
Tok tok tok..
“Tuan Fandi.” Panggil bu Yanti.
Fandi membuka matanya.
“Astagfirullah..” Fandi mengusap mukanya dengan kedua telapak tangannya.
“Iya bu. Sebentar lagi saya keluar.” Sahut Fandi.
“Syukurlah itu hanya mimpi.” Ujar Fandi menarik nafas.
“Aku tidak bisa membayangkan jika itu nyata. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Jingga. Karena jujur aku masih sangat mencintainya.” Lanjut Fandi memejamkan matanya mencoba untuk tenang.
Tidak lama setelah itu Fandi bangkit dari tempat tidurnya kemudian berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Fandi masuk ke kamar mandi dan mengguyur sekujur tubuhnya. Ia mencoba untuk menghapus ingatannya akan mimpi yang baru saja ia alami.
*****
Fandi keluar dari kamar mandi. Ia lalu mengenakan pakaiannya. Setelah selesai semuanya, ia kemudian menuju ruang makan. Betapa kagetnya Fandi ternyata disana sudah duduk pak Irwan menunggunya.
“Papa.” Sahut Fandi terkejut melihat kehadiran pak Irwan yang tiba-tiba.
“Fandi, kamu sudah bangun? Ayo sarapan!” Ujar pak Irwan menyuruh Fandi untuk duduk.
“Papa kapan sampainya?” Tanya Fandi gelagapan.
__ADS_1
“Papa baru sampai satu jam yang lalu. Maaf papa sudah sarapan duluan.” Jawab pak Irwan.
“Ii..iya pa.” Jawab Fandi semakin gugup.
“Laura mana? Kenapa tidak ikut sarapan sekalian?” Tanya pak Irwan lagi.
“Laura.. hhmm..” Fandi bingung harus menjawab apa pada pak Irwan.
“Apa Laura masih tidur? Kapan anak itu akan berubah? Bukannya dia yang bangun lebih dulu, tapi malah suaminya.” Celoteh pak Irwan.
Fandi hanya tersenyum dan memilih untuk diam. Fandi bingung harus mengatakan apa pada pak Irwan.
*****
‘Laura baru pulang.’ Bathin Fandi. Fandi menunduk malu pada pak Irwan.
“Fandi.. Fandi..” Nada suara Laura terdengar seperti orang yang teler.
“Laura!” Pak Irwan berdiri dari kursinya. Pak Irwan terkejut bukan main melihat Laura berjalan sempoyongan menuju ruang makan.
“Papa?” Laura ikut terkejut melihat pak Irwan.
“Jadi masih begini tingkah lakumu? Pulang pagi, padahal kamu sudah menikah. Papa malu Laura melihat kelakuanmu yang sama sekali tidak pernah terubah.” Ujar pak Irwan dengan nada sedikit keras. Pak Irwan terlihat sangat kecewa melihat kelakuan putri sematawayangnya itu.
“Papa, maafkan Laura pa.” Balas Laura berjalan ke arah pak Irwan.
__ADS_1
“Fandi, apa setiap hari Laura selalu begini?” Tanya pak Irwan pada Fandi. Fandi tak mampu berkata, ia hanya menunduk.
“Papa, maafkan Laura. Papa harus dengar penjelasan Laura.” Laura mencoba membela dirinya.
“Kamu mau papa mendengar penjelasan yang seperti apa Laura? Penjelasan tentang hubunganmu dengan pria bule itu? Papa pikir kamu bisa berubah. Papa sangat kecewa sama kamu Laura.” Lanjut pak Irwan.
“Papa please! Papa, aku mencintai Sam dan Sam juga mencintai aku. Tolong Papa mengerti sedikit saja! Beri aku kesempatan sekali saja untuk memilih jalan hidupku sendiri. Aku dan Fandi tidak bisa bersama pa. Kami tidak saling cinta. Tolong mengertilah pa!” Jelas Laura dengan nada mengiba pada pak Irwan.
“Selama ini papa sudah membiarkanmu menjalani kehidupan seperti yang kamu mau. Tapi sebagai orang tua papa hanya ingin kamu memiliki pendamping hidup yang baik. Papa hanya ingin kamu bahagia Laura.” Balas pak Irwan. Pak Irwan kembali duduk di kursinya.
“Laura pasti akan bahagia bersama Sam. Papa harus percaya. Tolong beri Laura kesempatan!” Bujuk Laura memohon pada pak Irwan.
Tiba-tiba pak Irwan memegangi dada sebelah kirinya dan terjatuh ke lantai.
“Papa!” Teriak Laura sembari menangis.
Fandi yang panik melihat kejadian itu segera mengangkat pak Irwan ke sofa.
“Laura, kita harus bawa papa ke rumah sakit.” Ujar Fandi.
“Iya Fandi.” Jawab Laura masih menangis.
Fandi dan Laura kemudian membawa pak Irwan ke rumah sakit terdekat. Sepanjang perjalanan Laura masih terus menangis. Laura tidak menyangka perdebatannya kali ini akan membuat pak Irwan drop.
*****
__ADS_1