Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 106


__ADS_3

Malam itu Fandi dan Laura tidur terpisah. Laura sesekali menggerutu mengingat ucapan Fandi. Laura tidak menyangka Fandi yang lebih anti padanya. Laura berpikir jika ia yang akan lebih dulu terang-terangan menolak Fandi saat malam perkawinan mereka. Ternyata malah Fandi!


Keesokkan paginya Fandi telah bersama pak Irwan menyantap sarapan di restoran hotel tersebut.


“Laura belum bangun Fandi?” Tanya pak Irwan heran, karena tidak melihat putrinya bersama Fandi.


“Iya pak. Laura masih tertidur.” Jawab Fandi tenang.


“Fandi, kamu jangan panggil pak lagi. Sekarang kamu sudah jadi menantu saya, mulai sekarang panggil saya papa.” Ujar pak Irwan tertawa mendengar Fandi yang masih memanggilnya dengan sebutan pak.


“Apa kalian bergulat sampai dini hari, makanya Laura masih tertidur jam segini?” Ujar pak Irwan tersenyum pada Fandi. Pak Irwan tidak tahu jika putrinya dan Fandi tidur terpisah. Fandi membalas dengan senyuman.


Pagi itu Fandi dan pak Irwan berbincang-bincang mengenai perusahaannya yang ada di Australia yang nantinya akan di serahkan kepada Fandi.


Sementara itu Laura terbangun di kamarnya dan tidak melihat keberadaan Fandi di kamar tersebut. Laura bangkit dari ranjang lalu berjalan masuk ke kamar mandi.


Setelah mandi Laura turun ke lantai bawah menuju restoran untuk sarapan. Laura melihat Fandi dan pak Irwan begitu akrab berbincang-bincang.

__ADS_1


“Pagi papa.” Sapa Laura seraya mencium pipi pak Irwan.


“Pagi sayang.” Balas pak Irwan.


Laura kemudian duduk di samping Fandi. Pak Irwan tampak bingung, karena Laura tidak menyapa Fandi suaminya.


“Laura, kenapa cuma papa yang kamu tegur dan cium? Suamimu?” Tanya pak Irwan lalu tersenyum melihat Laura dan Fandi yang saling lirik-lirikan.


“Aa..aaku gak terbiasa pa!” Jawab Laura terbata-bata.


“Aah.. Kamu harus terbiasa! Bukankah semalam sudah tidur bersama? Kamu harus biasakan memberi kecupan selamat pagi untuk suamimu.” Balas pak Irwan sambil menyantap sarapannya.


Laura tidak menyangka Fandi akan berbohong pada papanya tentang yang terjadi semalam antara mereka berdua.


Usai sarapan, pak Irwan pamit ke kantornya meninggalkan Fandi dan Laura yang masih duduk menyantap sarapan.


“Fandi, papa akan ke kantor. Kamu dan Laura berangkat besok pagi ke Sidney. Papa sudah mempersiapkan semuanya untuk keperluan keberangkatan kalian besok. Papa pergi dulu!” Ujar pak Irwan seraya meninggalkan Fandi.

__ADS_1


Setelah melihat pak Irwan pergi, Laura segera mendekati Fandi dan berbisik.


“Kamu bilang apa sama papa? Sampai papa berpikir kita tidur bersama semalam?” Tanya Laura dengan nada ketus.


“Aku tidak bicara apa-apa sama pak Irwan.” Jawab Fandi santai hendak berdiri meninggalkan Laura.


“Terus? Kenapa papa sampai berpikiran seperti itu?” Tanya Laura lagi merasa belum puas dengan jawaban Fandi.


“Papa kamu sendiri yang berasumsi seperti itu. Karena melihat putrinya belum bangun dan belum ikut sarapan bersama.” Fandi mulai berjalan meninggalkan Laura.


“Kamu mau kemana?” Tanya Laura menghentikan langkah kaki Fandi.


“Aku mau ke kosan untuk beres-beres barang. Besok pagi akan berangkat ke Sidney.” Jawab Fandi melanjutkan langkahnya.


Fandi berlalu meninggalkan Laura. Laura masih terdiam memperhatikan langkah kaki Fandi yang berlalu meninggalkannya. Laura tersenyum sinis melihat Fandi.


“Kali ini kamu boleh merasa menang Fandi. Sidney adalah kotaku. Setelah berada disana kamu akan tahu siapa Laura sesungguhnya.” Gumam Laura dalam hatinya.

__ADS_1


Laura menganggap Fandi adalah musuhnya. Sejak Fandi menyetujui permintaan pak Irwan untuk menikahinya sejak itulah Fandi menjadi musuh bagi Laura. Laura berpikir Fandi akan berusaha menaklukan hatinya. Padahal tidak terbesit sedikit pun di hati Fandi untuk membuka hatinya untuk Laura.


*****


__ADS_2