
Sesampainya di sekolah Fandi melakukan aktivitas seperti biasa.
Setelah selesai jam istirahat, Fandi melangkah menuju perpustakaan. Karena ia memang butuh persiapan yang sangat matang menghadapi perlombaan bulan depan. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan membaca buku. Ia tidak mau gagal dalam lomba nanti. Ia berharap bisa menang dan selangkah lebih dekat dengan impiannya.
“Bro, gue langsung ke kelas ya.” Riko kemudian meninggalkan Fandi di perpustakaan menuju kelasnya.
“Fandi.” Sonya tiba-tiba mendekati meja Fandi. Nafasnya tersenggal-senggal.
“Ada apa?” Tanya Fandi yang merasa heran melihat Sonya. Sonya sepertinya habis berlari.
“Kamu mau ikut aku?” Sonya bertanya pada Fandi dengan nafasnya yang masih tersenggal-senggal.
“Kemana?” Balas Fandi singkat.
“Ke rumah Jingga teman sekelasku.” Ucapan Sonya lantas membuat Fandi menghentikan kegiatan membaca bukunya. Ia terkejut saat Sonya menyebut nama Jingga. Tapi ia berusaha untuk merespon dengan tenang. Ia tidak mau Sonya mencurigainya jika ia bersikap berlebihan.
“Memangnya ada apa disana?” Fandi sebenarnya sangat penasaran. Hanya saja ia mencoba untuk tenang.
“Orang tuanya mengalami kecelakaan semalam dan meninggal dunia.” Sonya menjelaskan kepada Fandi. Fandi merasa hatinya pilu. Ia terdiam membayangkan kondisi Jingga saat itu pasti sangat hancur. Karena ia pun pernah berada di posisi itu di tinggalkan orang tua dalam waktu bersamaan.
“Bagaimana Fandi?” Sonya kemudian bertanya lagi, karena Fandi belum menjawab ajakannya.
__ADS_1
“Oke.. Aku ikut!” Respon Fandi.
*****
Di dalam mobil selama perjalanan Fandi diam seribu bahasa. Yang ada di fikirannya hanyalah Jingga. Ia merasa tidak akan sanggup menyaksikan gadis pujaan hatinya menangis pilu.
Sonya memperhatikan ekspresi Fandi sedari tadi. Sonya mulai merasa heran melihat perubahan sikap Fandi dan bertanya-tanya.
“Fandi, aku boleh tanya sesuatu?” Sonya menatap ke arah Fandi.
“Iyaa apa?” Balas Fandi singkat.
“Hhmmm..” Fandi menarik nafasnya, namun masih diam.
“Padahal kamu dan Jingga juga bukan teman kan?" Lanjut Sonya makin penasaran.
“Hhhmmm...” Fandi lagi-lagi menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar. Ia mencoba untuk rileks menjawab pertanyaan Sonya.
“Aku memang bukan temannya Jingga. Tapi aku peduli.”
“Maksud kamu Fandi?” Lagi-lagi Sonya bertanya heran.
__ADS_1
“Aku pernah berada di posisi itu. Kehilangan orang tua sekaligus dalam satu waktu. Makanya aku peduli. Aku paham rasanya..” Fandi tercekat. Rasanya berat untuk mengutarakan rasa di hatinya. Matanya berkaca-kaca. Sonya merasa bersalah, karena sudah mencecar Fandi dengan berbagai pertanyaan yang sulit sebenarnya untuk ia jawab.
“Fandi, maafkan aku. Aku menyesal. Aku gak tau kalau kamu.” Sonya merasa sangat bersalah dan hampir menangis melihat Fandi.
“Tidak apa-apa. Itu sudah lama. Sudah hampir 4 tahun.” Jawab Fandi menenangkan Sonya yang hampir menangis.
Mobil yang mereka naiki mulai berhenti. Pak sopir segera memberitahu Sonya.
“Sudah sampai neng.”
“Iyaa Pak.” Sonya kemudian turun dari mobil dan di susul Fandi. Mereka masuk ke dalam rumah Jingga.
Di sana Fandi melihat Jingga bersimpuh di antara jenazah kedua orang tuanya. Jingga tidak menangis, namun matanya tampak sembab.
Fandi merasa sakit melihat gadis pujaan hatinya terpukul seperti itu. Rasanya ia ingin sekali memeluk Jingga membiarkan gadis itu menangis sepuasnya dalam pelukannya.
“Dek, kamu kesini sama siapa?” Fiki menghampiri Sonya.
“Aku sama Fandi kak.” Jawab Sonya melirik ke arah Fandi.
*****
__ADS_1