
Fandi dan Riko bergegas pulang, karena seperti biasa Fandi harus langsung bekerja.
Namun belum sampai parkiran, ia melihat Jingga di panggil oleh Fatma. Fatma yang sedang bersama teman-temannya mengerjai Jingga. Mereka bilang ini hukuman karena Jingga terlalu cari perhatian saat unjuk bakat di kelas tadi. Padahal yang terlihat Jingga biasa saja, ia bahkan mencoba untuk sesederhana mungkin.
“Sekarang kamu tirukan bagaimana suara dan gerakan bebek!” Fatma berteriak memerintah Jingga. Dan dengan patuhnya Jingga menurutinya. Jingga mulai menirukan suara dan gerekan bebek. Mereka dan semua yang melihat tertawa terbahak-bahak. Fandi merasa sangat kesal sekali dengan kelakuan para seniornya. Tapi apa daya Fandi tidak bisa berbuat apa-apa.
Seaampainya di warung Fandi segera turun dari motor Riko dan langsung bergegas masuk ke dalam warung.
“Terima kasih yaa Rik. Gue langsung masuk.” Fandi mengangkat tangannya seraya meninggalkan Riko dan bergegas masuk ke dalam. Kemudian ia segera mengganti pakaian dan mulai bekerja.
Fandi sangat rajin bekerja. Semua pekerjaan di warung makan bisa ia lakukan. Ia tidak pernah hitung-hitungan dalam bekerja. Dari mengantar pesanan, mengambil minuman, membersihkan meja hingga mencuci piring. Oleh karena itu ibu Romlah masih memperkerjakannya.
“Fandi.” Panggil bu Romlah yang sedari tadi memperhatikan pekerjaan Fandi.
“Iya bu.” Fandi segera mendekat.
__ADS_1
“Kamu sudah makan?” Karena bu Romlah melihat Fandi sepulang sekolah langsung mulai bekerja.
“B..belum bu.” Jawab Fandi terbata-bata.
“Kamu masuk dulu makan di belakang. Biar sobri yang lanjutin.” Fandi menuruti bu Romlah kemudian bu Romlah memanggil pegawainya yang lain untuk menggantikan Fandi.
Fandi mulai makan dan tidak lupa membaca doa. Akhirnya rasa lapar Fandi sudah hilang dan ia merasa bersemangat lagi untuk melanjutkan pekerjaannya.
*****
“Hufft.. Kak Fatma benar-benar keterlaluan.” Jingga masuk ke dalam rumah dengan langkah kakinya yang berat. Jingga selalu saja di kerjai oleh Fatma. Jingga merasa ia tidak pernah berlebihan dalam bersikap, tapi Fatma selalu mengatakan jika Jingga selalu cari perhatian di sekolah.
“Ini udah yang ketiga kalinya.” Jingga menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan dengan kasar. Jingga merasa bosan selalu di kerjai oleh para seniornya yang perempuan.
“Jingga kamu kenapa nak?” Seorang wanita muda mendekatinya. Wanita itu adalah Mamanya Jingga ibu Sofi. Jingga adalah anak satu-satunya. Jingga sangat manja di rumah, berbeda saat di sekolah yang terlihat dewasa.
__ADS_1
“Iyaa Ma, aku udah 3 kali di kerjai sama seniorku.” Jingga memanyunkan bibirnya. Ibu Sofi mendekati anaknya itu lalu memeluknya. Sesekali bu Sofi mengelus rambut anak perempuannya yang manja itu.
“Mama mengerti sayang. Tapi itulah resikonya kalau anak mama ini terlalu cantik dan imut.” Ibu Sofi menenangkan Jingga dengan memujinya. Wajah Jingga berubah merah karena Malu.
“I love you Ma. Aku ganti baju dulu.” Jingga meninggalkan mamanya menuju kamar. Bu Sofi selalu bisa jadi penenang hati anak dan suaminya.
“Hai tanteku yang cantik.” Sapa Windy sahabat sekaligus sepupu Jingga. Windy langsung masuk ke kamar Jingga. Karena memang Windy sudah terbiasa keluar masuk ke rumah itu.
“Kamu baru pulang mpus?” Mpus memang adalah panggilan sayang dari Windy untuk Jingga sahabatnya. Sedangkan ia memanggil Windy dengan sebutan ucing.
“Kamu kapan sampai cing?” Jingga balik bertanya tanpa menoleh. Jingga sudah tidak kaget lagi kalau Windy langsung masuk ke kamarnya.
“Mpus, kita jalan yuk?” Ajak Windy.
*****
__ADS_1