
Sudah beberapa hari Dirga tinggal bersama Fandi. Mereka tampak seperti ayah dan anak, selalu kompak dan bercanda tawa bersama. Seperti biasa setiap hari Fandi mengantar Dirga ke rumah sakit untuk bertemu dengan Jingga.
Jingga tersenyum melihat Dirga yang selalu ceria tiap kali bersama Fandi. Dirga juga tidak sungkan lagi bermanja pada Fandi. Sesekali Jingga kedapatan oleh Fandi tengah memperhatikannya.
Sebenarnya ada banyak sekali pertanyaan yang bersarang dalam pikiran Fandi. Namun ia bingung bagaimana cara menanyakannya. Ia tidak mau pertanyaan yang akan ia lontarkan nanti akan berpengaruh terhadap kesehatan Jingga. Karena sejatinya Fandi hanya ingin fokus dengan kesembuhan Jingga.
“Mama, Dirga pamit ya? Mama baik-baik, besok Dirga kesini lagi.” Dirga memeluk Jingga sangat erat dan mencium pipi mamanya itu.
“Iya Dirga sayang. Dirga jangan nakal dan jangan bikin repot om Fandi.” Balas Jingga sembari mencium kening Dirga dengan lembut.
“Fandi, maaf selalu merepotkan. Terima kasih juga sudah menjaga Dirga selama aku di rumah sakit.” Ujar Jingga pada Fandi.
“Tidak, sama sekali Dirga tidak pernah merepotkan. Aku sangat senang dengan kehadiran Dirga.” Fandi membelai kepala Dirga, seketika Dirga merangkul Fandi.
“Mama tenang saja. Om Fandi udah janji akan menjaga Dirga dan mama. Gak ada yang akan berani jahat lagi sama kita.” Ucapan Dirga yang begitu polos dan lugu membuat Fandi dan Jingga menatap anak kecil itu. Mereka tersenyum dan tanpa sengaja mata mereka saling bertemu.
Jingga tampak salah tingkah dan segera memalingkan wajahnya dari Fandi.
“Iya Dirga. Om Fandi tidak akan membiarkan Dirga dan mama di jahati orang.” Balas Fandi masih menatap Jingga yang sudah memalingkan wajahnya.
‘Dirga pasti sudah cerita banyak sama Fandi.’ Batin Jingga menunduk.
__ADS_1
“Baiklah.. Kami pulang dulu.” Setelah berpamitan, Fandi dan Dirga meninggalkan ruang perawatan Jingga.
“Ii..iyaa.. Hati-hati di jalan.” Jingga tersenyum memperhatikan Dirga dan Fandi yang berjalan meninggalkan ruangannya.
*****
Sesampainya di hotel, Dirga mengganti pakaiannya dengan piyama. Fandi terpana melihaat betapa mandirinya Dirga. Meski usianya masih 5 tahun, Dirga tampak telaten mengurus dirinya sendiri.
“Dirga, jangan lupa sikat gigi.” Sahut Fandi mengingatkan bocah kecil itu.
“Iya om.” Dirga berjalan ke kamar mandi untuk menyikat giginya.
Tidak berapa lama kemudian, Dirga keluar dari kamar mandi dan duduk di ranjang. Fandi mendekati Dirga yang sudah mulai mengantuk.
“Iya sayang. Jangan lupa baca doa.” Fandi membelai rambut Dirga dengan penuh kasih sayang.
“Dirga sayang sekali sama om Fandi.” Dirga menatap Fandi sambil melemparkan senyumannya yang manis.
“Benarkah? Om Fandi juga sayang sekali sama Dirga.” Balas Fandi menatap mata Dirga dari dekat.
“Dirga maunya punya papa seperti om Fandi, gak mau yang seperti daddy.” Celetuk Dirga memanyunkan bibir kecilnya.
__ADS_1
“Dirga benaran mau jadi anak om Fandi?” Tanya Fandi tersenyum menatap Dirga sembari memegang pipi Dirga.
“Mau sekali om.” Jawab Dirga dengan polosnya.
“Kalau daddy datang jemput Dirga dan mama bagaimana?” Tanya Fandi penasaran dengan jawaban Dirga.
Dirga seketika menunduk dan terdiam untuk beberapa saat.
“Dirga?” Fandi mengangkat kepala Dirga menatap mata anak kecil itu yang tampak tidak senang dengan pertanyaan yang baru saja ia ajukan.
“Dirga gak mau om. Dirga takut sama daddy. Dirga sebenarnya gak mau tinggal sama daddy lagi. Tapi mama pasti kembali lagi kesana kalau sudah sembuh.” Jawab Dirga dengan nada kecewa.
“Kenapa Dirga gak bilang saja sama mama kalau Dirga gak mau tinggal sama daddy lagi?” Tanya Fandi semakin penasaran.
“Dirga dan mama dulunya juga mau pergi dari rumah daddy. Tapi daddy marah dan mukul mama. Dirga gak mau mama di pukul lagi.” Jawab Dirga membayangkan kejadian yang membuatnya trauma.
‘Jingga.. Pria macam apa yang kamu pilih untuk menjadi suamimu?’ Gumam Fandi tampak kesal.
Tak terasa Dirga sudah mulai terlelap setelah bercerita pada Fandi. Fandi mengecup kening Dirga dan menyelimutinya.
*****
__ADS_1
Dirga (Anak Jingga)