Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 109


__ADS_3

Keesokkan paginya, Fandi sudah bersiap-siap untuk berangkat ke bandara. Sebelum berangkat Fandi dan Laura menyempatkan diri untuk sarapan bersama pak Irwan.


“Fandi, Laura. Papa berharap selama disana kalian bisa lebih bisa mengenal satu sama lain.” Ucap pak Irwan di sela makannya.


“Tenang saja pa! Aku akan buat Fandi senang berada disana.” Balas Laura tersenyum sinis pada Fandi.


“Laura, kamu jangan macam-macam! Bersikaplah selayaknya seorang istri. Papa tidak mau dengar kamu masih kelayapan dengan teman-temanmu disana.” Pak Irwan sedikit membentak, karena ia tahu betul maksud dari perkataan Laura barusan.


“Ya ya ya..” Jawab Laura mencibir sembari mengangkat alisnya.


“Papa tidak perlu khawatir. Aku akan membuat Laura menjadi istri yang baik dan penurut. Tenang saja pa!” Ucap Fandi menenangkan pak Irwan yang tampak kesal atas kelakuan Laura putrinya.


“Papa percaya kamu Fandi.” Balas pak Irwan tersenyum yakin pada ucapan Fandi.

__ADS_1


Usai sarapan, Fandi dan Laura meninggalkan hotel setelah berpamitan dengan pak Irwan. Mereka di antar oleh supir menuju bandara.


Selama perjalanan ke bandara, Laura tampak sibuk dengan ponselnya. Sedangkan Fandi fokus melihat ke jalanan.


Hari itu Fandi akan meninggalkan kota itu entah untuk beberapa lama. Kota dimana Fandi telah menemukan Jingga cinta pertamanya. Kota dimana tempat cinta mereka bermula. Dan kota dimana Jingga memilih untuk meninggalkannya pula.


Laura tiba-tiba melihat ke arah Fandi. Laura masih saja penasaran. Sesekali Laura mencibir ketika melihat ekspresi Fandi yang sedang menatap ke luar jendela mobilnya.


Sementara itu Fandi masih termenung menatap jalanan dari kaca jendela mobil. Fandi kembali teringat malam dimana ia dan Jingga bertemu di jalanan.


Bayangan Jingga telah melekat erat dalam benaknya. Bahkan Fandi sendiri tidak bisa memutuskan apakah ia akan melupakan Jingga kekasihnya itu. Fandi hanya mencoba menjalani kehidupannya sebagaimana mestinya.


Fandi menyerahkan semuanya kepada Tuhan pencipta alam. Ia yakin semua yang terjadi kepada dirinya dan Jingga adalah jalan yang terbaik yang di pilihkan Tuhan untuknya. Hanya saja Fandi masih butuh waktu sedikit demi sedikit untuk menerima kenyataan yang saat ini harus di jalaninya.

__ADS_1


Mau tidak mau Fandi harus menerimanya. Kenyataannya bukan Jingga lah yang menjadi istrinya, tapi Laura. Jingga telah memilih pria lain untuk di jadikan pendamping hidupnya. Hubungan mereka sekarang hanya tinggal kenangan. Meskipun dulu begitu indah. Yang harus di lakukan Fandi hanyalah mengikhlaskan Jingga dan mencoba untuk bahagia dengan kehidupannya sendiri. Seperti Jingga yang sudah lebih dulu bahagia dengan kehidupan barunya.


‘Selamat tinggal Jingga! Aku tidak pernah berpikir hubungan kita akan berakhir serumit ini. Semoga kamu selalu bahagia dan aku akan mencoba mengikhlaskanmu dan mengubur perasaan cinta ini.’ Gumam Fandi dalam hatinya. Fandi memegangi dadanya. Ia mencoba untuk menenangkan hatinya sendiri.


Hari itu Fandi telah memutuskan untuk menjalani hidupnya tanpa perasaan cintanya terhadap Jingga. Fandi tersenyum, hatinya mulai sedikit lega. Laura semakin heran melihat ekspresi Fandi yang tiba-tiba saja berubah.


“Kamu kenapa senyum-senyum Fandi? Kamu sehat kan?” Tanya Laura keheranan.


“Iya.” Jawab Fandi singkat sembari tersenyum berat pada Laura yang saat itu sudah menjadi istrinya.


‘Ternyata wanita ini yang menjadi pendamping hidupku!’ Gumam Fandi dalam hatinya sekilas menatap Laura kemudian mengalihkan pandangannya.


*****

__ADS_1


__ADS_2