Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 147


__ADS_3

Pagi harinya Dirga masih tertidur. Seperti biasa Fandi bersiap-siap untuk bekerja mengurus hotelnya terlebih dahulu, sebelum siangnya mengantar Dirga ke rumah sakit untuk bertemu Jingga. Karena tergesa-gesa untuk menghadiri meeting, Fandi tidak sempat berpamitan pada Dirga.


Di ruangannya Fandi duduk sebentar sambil memeriksa beberapa laporan yang sudah di letakkan oleh sekretarisnya di atas meja. Fandi memeriksanya dengan seksama. Tidak lama setelah itu Tio sekretaris Fandi masuk ke ruangannya.


“Permisi pak.” Sahut Tio sembari mengetuk pintu ruangan Fandi.


“Iya, masuk Tio.” Balas Fandi mempersilahkan Tio masuk ke ruangannya.


“Semua sudah di ruangan pak.” Tio mengingatkan Fandi kalau sudah waktunya untuk memulai rapat.


“Baiklah. Saya akan segera kesana.” Fandi menutup file yang sedang ia baca dan membawanya ke ruang meeting.


Fandi keluar dari ruangannya menuju ruang meeting. Disana sudah banyak karyawannya yang menunggu.


Fandi mulai berbicara di depan para karyawannya. Fandi menjelaskan laporan omset pemasukkan hotel mereka selama satu bulan terakhir yang mengalami kenaikan. Fandi juga memuji kerja keras semua karyawannya untuk memajukan hotelnya itu. Tidak lupa Fandi berterima kasih dan memberikan sedikit bonus untuk para karyawannya. Wajah semua tampak senang. Fandi berharap dengan bonus yang ia berikan akan menjadi penyemangat karyawannya untuk lebih giat lagi dalam bekerja.


*****


Fandi masuk ke dalam kamar hotelnya. Ia melihat Dirga masih saja belum bangkit dari tempat tidurnya. Fandi kemudian mendekati Dirga dan memegang pipinya. Fandii merasakan kalau tubuh Dirga terasa panas. Rupanya Dirga demam.

__ADS_1


“Dirga..” Fandi membelai dahi Dirga yang panas.


“Om Fandi sudah pulang.” Mata Dirga tampak merah, karena suhu tubuhnya yang tinggi.


“Dirga, kita ke rumah sakit yuk berobat.. Habis itu baru ketemu mama.” Bujuk Fandi pada Dirga.


“Tapi gak di suntik kan om?” Tanya Dirga ragu-ragu.


“Kenapa? Dirga takut di suntik?” Fandi mengangkat alisnya.


“Suntik itu sakit om.” Jawab Dirga memperlihatkan ekspresi takutnya pada jarum suntik.


“Masa’ takut? Dirga kan anak laki-laki pemberani. Lagian kalau sakitnya tidak parah tidak akan di suntik.” Bujuk Fandi lagi meyakinkan Dirga.


“Om Fandi gak mungkin tinggal diam. Om Fandi pasti marahin dokternya.” Jawab Fandi kembali meyakinkan Dirga.


“Heheheee..” Dirga tertawa kecil mendengar ucapan Fandi.


“Dirga mau kan?” Fandi bertanya lagi pada Dirga.

__ADS_1


“Iya om, Dirga mau.” Jawab Dirga kemudian langsung duduk.


“Itu baru anak pemberaninya om Fandi.” Fandi mencubit hidung Dirga dengan lembut.


Dirga tersenyum manis pada Fandi. Setiap kali Dirga tersenyum padanya, Fandi merasa hatinya amat bahagia.


Fandi membantu Dirga mengganti pakaiannya. Dirga juga tampak senang saat Fandi memasang baju Dirga seperti ayahnya sendiri.


“Dirga kenapa senyum-senyum lihat om Fandi?” Fandi mengernyitkan dahinya heran, karena sedari tadi Dirga senyum-senyum melihatnya.


“Apa ada yang salah dari wajah om?” Lanjut Fandi memastikan sembari mengusap-usap wajahnya.


“Heheheee..” Dirga malah tertawa melihat tingkah Fandi.


“Hahh.. Kok malah ketawa?” Celetuk Fandi memanyunkan bibirnya.


“Dirga senang om. Daddy gak pernah perduli sama Dirga seperti om Fandi. Daddy selalu marah-marah. Daddy benci sekali sama Dirga.” Balas Dirga cemberut. Fandi mencubit kembali hidung Dirga dengan lembut, Dirga kembali ceria.


“Nanti jangan lupa bawa tas mama ya om! Kemarin mama pesan.” Ujar Dirga mengingatkan Fandi.

__ADS_1


“Siap bos!!” Jawab Fandi yang kemudian membuat Dirga kembali tertawa.


*****


__ADS_2