Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 99


__ADS_3

Lona mengeluarkan jagung bakar yang telah di belinya tadi dari dalam kantong plastik. Lona menyuruh teman-temannya untuk mengambil masing-masing satu. Lona juga tidak lupa menawarkan kembali pada Fandi.


Mereka semua menikmati jagung bakar yang telah di beri bumbu pedas dengan sangat lahap. Fandi yang merasa sudah kenyang tidak berminat lagi untuk ikut menyantapnya.


“Fandi. Kamu gak ikut makan?” Tanya Lona menghampiri Fandi yang sedang berdiri di pinggir kapal menatap ke laut.


“Aku sudah kenyang.” Jawab Fandi singkat.


“Kamu memikirkan apa?” Tanya Lona yang kini telah berdiri di samping Fandi.


“Aku tidak memikirkan apa-apa.” Jawab Fandi lagi.


“Kamu kenapa tidak ikut makan bersama yang lain?” Kali ini Fandi yang bertanya pada Lona.


“Karena disana tidak ada kamu. Makanya aku kesini.” Jawab Lona tersenyum penuh makna menatap Fandi.


“Kenapa kamu masih seperti ini Lona?” Tanya Fandi menatap balik Lona.

__ADS_1


“Aku sudah bilang Fandi. Aku menyukai kamu. Dan mungkin sudah jatuh cinta.” Jawab Lona mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Fandi.


“Bukankah aku sudah menjelaskan padamu.” Fandi menarik wajahnya menjauh dari Lona. Ia tidak ingin tergoda oleh Lona. Ia tahu persis bagaimana Lona selalu berhasil menggoda pria dengan pesonanya.


“Aku tahu. Dan aku sampai sekarang masih tidak perduli.” Jawab Lona santai.


“Hhmmmm..” Fandi menarik nafasnya dalam-dalam kemudian mengeluarkannya dengan sangat kasar.


“Fandi. Beri aku kesempatan. Tolong coba buka hatimu untukku.” Pinta Lona memohon seraya tangannya mulai menggapai tangan Fandi dan menggenggamnya.


“Kenapa? Tidak akan sulit Fandi. Aku akan membuatmu segera jatuh cinta padaku.” Ujar Lona meyakinkan Fandi.


“Aku tidak bisa mengkhianati cintaku pada Jingga.” Balas Fandi tegas pada Lona.


“Apakah kamu bisa jamin Jingga disana tidak mengkhianati cinta kalian?” Tanya Lona mencoba mengusik keyakinan Fandi.


“Aku yakin. Bahkan sangat yakin Jingga tidak akan pernah mengkhianatiku. Karena hubungan kami sudah sangat jauh dan tidak akan semudah itu kandas.” Fandi mencoba untuk menjawab pertanyaan Lona dengan tenang.

__ADS_1


“Apa kalian sudah tidur bersama?” Tanya Lona penasaran. Lona memaksa Fandi untuk menatap matanya.


“Iya. Hubungan kami sudah sangat jauh dan intim. Aku begitu mencintainya dan dia juga begitu mencintaiku. Bahkan Jingga sedang mengandung anak kami.” Jawab Fandi menunduk. Lona terkejut mendengar pengakuan Fandi. Lona mulai paham alasan Fandi begitu mencintai Jingga dan selalu mempertahankan hubungannya dengan Jingga.


“Tapi bukankah Jingga di Australia. Jika dia hamil kenapa kalian tidak menikah saja?” Tanya Lona makin penasaran.


“Aku sangat ingin sekali menikahinya. Tapi kesalahpahaman waktu itu membuat Jingga marah dan pergi meninggalkanku hingga sekarang.” Jawab Fandi dengan mata berkaca-kaca. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak menetes. Dadanya kembali terasa sesak setiap kali mengingat saat-saat Jingga pergi darinya.


“Aku sekarang paham Fandi. Pantas saja Jingga begitu sangat berarti bagi kamu.” Balas Lona tersenyum.


“Karena itulah aku ingin sukses secepat mungkin, agar bisa membawanya kembali dan meyakinkannya untuk mau menikah denganku.” Lanjut Fandi.


“Aku akan mendoakan agar masalah kamu dan Jingga menemui titik terang dan kalian bisa bersama lagi.” Imbuh Lona menepuk pundak Fandi menenangkannya.


“Terima kasih Lona. Kamu gadis yang baik, kamu pantas dapat pria yang lebih baik dari aku.” Seru Fandi tersenyum menatap Lona.


*****

__ADS_1


__ADS_2