Internasional di Indonesia. Petugas bandara segera menurunkan peti jenazah pak Irwan. Fandi dan Laura mengiringinya dari belakang.
“Laura, kamu kenapa?” Fandi menahan tubuh Laura yang mulai sempoyongan. Dari semalam Laura tidak tidur dan terus menangis.
“Aku gak apa-apa Fandi. Aku hanya sedikit pusing karena tidak tidur semalaman.” Jawab Laura memegangi keningnya.
“Izinkan aku memegangimu agar tidak terjatuh.” Fandi menawarkan diri untuk memegang tangan Laura.
“Iya Fandi. Terima kasih.” Balas Laura tersenyum berat.
*****
__ADS_1