
Sudah satu bulan Jingga pergi dari kehidupan Fandi tanpa kabar. Fandi masih tampak murung. Riko tanpa henti selalu mencoba menghibur Fandi.
“Ooii bro, melamun aja. Kita ngopi yuk?” Ajak Riko mencoba membuyarkan lamunan Fandi.
“Gue lagi malas Rik.” Balas Fandi tak bersemangat.
“Aduuh bro, lu gak boleh seperti ini terus. Kita ini laki-laki bro, kalau cewek ninggalin kita ya udah. Jangan bersedih bro!” Ujar Riko lantang. Namun Fandi merasa kesal dengan ucapan Riko dan menatap sinis ke arah sahabatnya itu.
“Tapi prinsip gue tidak seperti itu Rik. Lu sahabat gue. Seharusnya lu tahu seberapa besar gue mencintai Jingga.” Fandi meninggalkan Riko dengan penuh emosi.
Fandi memang mudah emosi setelah di tinggal Jingga. Karena ia masih belum bisa menerima kenyaataan bahwa Jingga sudah memutuskan untuk meninggalkannya dan menjadikan hubungan mereka hanya sebatas kenangan.
Riko merasa bersalah. Riko segera menghampiri Fandi dan meminta maaf.
__ADS_1
“Maaf bro. Gue gak bermaksud apa-apa. Gue cuma gak mau sohib gue larut dalam kesedihan seperti sekarang ini.” Ujar Riko merangkul pundak Fandi. Riko merasa bersalah karena ucapannya yang menganggap sepele masalah Fandi.
“Gue yang minta maaf Rik. Gue kacau! Sejak Jingga pergi gue jadi mudah emosi.” Balas Fandi. Ia juga merasa bersalah karena sudah marah kepada Riko.
“Gue paham perasaan lu bro. Sebagai sohib, gue cuma berpikir bagaimana supaya lu gak terlalu lama larut dalam rasa sedih lu ini.” Lanjut Riko.
“Padahal gue sangat mencintai dia Rik. Gue begitu mencintai dia. Gue sudah mencurahkan semua perasaan gue pada Jingga. Dan dia juga berjanji tidak akan meninggalkan gue. Kami sudah membayangkan setelah menikah nanti akan sangat bahagia dan mempunyai 2 orang anak. Tapi dalam sekejap semuanya hancur. Impian gue lenyap begitu saja.” Fandi menangis. Ia tampak begitu rapuh. Riko tidak tega melihat sahabatnya itu hancur. Riko kemudian memeluk Fandi.
“Sebenarnya Jingga sedang hamil Rik.” Ucap Fandi. Riko yang mendengar ucapan Fandi langsung terbelalak.
“Apa bro?” Tanya Riko terkejut.
“Iyaa Rik. Jingga sedang mengandung anak gue. Anak dari buah cinta kami.” Lanjut Fandi seraya menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
__ADS_1
“Lu dan Jingga?” Riko masih tampak tak percaya.
“Iya, gue mendapatkan Jingga dengan cara seperti itu. Gue memang jahat Rik. Itu karena gue sangat mencintainya dan ingin memiliki dia seutuhnya. Setelah malam itu Jingga menjadi milik gue dan gue berhasil membuat dia mau menikah dengan gue.” Fandi menceritakan semuanya kepada Riko. Karena Riko adalah sahabatnya yang bisa di percaya.
“Pantas saja bro. Waktu itu tiba-tiba lu pacaran dan bilang akan menikah dengan Jingga. Gue juga heran dengan tingkah Jingga yang begitu mudah mau menikah dengan lu. Ternyata kalian sudah anuan.” Balas Riko. Riko masih tak percaya ternyata hubungan Fandi dan Jingga sudah sejauh itu.
“Gue gak tahu harus mencari Jingga kemana lagi Rik?” Fandi memegangi kepalanya. Sesekali ia menarik rambutnya.
“Tenang aja bro! Dengan kondisi Jingga saat ini dia sedang labil, tapi dia pasti akan kembali sama lu. Karena bagaimana pun juga Jingga sedang mengandung anak lu.” Balas Riko menyemangati Fandi.
“Gue juga berharap begitu Rik.” Balas Fandi.
*****
__ADS_1