
Jingga dan Laura mulai berbincang-bincang di sofa yang ada di ruangan Fandi. Fandi masih terlihat gugup. Ia takut bila Laura memberitahukan pada Jingga tentang maksud kedatangannya.
“Ooh ya.. Laura. Usia kandunganmu berapa bulan?” Tanya Jingga basa basi.
“Sudah masuk 9 bulan.” Jawab Laura datar.
“Berarti sebentar lagi kamu akan lahiran. Selamat ya! Ooh ya.. Suami kamu gak ikut kesini?” Tanya Jingga lagi. Jingga berusaha mengakrabkan dirinya dengan Laura.
“Suami aku.. Suami aku ya Fandi ini.” Jawab Laura sedikit ragu-ragu. Seketika Jingga terkejut mendengar pernyataan dari Laura. Fandi pun ikut terkejut.
“Hhmm.. Maksud kamu?” Tanya Jingga memastikan maksud ucapan Laura.
“Suamiku adalah Fandi.” Jawab Laura dengan suara yang sedikit keras.
__ADS_1
“Tapi bukankah kamu dan Fandi sudah bercerai? Iya kan Fandi?” Jingga mencoba untuk tenang. Sebisa mungkin ia berusaha menahan diri.
“Iya sayang. Aku dan Laura sudah lama bercerai. Laura kamu jangan mengada-ada!” Ujar Fandi memperingatkan Laura.
“Jingga.. Sebenarnya kami memang sudah bercerai. Tapi itu sebelum aku tahu kalau ternyata aku sedang mengandung anak Fandi.” Balas Laura mencoba mendramatisir keadaannya. Fandi tampak bingung dengan ucapan Laura. Ia tak menyangka Laura akan mengatakan hal demikian pada Jingga.
‘Apa itu benar? Fandi tidak mungkin. Aku tidak boleh langsung percaya.’ Batin Jingga. Jingga sesaat terdiam sebelum akhirnya ia kembali menanggapi ucapan Laura.
“Maaf Laura. Tapi itu sangat tidak mungkin. Aku kenal Fandi sudah sangat jauh. Aku tahu betul Fandi tidak akan mungkin berhubungan dengan wanita yang tidak dia cintai. Fandi hanya mencintai aku. Itulah kenyataannya!” Ujar Jingga melirik Fandi sembari menggenggam tangan Fandi.
“Aku tahu.. Tapi walau bagaimana pun Fandi adalah pria normal. Dia tentu punya nafsu ketika berduaan dengan seorang wanita di kamar.” Laura tetap tak mau kalah. Laura terus berusaha merobohkan kepercayaan Jingga pada Fandi. Kali ini Jingga hampir goyah.
“Aku mohon Laura. Jangan mengacaukan hubunganku dan Jingga. Kami akan segera menikah. Tolong jangan seperti ini!” Imbuh Fandi sedikit memohon.
__ADS_1
“Fandi, kamu yang harus jujur pada Jingga. Tolong beritahu Jingga yang sebenarnya! Aku tidak akan menghalangi niat kalian untuk menikah. Aku hanya ingin pertanggung jawaban dari kamu. Aku tidak masalah jika harus di madu.” Balas Laura meyakinkan. Kali ini air matanya bercucuran.
“Jingga, kamu tolong jangan percaya! Aku tidak mungkin seperti itu. Kamu tahu kan betapa aku mencintaimu. Aku tidak mungkin melakukan itu dengan wanita lain.” Fandi berusaha meyakinkan Jingga sebisa mungkin. Meskipun kali ini Jingga mulai termakan oleh perkataan Laura. Hatinya mulai meragukan Fandi, tapi Jingga tetap berusaha untuk tenang menanggapinya.
“Fandi.. Kamu jangan khawatir! Aku tidak akan membatalkan pernikahan kita. Aku tidak bisa kehilangan kamu lagi. Tapi aku juga tidak bisa memaksa Laura untuk menjauh dari kehidupan kita.” Jelas Jingga menanggapi perkataan Fandi sembari tersenyum.
“Maksud kamu sayang?” Tanya Fandi tak mengerti.
“Kita akan tetap menikah minggu depan. Meskipun Laura tetap bersikeras dengan statusnya yang masih sebagai istrimu. Kita tunggu sampai Laura melahirkan. Setelah itu baru bisa di buktikan apa itu benar anak kamu.” Jawab Jingga tersenyum ke arah Laura.
‘Sial! Ternyata wanita ini tidak sebodoh yang aku fikir. Tapi aku tetap tidak boleh patah semangat. Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan Fandi lagi.’ Gumam Laura membalas tatapan Jingga dengan sinis.
“Fandi sayang, ayo kita makan siang!” Ajak Jingga menarik tangan Fandi dan mereka pun berlalu dari hadapan Laura. Laura tampak geram menyaksikan Fandi dan Jingga yang berlalu begitu saja meninggalkannya.
__ADS_1
*****