
Beberapa bulan lagi mereka menghadapi Ujian Nasional. Fandi dan Riko lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Sepulang sekolah mereka juga harus mengikuti pelajaran tambahan.
Biasanya sebelum sampai di kelas, Fandi selalu melewati kelas Jingga dulu. Namun semenjak Riko dan Novi pacaran, Fandi mulai sering ikut Riko main ke kelas Novi. Karena Novi dan Jingga memang satu kelas, jadi Fandi sengaja memanfaatkan kesempatan itu untuk bisa lebih sering melihat Jingga.
Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Jingga tampak biasa saat bertemu dengan Fandi. Jingga masih seperti tak pernah mengenal Fandi. Biasanya Jingga tersenyum ketika bertemu dengan Fandi. Namun sekarang setiap kali Fandi melihatnya, Jingga selalu memalingkan mukanya.
‘Kamu kenapa Jingga? Aku salah apa?’ Tanya Fandi dalam hatinya. Fandi sudah mulai terang-terangan menatap Jingga meskipun dari kejauhan. Ia ingin Jingga tahu bahwa tatapannya itu bukan hanya sekedar tatapan biasa.
Setelah bel masuk pelajaran tambahan berbunyi, Fandi dan Riko bergegas ke kelas mereka. Sebelum berbalik, Fandi kembali menoleh ke arah Jingga.
‘Fandi kamu kenapa sih menatap aku seperti itu?’ Jingga bertanya-tanya dalam hatinya.
__ADS_1
Mereka mengikuti pelajaran tambahan dengan serius di kelas masing-masing. Fandi sangat bersemangat, karena sebentar lagi mereka akan segera lulus dari SMA. Ia sudah mempersiapkan dirinya untuk kuliah dan tetap lanjut bekerja.
Setelah selesai mengikuti pelajaran tambahan. Fandi dan Riko kembali ke kelas Novi. Karena seperti biasa Riko menjemput sang kekasihnya ke kelas dulu dan mengantarnya sampai ke parkiran. Fandi yang tidak melihat keberadaan Jingga, menoleh ke kiri ke kanan mencari-cari. Namun tidak berhasil menemukan Jingga.
Mereka lanjut berjalan menuju parkiran. Setelah mengantar Novi sampai ke mobilnya. Fandi dan Riko kemudian masuk ke dalam mobil mereka. Saat sampai di gerbang Fandi mendapati Jingga sedang naik ke motor seorang laki-laki. Fandi kembali kesal dan mengepalkan tangannya. Motor yang di naiki Jingga jalan dan mulai melesat menghilang.
*****
“Gak apa-apa Rik. Lagian gue sudah biasa melihat hal seperti itu.” Balas Fandi dengan rasa kecewa.
“Maaf ya bro. Perasaan baru saja dia putus sama cowok gila kemarin, habis itu seolah memberi lu harapan. Tapi ternyata sekarang dia malah jalan sama cowok yang baru lagi. Seolah-olah gak pernah terjadi apa-apa antara lu dan dia.” Ujar Riko menggelengkan kepalanya. Riko merasa Fandi layak mendapatkan gadis yang jauh lebih baik dari Jingga.
__ADS_1
“Sudahlah Rik. Gak usah di bahas. Gue sadar diri kok.” Balas Fandi lagi.
“Bukan gitu bro. Gue berpikir lu pantas mendapatkan cewek yang jauh lebih baik dari Jingga. Gue yakin di luar sana masih banyak cewek yang jauh lebih cantik dari Jingga bro.” Ucap Riko menyemangati Fandi agar tidak terpaku hanya pada Jingga.
“Lu benar Rik.” Ucap Fandi lesu.
“Mungkin memang sangat banyak perempuan di luar sana yang jauh lebih cantik dan baik dari Jingga. Tapi hati gue sudah terlanjur untuk dia Rik. Gue gak pernah memilih kepada siapa gue akan jatuh cinta, tapi hati ini yang memilih Jingga. Dia yang memilih sendiri.” Jelas Fandi seraya meletakkan telapak tangannya di dada sebelah kirinya.
Fandi memang berkali-kali merasa sakit hati ketika melihat Jingga bersama laki-laki lain. Tapi ia tidak pernah menyerah dan putus semangat. Ia malah menjadi semakin termotivasi untuk lebih giat lagi belajar agar ia bisa secepatnya lulus dan sukses.
‘Aku gak perduli Jingga, sesakit apapun hati ini melihat kamu dengan yang lain. Aku tetap ingin kamu. Setelah aku sukses dan layak untukmu, aku akan datang dan menjadikanmu pendamping hidupku selamanya.’ Ujar Fandi dalam hatinya.
__ADS_1
*****