Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 82


__ADS_3

Malam itu Fandi memutuskan untuk keluar bersama Riko. Mereka duduk di cafe tempat biasa mereka nongkrong untuk minum kopi. Seperti biasa Fandi memesan latte, sedangkan Riko memesan kopi original.


“Sudah lama ya bro kita gak nongkrong disini?” Ujar Riko sembari menyeruput kopinya.


“Iya Rik. Sudah hampir setahunan.” Balas Fandi tersenyum.


“Ooh ya, bagaimana hubungan lu sama Novi?” Tanya Fandi penasaran, karena Fandi sudah jarang melihat Riko dan Novi jalan bersama.


“Gue sama Novi baik-baik aja bro. Tapi biasalah cewek, kalau lagi PMS selalu marah-marah gak jelas.” Umpat Riko.


“Sabar Rik. Itulah cewek, sebagai cowok memang kita yang harus lebih mengerti mereka.” Balas Fandi menepuk pundak Riko.


“Hahahaaa.. Iyaa iyaa bro. Gue paham. Dan cewek juga selalu benar bro. Hahahaaa...” Riko tertawa terbahak-bahak.


“Hahahaaa.. Lu bisa saja Rik.” Fandi ikut tertawa.


Tidak lama kemudian ponsel Fandi berdering. Fandi melihat ada panggilan masuk dari nomor yang tidak di kenal. Seketika Fandi mengangkatnya, ia berpikir kalau Jingga yang menghubunginya.


“Hallo Jingga.” Sahut Fandi bersemangat.

__ADS_1


“Hallo Fandi. Ini aku Windy sepupu Jingga. Kamu lagi dimana? Aku ada info tentang Jingga. Kamu bisa ke rumah?” Tanya Windy di ujung teleponnya.


“Aku segera kesana.” Balas Fandi menutup telepon. Ia bergegas ke kasir dan membayar minuman mereka.


“Bro, ada apa? Kenapa lu buru-buru? Apa Jingga yang telepon?” Tanya Riko penasaran.


“Rik, nanti gue jelasin. Sekarang kita harus ke rumah tantenya Jingga dulu.” Fandi menarik Riko bergegas ke parkiran.


Sepanjang jalan Fandi menjelaskan kepada Riko siapa yang baru saja meneleponnya.


*****


Fandi bergegas masuk ke gerbang rumah Windy. Kebetulan Windy sudah menunggunya di teras.


“Fandi kamu duduk dulu. Tidak ada Jingga disini, aku mau kasih kamu info tentang Jingga saat ini.” Jawab Windy.


“Hhhmmm... Apa itu?” Fandi menghembuskan nafasnya. Ia sudah tidak sabar mendengar kabar tentang Jingga.


“Aku baru tahu dari mama. Seminggu yang lalu Jingga datang kemari, kata mama dia datang dengan seorang laki-laki berumur.” Windy menjelaskan dengan tenang namun kemudian berhenti.

__ADS_1


“Terus?” Tanya Fandi penasaran.


“Ia datang untuk meminta surat izin menikah dari mama dan papa.” Windy melanjutkan dan seketika Fandi terdiam. Fandi merasa seperti tersambar petir mendengar perkataan Windy.


“Sekarang Jingga mana?” Tanya Fandi mulai lesu.


“Jingga sekarang tidak disini. Dia seminggu yang lalu kesini Fandi.” Jawab Windy meyakinkan Fandi.


“Kenapa baru beritahu sekarang?” Tanya Fandi lagi.


“Aku sedang di luar kota ada kegiatan kampus. Baru saja aku sampai di rumah. Tapi sebelum mama dan papa berangkat keluar negeri mereka sempat cerita kalau seminggu yanga lalu Jingga kesini. Jingga bersama pria berumur untuk minta surat izin menikah.” Jelas Windy.


“Jadi Jingga akan menikah?” Tanya Fandi dengan suara tercekat.


“Maaf Fandi. Tapi itulah kenyataannya. Mungkin sekarang Jingga sudah menikah. Mau tidak mau kamu harus merelakannya dan melupakannya.” Lanjut Windy.


“Terima kasih Windy. Aku pulang.” Fandi berbalik keluar dari gerbang rumah Windy.


Fandi melangkahkan kakinya yang mulai goyah. Ia tak kuasa menahan air matanya yang hampir menetes. Fandi kembali menangis. Riko yang melihat sahabatnya begitu terpukul merangkul Fandi dan membantunya masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Fandi terdiam. Ia berkali-kali menghapus air matanya yang menetes. Ia tidak menyangka Jingga secepat itu melupakannya dan memulai kehidupan yang baru dengan laki-laki lain.


*****


__ADS_2