Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 102


__ADS_3

Fandi bergegas menuju restoran tempat pak Irwan mengajaknya untuk bertemu. Fandi menggunakan sepeda motor melewati jalanan yang macet. Setelah sampai, Fandi segera memarkirkan motornya dan masuk ke dalam Restoran. Terlihat di meja bagian sudut sudah ada pak Irwan yang menunggunya.


“Maaf pak! Saya terlambat.” Ucap Fandi menunduk menyesal. Ia takut bila pak Irwan marah karena ia tidak disiplin waktu.


“Sudahlah Fandi tidak apa-apa. Saya juga baru saja sampai. Ayo duduk!” Ujar pak Irwan mempersilahkan Fandi untuk duduk. Fandi kemudian duduk dengan tenang.


“Silahkan pesan makanan kamu Fandi! Saya sudah pesan.” Imbuh pak Irwan sembari memberi kode memanggil pelayan.


“Terima kasih pak.” Balas Fandi.


Setelah selesai memesan makanan, pak Irwan langsung menanyakan keputusan Fandi. Fandi terlihat tenang dan tidak gugup saat menyampaikan keputusannya.


“Jadi? Bagaimana keputusan kamu Fandi?” Tanya pak Irwan tanpa basa basi.

__ADS_1


“Saya sudah memikirkannya pak. Dan saya memutuskan untuk lebih dulu mengenal pribadi anak bapak.” Jawab Fandi tenang.


“Kalau dari segi fisik, saya jamin kamu tidak akan kecewa. Karena putri saya sangat cantik. Tapi dari kepribadiannya, itulah yang mau saya rubah dan untuk itu saya perlu kamu untuk merubahnya.” Ujar pak Irwan.


“Maaf. Maksud bapak?” Tanya Fandi heran.


“Laura besar di Australia. Sejak saya dan istri bercerai, Laura menjadi pribadi yang pembangkang dan susah di atur. Dia sering gonta ganti pasangan dan semua pasangannya orang sana. Saya sagat sedih melihat pergaulannya. Makanya saya berniat ingin menikahkannya dengan kamu agar ia berhenti dari kebiasaannya itu. Dan saya harap kamu nanti bisa mengendalikannya.” Pak Irwan menjelaskan secara langsung bagaimana sifat putrinya kepada Fandi. Fandi mendengarkan dengan seksama.


“Jadi Laura seorang yang pembangkang. Bagaimana dia akan setuju di jodohkan dengan saya pak?” Tanya Fandi penasaran.


“Mengancamnya?” Tanya Fandi lagi.


“Iya, jika Laura setuju menikah dengan pria pilihan saya, saya akan memberikannya saham setengahnya lagi untuknya.” Imbuh pak Irwan.

__ADS_1


Fandi diam sejenak berpikir.


“Bagaimana Fandi?” Tanya pak Irwan masih menunggu jawaban Fandi.


“Baik pak. Saya akan menikahi putri bapak. Tapi saya tetap ingin bertemu dulu.” Jawab Fandi tanpa ragu dan gugup.


“Okee. Besok saya akan suruh Laura menemuimu disini.” Balas pak Irwan dengan raut wajah senang.


Setelah berbincang lama, akhirnya makanan yang mereka pesan tiba. Pak Irwan mempersilahkan Fandi untuk makan. Pak Irwan terlihat sangat senang sekali dengan keputusan Fandi. Beberapa kali ia tersenyum dan tertawa. Fandi pun ikut tertawa, namun ada sesuatu yang sangat mengganjal dalam hatinya.


‘Jingga, maafkan aku. Aku memutuskan untuk menikah bukan karena aku berhenti mencintaimu. Kamu adalah cinta pertama Fandi dan akan selalu menjadi satu-satunya cinta dalam hidup Fandi. Bersabarlah sayang! Aku percaya kita berjodoh. Suatu saat kita pasti akan bersatu dan berbahagia selamanya. Aku tidak sabar menantikan saat-saat itu. Dan hari ini aku mencoba membiarkan hidupku mengalir seperti seharusnya.’ Ucap Fandi dalam hatinya.


Malam itu Fandi merasa seperti telah mengkhianati Jingga. Meskipun sampai saat itu Fandi tidak mengetahui keberadaan Jingga. Entah Jingga sudah berbahagia dengan orang lain. Entah sebaliknya Jingga masih menunggu Fandi untuk membawanya kembali.

__ADS_1


Fandi membiarkan hidupnya berjalan seperti seharusnya. Walau cintanya pada Jingga tak pernah padam, ia berusaha untuk hidup dengan normal seperti pria pada umumnya.


*****


__ADS_2