Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 116


__ADS_3

Dua tahun berlalu, Fandi dan Laura menjalani pernikahan tidak seperti pernikahan pada umumnya. Fandi menjalani kehidupannya seperti biasa. Begitu pun sebaliknya, Laura menjalani kehidupannya sama seperti ketika belum menikah. Fandi memilih untuk tidak mau pusing dengan gaya hidup Laura, karena memang Fandi sadar betul mereka tidak saling mencintai.


Hari itu Laura kembali pulang pagi, sama seperti hari-hari sebelumnya. Laura selalu bersenang-senang di club malam dan pulang pagi harinya.


“Kamu pulang pagi lagi?” Sahut Fandi berpapasan dengan Laura di ruang tengah.


“Iya.” Jawab Laura ragu-ragu.


“Happy semalaman sama si Sam?” Kali ini Fandi menyindir Laura terang-terangan.


“Bukan urusanmu!” Balas Laura ketus.


“Ya memang bukan urusanku. Tapi kenapa tidak menikah dengannya saja?” Ujar Fandi mengangkat alisnya.


“Memangnya kenapa?” Laura balik bertanya.


“Aku kasihan saja dengan wanita sepertimu. Setiap hari tidur dengan pria itu, tapi tidak mau menikah.” Balas Fandi mencibir.


“Siapa bilang aku tidak mau menikah? Dari dulu aku memang ingin menikah dengan Sam, tapi Papa tidak pernah setuju di tambah dengan kehadiranmu semuanya menjadi kacau.” Laura meluapkan semua yang ada di hatinya selama ini. Laura yang biasanya selalu terlihat santai kali ini menitikkan air mata. Fandi terdiam mendengar ucapan Laura.


“Apa sekarang kamu mau bebas?” Tanya Fandi. Ia mulai mendekati Laura dengan raut wajah yang serius.

__ADS_1


“Maaf Fandi. Aku sangat mencintai Sam. Kami sudah berhubungan 3 tahun dan hubungan kami sangat intim.” Jawab Laura.


“ Aku sudah tahu. Kamu tidak perlu menjelaskannya.” Balas Fandi.


“Kita sudah menikah 2 tahun. Sebentar lagi papa juga akan memberikan saham perusahaannya masing-masing setengahnya pada kita. Lalu untuk apa lagi kita berpura-pura menjalani pernikahan ini?” Ujar Laura serius.


“Apa kamu sudah yakin ingin berpisah?” Tanya Fandi lagi.


“Aku sangat yakin Fandi.” Jawab Laura dengan santainya.


“Baiklah. Aku akan mengurus semuanya.” Balas Fandi menyetujui keinginan Laura.


Mereka diam untuk beberapa saat sampai akhirnya Laura kembali memulai pembicaraan dengan bertanya pada Fandi.


“Kenapa aku perlu memberitahumu?” Fandi balik bertanya.


“Jawab saja.” Laura memanyunkan bibirnya.


“Okee.. Karena kamu memaksa. Aku akan kembali ke Indonesia. Aku akan memulai semuanya dari awal lagi disana. Aku sudah sangat rindu hidup di negara sendiri.” Jawab Fandi tampak tenang.


“Aku minta maaf Fandi. Selama ini kita selalu berdebat. Aku tidak pernah menghargaimu sebagai suami dan juga tidak pernah menjalankan tugasku sebagai istri.” Laura pura-pura merasa bersalah selama ini selalu menganggap Fandi musuhnya.

__ADS_1


“Tidak masalah. Aku tidak pernah ambil hati.” Balas Fandi datar.


“Terima kasih.” Lanjut Laura. Kali ini Laura menggenggam tangan Fandi.


“Tidak apa-apa. Semoga kamu bahagia Laura!” Fandi tersenyum pada Laura sembari melepaskan tangannya dari genggaman tangan Laura.


“Terima kasih Fandi untuk doamu.” Laura membalas senyuman Fandi.


“Aku rasa hanya wanita bodoh sepertiku yang mencampakkan pria baik sepertimu.” Lanjut Laura, seketika Fandi berhenti tersenyum dan mulai melotot pada Laura.


“Maksudmu? Kamu mencampakkanku?” Tanya Fandi menatap tajam Laura. Fandi merasa tak terima dengan ucapan Laura.


“Hahahaaa.. Iya, lalu apa namanya? Memang aku yang mencampakkanmu. Hahahaaa..” Jawab Laura dengan bangganya.


“Bukan. Bukan kamu yang mencampakkanku. Tapi ini kesepakatan kita berdua.” Balas Fandi tak mau kalah.


“Sudahlah Fandi. Akui saja!” Lanjut Laura tersenyum jahil melihat ekspresi Fandi.


“Tidak!” Sahut Fandi meninggalkan Laura dengan perasaan jengkel.


“Akui saja! Hahaaahaa..” Laura tetap tak mau kalah.

__ADS_1


Pembicaraan mereka selalu di akhiri dengan perdebatan. Fandi tetap berlalu dari Laura, keluar dari rumah masuk ke mobilnya. Ia tak lagi menanggapi ucapan Laura. Sedangkan Laura naik ke lantai atas sambil tertawa mengingat raut wajah Fandi.


*****


__ADS_2