
“Heii bro.” Sahut Riko menghampiri Fandi.
“Heii Rik. Ayo duduk!” Balas Fandi.
“Lona?” Riko terkejut melihat Lona.
“Riko?” Lona pun terkejut melihat Riko yang ada di depan matanya.
Akhirnya Riko dan Lona bercerita. Mereka ternyata teman satu SMP. Lona terkenal saat di sekolah dulu. Ia cantik dan mudah bergaul. Setelah beberapa menit mereka bicara, Lona pamit karena ia masih ada kelas.
“Fandi, aku ke kelas dulu. Kapan-kapan kita ketemu lagi. Aku harap bisa bicara lebih banyak sama kamu.” Ujar Lona melambaikan tangan sembari meninggalkan Fandi dan Riko.
“Busyet! Itu Lona bro. Tapi lu cuekin?” Tanya Riko penasaran. Lona sosok wanita yang banyak di gandrungi pria. Karena selain cantik, Lona juga seksi.
“Biasa saja bro. Dia bukan tipe gue.” Jawab Fandi santai.
“Iya, gue tahu tipe lu kayak Jingga. Cantik dan anggun.” Balas Riko.
“Naah itu lu tahu!” Timpal Fandi.
“Tapi kan Jingga mau menikah bro. Bahkan mungkin sekarang dia sudah menikah sama laki-laki itu.” Ujar Riko mengingatkan.
__ADS_1
“Gue gak mau bahas itu Rik.” Balas Fandi.
“Tumben? Emang lu mau bicara apa sih? Serius amat kayaknya.” Tanya Riko mulai penasaran.
“Begini Rik, tadi gue di panggil salah satu dosen gue dan di minta untuk jadi assistennya di semester depan.” Ujar Fandi bersemangat.
“Yeeyy.. Selamat bro! Lu memang top markotop.” Seru Riko mengarahkan dua jempolnya kepada Fandi.
“Semua itu berkat Jingga.” Lanjut Fandi.
“Laahh... Kok Jingga?” Tanya Riko makin penasaran.
“Iya, gue lebih bersemangat seperti ini karena Jingga. Gue ingin cepat-cepat sukses Rik.” Ujar Fandi.
“Gak mungkin lah Rik. Gue gak akan mungkin melupakan Jingga. Jingga segala-galanya bagi gue.” Lanjut Fandi.
“Terus apa rencana lu bro?” Tanya Riko lagi.
“Gue akan menjadikan prestasi sekarang sebagai batu loncatan untuk meraih kesuksesan. Setelah selesai sekolah, gue akan bekerja lebih giat hingga sukses. Dan setelah sukses.” Jelas Fandi.
“Dan apa bro?” Tanya Riko penasaran.
__ADS_1
“Dan setelah sukses, gue akan bawa Jingga kembali ke pelukan gue Rik.” Lanjut Fandi tersenyum.
“Maksud lu bro?” Tanya Riko tidak mengerti dengan omongan Fandi.
“Gue akan rebut Jingga dari laki-laki yang saat ini mungkin sudan menjadi suami dia Rik.”Lanjut Fandi sembari menghembuskan nafasnya.
“Gila lu bro!” Timpal Riko menggelengkan kepalanya.
“Gue memang sudah gila Rik. Gila karena mencintai Jingga. Gue tergila-gila sama Jingga. Jingga hanya milik gue dan akan selalu menjadi milik gue.” Balas Fandi tersenyum berat.
“Segitu cintanya bro?” Tanya Riko.
“Gue yakin lu tahu jawabannya Rik. Hanya Jingga! Tidak akan ada lagi yang lain.” Balas Fandi lagi.
“Lu gak capek kecewa bro? Maaf bro. Tapi saran gue sebaiknya lu coba mengikhlaskan Jingga, biar hidup lu lebih tenang dan damai bro.” Ujar Riko mencoba menyadarkan Fandi agar tidak salah jalan.
“Terserah bagaimana lu menganggapnya Rik. Tapi ini adalah cinta pertama gue dan akan gue perjuangkan agar menjadi cinta terakhir dalam hidup gue Rik.” Balas Fandi.
“Gue gak bisa berkata apa-apa lagi bro. Intinya gue sebagai sohib selalu mendukung lu.” Balas Riko merangkul Fandi.
“Terima kasih Rik. Suatu saat lu akan paham dengan kegilaan gue ini. Heheheee...” Fandi kemudian tertawa kecil.
__ADS_1
“Heheheheee... Iya Iya.” Riko ikut tertawa.
*****