Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 47


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Jingga menangis. Jingga merebahkan kepalanya di bahu Fandi. Jingga tidak menyangka malam itu akan di usir oleh tantenya sendiri. Jingga merasa sangat menyesal keluar dengan Andre malam itu.


“Jingga.” Panggil Fandi. Jingga mengeratkan pegangan tangannya di pinggang Fandi. Jantung Fandi berdebar kencang. Ia terkejut Jingga tiba-tiba melakukan itu padanya.


“Fandi. Kamu tolong antarkan aku ke penginapan yang murah saja ya. Besok aku akan mencoba cari kos-kosan.” Ujar Jingga bicara dekat dengan telinga Fandi. Fandi mencoba menahan gelinya.


“Okee.” Balas Fandi singkat.


Sesampainya di sebuah wisma penginapan murah, mereka turun. Fandi membawa tas bawaan Jingga masuk ke dalam. Setelah mengambil kunci kamar, Jingga meminta Fandi untuk membantunya membawakan tasnya ke dalam kamar.


*****


“Fandi. Terima kasih ya. Kamu letakkan tasnya disitu saja. Aku sedikit pusing. Aku mau bersih-bersih dulu.” Jingga mulai oleng, namun Fandi dengan sigap memeganginya.


“Kamu sudah makan?” Tanya Fandi khawatir melihat wajah Jingga yang mulai pucat.


“Aku belum makan dari siang.” Jawab Jingga memegangi dahinya.


“Ooh ya, tadi pas kita ketemu di jalan, aku habis beli ini.” Fandi menunjukkan bungkusan berisi nasi goreng.


“Nasi goreng?” Tanya Jingga.


“Iya nasi goreng. Kalau kamu mau, kamu bisa makan ini.” Fandi menyodorkan bungkusan itu ke tangan Jingga.

__ADS_1


“Okee.. Aku bersih-bersih dulu. Kamu tunggu disini, kita makan bersama.” Jawab Jingga. Jingga kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi membersihkan tubuhnya.


Tidak lama setelah itu Jingga keluar dari kamar mandi. Fandi yang duduk di tepi ranjang sudah menyiapkan nasi goreng untuk mereka santap.


“Maaf, aku duduk disini. Kalau begitu aku pulang dulu. Kamu makan saja.” Ujar Fandi seraya berdiri hendak pergi.


“Jangan Fandi. Kamu disini saja ikut makan juga.” Jingga menarik lembut tangan Fandi. Fandi pun kembali duduk di tepi ranjang bersama Jingga.


Mereka berdua makan dengan lahapnya. Sesekali Fandi melirik Jingga. Namun Jingga tidak menyadarinya.


‘Cantik sekali.’ Bisik Fandi dalam hatinya.


“Ooh yaa Fandi, setelah lulus kamu lanjut kuliah atau kerja?” Tanya Jingga kepada Fandi.


“Aku Insya Allah lanjut kuliah. Karena kebetulan dapat beasiswa juga.” Jawab Fandi melirik Jingga.


“Iya, beberapa kali.” Jawab Fandi seadanya.


“Orang tua kamu gak marah kalau kamu masih di luar jam segini.” Tanya Jingga. Jingga tidak tahu kalau Fandi anak yatim piatu.


“Ibu bapak aku udah lama meninggal Jingga.” Jawab Fandi.


“Maaf Fandi, aku gak tahu. Berarti kita sama. Sama-sama gak punya orang tua lagi. Terus kamu tinggal sama siapa?” Tanya Jingga penasaran.

__ADS_1


“Aku tinggal di tempat kerja.” Jawab Fandi lagi.


“Jadi kamu kerja?” Tanya Jingga tak percaya. Jingga tampak mulai kagum pada Fandi.


“Iya, aku kerja. Dari awal masuk SMA aku sudah bekerja.” Balas Fandi.


“Pasti untuk membiayai kehidupan kamu kan?” Tanya Jingga lagi.


“Iya.” Jawab Fandi singkat.


“Aku salut sama kamu.” Jingga tersenyum melihat Fandi.


“Kamu baik, pintar, mandiri. Pasti pacar kamu bahagia pacaran sama kamu?” Ujar Jingga. Fandi tersedak mendengar ucapan Jingga.


“Huuk huk hukk..” Fandi tersedak. Ia segera mengambil air minum.


“Kamu kenapa Fandi? Maaf, aku salah ngomong ya?” Jingga mengelus-elus punggung Fandi.


“Gak, aku gak apa-apa kok. Aku kaget saja pas kamu bilang pacar. Aku belum punya pacar.” Jawab Fandi menatap tajam mata Jingga. Fandi tidak mau Jingga berpikir kalau dirinya sudah memiliki kekasih.


“Masa’?” Bisik Jingga tak percaya. Jingga tersenyum melirik Fandi dan Fandi pun ikut tersenyum.


“Aku memang belum punya pacar?” Jawab Fandi lagi.

__ADS_1


“Kenapa kamu gak pacaran saja sama Sonya?” Tanya Jingga penasaran. Jingga tahu kalau Sonya sangat menyukai Fandi.


*****


__ADS_2