
“Mama cantik sekali. Bajunya bagus.” Dirga memperhatikan Jingga yang sedang mengenakan kebaya pengantin berwarna putih
Hari itu agenda mereka adalah fitting baju pengantin. Selain Jingga dan Fandi, Dirga juga ikut untuk fitting baju.
“Terima kasih Dirga sayang. Dirga juga makin tampan dengan baju itu.” Balas Jingga membelai puncak kepala Dirga.
Tidak berapa lama kemudian Fandi menghampiri Jingga dan Dirga yang sedang asyik bicara.
“Dirga.. Ganteng sekali anak papa ini.” Fandi menarik Dirga lalu menggendongnya.
‘Dirga benar-benar mirip sekali dengan Fandi.’ Pikir Jingga dalam hati.
“Mama kenapa senyum-senyum?” Tanya Dirga heran melihat Jingga yang senyum-senyum melihatnya.
“Tidak ada apa-apa sayang. Mama terpesona melihat kalian berdua. Hehehee..” Jawab Jingga tertawa kecil.
“Jingga, kami mirip sekali bukan?” Tanya Fandi mengangkat alisnya.
“Iya, mirip sekali.” Jawab Jingga masih dengan senyumnya.
“Kok Dirga bisa mirip sekali ya sama papa Fandi?” Dirga memperhatikan wajahnya dan Fandi di cermin.
Jingga hanya diam mendengar perkataan Dirga. Ia bingung harus berkata apa.
__ADS_1
“Ya tentu saja mirip. Dirga kan anak papa Fandi.” Jawab Fandi tanpa basa basi.
“Benarkah?” Dirga tersenyum penuh harap.
“Iya Dirga. Dirga adalah anak papa Fandi dan mama.” Balas Fandi meyakinkan.
“Lalu daddy?” Tanya Dirga lagi.
“Daddy bukan siapa-siapa Dirga. Dirga hanya anak papa Fandi. Anak kandung papa.” Fandi mencubit hidung Dirga dengan lembut.
“Papa, anak kandung itu apa?” Tanya Dirga penasaran.
“Anak kandung itu artinya ee..e.. Iya pokoknya Dirga anak papa Fandi.” Jawab Fandi gelagapan. Ia bingung bagaimana menjelaskannya pada Dirga yang masih sangat kecil dan belum mengerti apa-apa.
Dirga akhirnya mengangguk dan tak lagi bertanya meskipun ia belum paham.
*****
Setelah selesai fitting baju, Fandi mengajak Jingga dan Dirga makan siang. Fandi sengaja membawa Jingga dan Dirga makan di restoran dimana ia dan Jingga dulu pernah makan.
“Ayo Dirga! Kita makan seafood.” Ajak Fandi.
Mereka turun dari mobil masuk ke dalam restoran.
__ADS_1
“Dirga tahu gak kalau mama suka sekali makan seafood disini?” Tanya Fandi saat mulai duduk.
“Dirga gak pernah tahu papa. Mama gak pernah cerita.” Jawab Dirga memanyunkan bibirnya pada Jingga.
“Dulunya sayang. Dulu mama sering makan disini sama almarhum kakek dan nenek kamu.” Ujar Jingga membelai pipi anaknya.
“Ooh.. Kalau sama papa?” Tanya Dirga penasaran.
“Sama papa pernah satu kali.” Jawab Jingga sembari melihat buku menu yang ada di atas meja.
“Kok gak ajak Dirga sih?” Dirga kembali memanyunkan bibirnya pada Jingga.
“Dirga belum lahir lah sayang. Waktu itu mama sama papa masih pacaran.” Fandi ikut menjelaskan pada Dirga.
“Iya Dirga. Itu sudah lama sekali. Waktu itu papa traktir mama makan disini.” Jingga tersenyum melirik Fandi.
“Ooh.. Itu artinya mama sama papa dari dulu sudah saling sayang ya? Sebelum ada Dirga pun begitu kan?” Meski masih kecil Dirga berusaha mencerna maksud kata-kata Jingga dan Fandi.
“Pintar sekali anak papa. Karena mama dan papa dari dulu saling sayang, makanya Dirga ada.” Balas Fandi membelai puncak kepala Dirga.
“Dirga beruntung punya mama dan papa seperti sekarang. Mama dan papa saling sayang. Sama Dirga mama dan papa juga sayang banget.” Celetuk Dirga memegangi kedua pipinya.
“Mama dan papa juga sangat beruntung punya Dirga.” Imbuh Jingga tersenyum pada Dirga.
__ADS_1
*****