Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 140


__ADS_3

Pagi itu Fandi bangun lebih awal, ia menelepon sekretarisnya agar semua pertemuan dengan relasinya hari itu di reschedule. Fandi ingin ke rumah sakit mengantar Dirga sekaligus memastikan kondisi Jingga.


Setelah mandi dan bersiap-siap, Fandi turun ke lantai bawah. Fandi masuk ke restoran hotelnya. Ia meminta pegawainya agar segera mengantarkan sarapan ke kamarnya. Fandi memesan nasi putih dengan lauknya ayam crispy, karena Dirga sangat menyukai ayam crispy.


Fandi kemudian kembali ke lantai atas dimana kamarnya berada. Ternyata Dirga sudah bangun. Bocah kecil itu mengucek matanya.


“Pagi Dirga.” Fandi tersenyum mendekati Dirga yang masih duduk di tempat tidur.


Dirga hanya tersenyum melihat Fandi.


“Ayo Dirga mandi dulu! Habis itu kita sarapan.” Fandi kembali mengusap kepala Dirga. Anak itu tampak senang tiap kali Fandi membelai puncak kepalanya.


“Iya om. Apa setelah itu kita akan ke tempat mama?” Tanya Dirga sangat antusias.


“Tentu saja. Kita akan langsung ke tempat mamamu.” Jawab Fandi bersemangat.


“Horee..” Dirga melompat girang. Dirga tampak sangat senang. Fandi ikut senang melihat Dirga kegirangan seperti itu.

__ADS_1


Dirga masuk ke kamar mandi dengan penuh semangat.


*****


Pintu kamar Fandi di ketuk pelayan hotel yang hendak mengantarkan sarapan. Setelah menerima pesanannya, Fandi menaruhnya ke atas meja. Fandi juga memesan segelas susu untuk Dirga.


“Ini susu untuk Dirga ya om?” Tanya Dirga sambil menunjuk susu yang ada di meja di depannya.


“Tentu saja susu itu untuk Dirga. Ayo di minum! Nanti dingin.” Seru Fandi mempersilahkan Dirga untuk meminum susunya.


“Terima kasih om.” Dirga tersenyum sangat manis pada Fandi. Dirga pun segera meminum susunya.


Tak beberapa lama, Dirga mulai mendekat pada Fandi. Seketika Dirga memeluk Fandi. Fandi tercengang melihat sikap anak laki-laki itu. Jantung Fandi tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya.


‘Tidak hanya mamanya, anak ini pun ikut membuatku jatuh hati.’ Batin Fandi.


“Sekarang mari kita sarapan!” Ajak Fandi seraya menggendong Dirga menuju meja makan yang ada di kamar itu.

__ADS_1


Dirga tampak menikmati saat di manja oleh Fandi. Seolah ia belum pernah di manja oleh ayahnya sendiri.


Dirga duduk di kursinya. Dirga membaca doa terlebih dahulu sebelum menyantap makanannya. Fandi tertegun melihat perilaku Dirga.


‘Anak yang baik. Jingga memang ibu yang baik. Dia berhasil mendidik anaknya menjadi anak yang baik.’ Fandi kembali tersenyum memperhatikan Dirga yang sedang asyik makan.


“Ayo om! Cepatan makan. Kita harus cepat ke tempat mama. Dirga takut nanti ada yang jahatin mama.” Ujar Dirga pada Fandi. Fandi mengernyitkan dahinya setelah mendengar ucapan Dirga. Hatinya mulai bertanya-tanya apa maksud ucapan Dirga.


“Memangnya siapa yang akan jahat sama mama Dirga?” Tanya Fandi sangat penasaran.


Dirga terdiam. Dirga tampak enggan menjelaskan maksud perkataannya pada Fandi. Dari wajahnya Dirga kelihatan takut untuk berbicara. Fandi memakluminya. Ia tidak ingin memaksa Dirga untuk menjawab pertanyaannya.


“Ayo lanjut makannya sayang!” Fandi mencoba mencairkan suasana yang sempat hening sejenak. Dirga kembali menatap Fandi. Bibirnya kembali melemparkan senyuman pada Fandi.


‘Apa yang sebenarnya terjadi kepada anak ini dan Jingga?’ Fandi masih bertanya-tanya dalam hatinya.


‘Selain menanyakan ini, Dirga juga diam ketika aku menanyakan tentang ayahnya. Apa Jingga sedang ada masalah dengan suaminya?' Gumam Fandi sembari memperhatikan Dirga yang lanjut sarapan.

__ADS_1


*****


__ADS_2