Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 167


__ADS_3

Flashback (Jingga)


Malam itu dengan pikiran yang sangat kacau Jingga bergegas ke kamarnya. Ferdinan tampak heran melihat sikap Jingga. Sedari tadi Jingga membisu dan seperti sedang memikirkan sesuatu.


Jingga masuk ke dalam kamarnya. Di ranjang, Dirga sedang tertidur pulas. Jingga mendekati anaknya itu. Jingga menatap wajah Dirga dalam-dalam, sebelum akhirnya ia meluapkan semua kesedihannya. Jingga menangis terisak-isak.


“Dirga, maafkan mama! Karena keegoisan mama, kamu terpisah dari papamu. Fandi aku menyesal..” Ucap Jingga lirih. Berkali-kali Jingga menyeka air matanya. Namun setiap kali ia teringat semua perkataan Sonya, ia semakin larut dalam tangisannya.


“Aku menyesal Fandi. Aku benar-benar sangat menyesal. Andai waktu bisa di putar kembali, aku tidak akan pernah meragukanmu. Aku sangat mencintaimu. Aku masih mencintaimu bahkan sampai hari ini.” Jingga semakin menjadi-jadi dengan tangisnya.


Tiba-tiba Ferdinan masuk ke kamar Jingga tanpa mengetuk pintu. Seketika Jingga berhenti menangis dan menghapus air matanya.


“Lu kenapa?” Tanya Ferdinan sinis.


“Aku tidak apa-apa. Ada apa pak?” Jingga kemudian berdiri dari ranjang.

__ADS_1


“Lu temani gua malam ini.” Ujar Ferdinan tanpa basa basi.


“Tolong pak, saya benar-benar tidak ingin ada keributan. Dirga sedang tidur, saya mohon bapak keluar dari kamar ini.” Balas Jingga dengan raut wajah kesalnya.


“Enak saja lu perintah-perintah gua. Ini rumah gua! Gua berhak mau di kamar mana saja.” Ferdinan seperti tak menghiraukan ucapan Jingga.


“Kalau begitu saya dan Dirga yang akan keluar dari kamar ini.” Jingga hendak menggendong Dirga, namun tiba-tiba tangan Ferdinan memeluknya dari belakang.


“Tolong lepasin pak! Saya mohon, jangan ganggu saya. Dirga sedang tidur.” Jingga berusaha dengan sekuat tenaga berontak. Namun dekapan Ferdinan terlalu kuat.


“Saya mohon jangan pak! Saya tidak seperti wanita yang bisa bapak bayar dan tiduri.” Jingga masih berusaha untuk menghindar dari ciuman Ferdinan.


“Dasar pel*cur! Lu jangan sok suci. Lu lupa sudah menghasilkan anak haram. Suami sendiri lu tolak.” Ferdinan mulai menampar dan menjambak rambut Jingga.


“Saya gak mau pak. Saya jijik..” Hanya kata-kata itu yang berkali-kali terlontar dari mulut Jingga.

__ADS_1


Jingga mulai kehabisan tenaga untuk menahan Ferdinan. Berkali-kali Ferdinan sudah melayangkan tangannya menampar Jingga. Merasa tidak punya pilihan lagi, akhirnya Jingga meraih vas bunga dari meja nakas di dekatnya dan langsung menimpukkan ke kepala Ferdinan. Ferdinan tersungkur berlumuran darah. Jingga segera menggendong Dirga dan lari keluar dari rumah.


Hastari yang melihat kejadian itu segera mengejar Jingga.


“Jingga mau kemana?” Tanya Hastari memperhatikan pakaian Jingga yang compang camping dan tangannya yang berlumuran darah.


“Maaf mba. Aku memukul pak Ferdinan dengan vas bunga. Sekarang aku harus lari dari sini sebelum dia mengejar dan memukuliku lagi.” Jawab Jingga terisak-isak.


“Mba paham Jingga. Kamu pergilah sejauh mungkin. Ini mba ada uang sedikit untuk nanti di jalan.” Hastari menyodorkan segepok uang kertas pada Jingga.


“Terima kasih mba.” Balas Jingga sembari mengambil uang yang di berikan Hastari padanya.


Akhirnya Jingga dan Dirga pergi meninggalkan rumah itu. Ia berharap tidak akan pernah kembali lagi ke rumah itu. Setelah keluar dari rumah Ferdinan, Jingga seolah memiliki harapan baru. Ia tampak senang lepas dari mimpi buruknya. Jingga berniat ingin kembali ke kotanya dan bertemu kembali dengan Fandi.


*****

__ADS_1


__ADS_2