
Sesampainya di kosan, Jingga mengganti pakaian dan seperti biasa berbaring sambil memainkan ponselnya. Jingga mengecek apakah ada pesan masuk dari Fandi.
“Fandi, kik gak meemberi kabar sih?” Jingga menggerutu sendiri.
Biasanya Fandi selalu menghubunginya. Tapi kali ini belum juga ada panggilan atau pesan masuk dari Fandi. Jingga mengecek ponselnya tiap sebentar berharap akan ada panggilan masuk.
“Fandi kamu sedang apa sih? Kenapa gak telepon?” Jingga makin geram. Jingga ingin sekali menghubungi Fandi terlebih dahulu, tapi Jingga merasa gengsi.
Satu jam berlalu Fandi tak kunjung menghubungi Jingga. Jingga merasa lapar dan akhirnya ia memutuskan untuk memasak sebungkus mie instan untuk mengganjal perutnya.
“Biasanya kamu selalu membawakan makan siang. Tapi siang ini kamu.” Ucap Jingga lirih.
Tiba-tiba Jingga menangis. Jingga mulai sensitif dan mudah sekali menangis bila merasa sedikit saja tidak di perhatikan oleh Fandi.
Setelah menghabiskan mie instannya, Jingga memilih untuk tidur siang. Jingga tidak mau memikirkan hal-hal aneh tentang Fandi. Karena Jingga percaya kekasihnya itu tidak mungkin mengecewakannya.
*****
Malam harinya Fandi sudah mempersiapkan sebuah kejutan untuk Jingga. Ia sengaja menunggu pukul 12 malam bertepatan dengan pergantian hari. Fandi sengaja menahan diri untuk tidak menghubungi Jingga seharian itu.
__ADS_1
Sebelum sampai di kosan Jingga, Fandi sudah lebih dulu mematikan mesin motornya. Ia tidak ingin Jingga mengetahui kedatangannya. Setelah meletakkan motornya di parkiran, Fandi membuka pintu kamar Jingga dan masuk dengan mengendap-endap.
Betapa kagetnya Fandi melihat tubuh sang kekasih tergeletak di lantai. Fandi berlari segera mendekati Jingga. Ia mencoba membangunkan Jingga namun tidak ada respon dari Jingga. Akhirnya Fandi berinisiatif untuk mengangkat Jingga ke tempat tidur.
“Sayang.” Bisik Fandi. Kemudian Fandi mengambil minyak angin lalu mengusapkannya ke dahi dan hidung Jingga.
“Jingga, sayang. Aku disini. Bangun sayang.” Ucap Fandi lirih.
Fandi sangat khawatir dengan kondisi sang kekasih. Ia kemudian membuka baju Jingga dan mengusapkan minyak angin di dada Jingga. Jingga masih tidak merespon. Tanpa pikir lagi Fandi mencium bibir Jingga dan menghembuskan nafasnya seolah memberikan nafas buatan. Seketika Jingga terbatuk.
“Huukkk.. hukkk..” Jingga terbatuk.
“Fandi.” Balas Jingga lemas.
“Maafkan aku Jingga.” Lanjut Fandi. Ia menatap tajam mata Jingga.
“Kepalaku pusing.” Balas Jingga seraya memegangi kepalanya.
“Sini aku pijit.” Fandi kemudian memijit kepala Jingga.
__ADS_1
“Fandi, kamu kenapa gak menghubungi aku seharian ini?” Tanya Jingga memanyunkan bibirnya.
“Aa..aku.” Fandi menjawab pertanyaan Jingga dengan terbata-bata. Ia baru ingat kalau ingin memberi kejutan untuk sang kekasih.
“Kamu kenapa? Apa yang kamu rahasiakan dari aku? Jujur.” Ucap Jingga lirih. Jingga merasa bahwa Fandi sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
“Apa kamu bosan sama aku?” Lanjut Jingga bertanya kepada Fandi. Fandi terkejut mendengar pertanyaan Jingga.
“Cup..” Fandi mengecup bibir Jingga dengan lembut penuh perasaan.
“Fandi.” Jingga melepaskan ciuman Fandi. Jingga merasa dadanya begitu sesak. Jingga takut Fandi akan meninggalkannya disaat sudah mulai mencintai Fandi.
“Cup..” Fandi kembali mengecup bibir Jingga.
“Jingga, pertanyaan apa itu?” Fandi balik bertanya menatap tajam mata Jingga.
“Kenapa kamu gak menjawab pertanyaanku? Aku takut kehilangan kamu Fandi. Aku takut pada akhirnya kamu bosan dan meninggalkan aku.” Ucap Jingga lirih. Matanya meneteskan air mata yang sudah tidak bisa lagi ia tahan. Jingga menangis tersedu-sedu.
“Jingga, coba kamu lihat ke dalam mataku.” Balas Fandi sembari menatap mata Jingga dalam-dalam.
__ADS_1
*****