Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 174


__ADS_3

Setelah meninggalkan rumah sakit, Fandi membawa Jingga dan Dirga dengan mobilnya menuju ke suatu tempat. Fandi masuk ke kawasan perumahan elite di kota itu. Di depan sebuah rumah bercat putih kombinasi cokelat gelap, mobil Fandi berhenti. Fandi memarkirkan mobilnya di halaman rumah itu.


Jingga dan Dirga menoleh ke arah rumah itu. Jingga mulai penasaran kemana Fandi membawanya.


“Ayo kita turun!” Seru Fandi melihat Jingga dan Dirga. Jingga dan Dirga saling lirik.


“Ayo Dirga sayang! Jingga ayo turun!” Seru Fandi lagi. Kali ini Fandi menggendong Dirga dan membujuk Jingga untuk turun dari mobil.


“Ini rumah papa Fandi ya?” Tanya Dirga dengan polosnya.


“Tidak sayang. Ini rumah Dirga dan mama.” Jawab Fandi tersenyum sembari mengusap rambut Dirga.


“Rumah Dirga dan mama?” Dirga melotot tak percaya.


“Fandi?” Jingga mengernyitkan dahinya meminta penjelasan dari Fandi.


“Jingga, ini memang rumah untuk kamu dan Dirga. Aku dulu pernah berjanji setelah sukses nanti akan membelikan kamu rumah. Dan sekarang waktunya aku memenuhi janji itu.” Jawab Fandi mengenggam tangan Jingga dan Dirga.


“Rumah ini sangat mewah. Rumah ini pasti mahal sekali. Bagaimana kamu bisa beli rumah semewah ini? Aku gak mau kamu sampai berhutang Fandi. Lebih baik aku dan Dirga tinggal di rumah yang sederhana saja. Aku dan Dirga gak bisa tinggal disini.” Ujar Jingga menggelengkan kepalanya pada Fandi.

__ADS_1


“Heii.. Jingga, dengar dulu! Aku sama sekali tidak berhutang. Rumah ini hasil kerja kerasku. Dan kamu tahu kan motivasinya adalah kamu. Aku sukses seperti sekarang pun semuanya karena kamu. Kamu berhak atas rumah ini, karena kamu adalah ibu dari anakku. Sebentar lagi kamu juga akan menjadi istriku. Tentu saja kamu berhak. Aku sengaja membeli rumah ini untuk kamu dan Dirga. Aku ingin kamu dan Dirga tinggal di rumah yang nyaman.” Fandi berusaha meyakinkan Jingga kalau rumah itu sengaja ia beli untuk Jingga dan Dirga.


“Apa ini tidak terlalu berlebihan?” Jingga kembali mengenyitkan dahinya.


“Tidak ada yang berlebihan. Ayo kita masuk!” Fandi menarik tangan Jingga melangkah ke teras rumah itu.


“Rumahnya bagus sekali papa.” Celetuk Dirga memandangi rumah barunya itu.


“Dirga suka?” Tanya Fandi menatap anaknya.


“Dirga suka sekali pa. Rumahnya lebih bagus dari rumah daddy jahat.” Jawab Dirga dengan sangat polosnya.


“Ayo kita masuk! Papa sudah tidak sabar ingin kasih lihat kamarnya Dirga.” Ajak Fandi sembari membuka pintu rumah.


“Kapan kamu membeli rumah ini?” Tanya Jingga penasaran.


“Seminggu yang lalu, tapi furniturenya baru rampung kemarin.” Jawab Fandi tersenyum lega memperhatikan raut wajah Dirga yang terlihat senang sekali.


“Fandi.. Rumahnya besar, sementara kita hanya bertiga. Apa ini tidak terlalu besar? Membersihkan rumah sebesar ini juga lumayan capeknya.” Celetuk Jingga memperhatikan setiap sisi rumah.

__ADS_1


“Sekarang memang kita masih bertiga, setelah menikah akan ada banyak anak disini.” Balas Fandi tertawa kecil.


“Ssstt.. Fandi?” Jingga menatap sinis Fandi.


“Iya, aku serius.” Bisik Fandi. Jingga melototi Fandi sembari memanyunkan bibirnya.


“Disini bukan cuma kita yang tinggal. Disini ada beberapa orang asisten rumah tangga dan baby sitter untuk Dirga juga. Jadi tidak akan sepi.” Lanjut Fandi. Jingga mengangguk mengerti.


“Kapan Dirga tinggal disini pa?” Tanya Dirga sudah tidak sabar.


“Sekarang Dirga sudah boleh tinggal disini. Papa akan panggil kak Mira baby sitternya Dirga.” Jawab Fandi. Dirga tampak senang mendengar jawaban Fandi. Dirga lalu duduk di sofa sembari menunggu Fandi memanggil baby sitternya.


Tidak berapa lama kemudian, muncul seorang perempuan yang di panggil kak Mira oleh Fandi. Setelah memperkenalkan Dirga pada baby sitternya, Fandi meminta Mira untuk mengantar Dirga ke kamarnya.


“Jingga.. Sekarang giliran aku yang akan menunjukkan kamarmu!” Fandi kemudian menarik tangan Jingga naik ke lantai atas.


Fandi membuka pintu kamar yang berada paling ujung. Kamar itu lebih besar dari kamar lainnya. Kamar setnya pun terlihat sangat mewah. Jingga tampak takjub.


“Fandi, ini kamar aku?” Tanya Jingga tak percaya.

__ADS_1


“Bukan hanya kamar kamu. Tapi nantinya akan jadi kamar aku juga. Ini kamar kita..” Jawab Fandi menatap Jingga. Jingga tersenyum manja pada Fandi.


*****


__ADS_2