
“Hallo..” Suara Ferdinan di ujung telepon.
“Iya hallo. Apa ini benar dengan pak Ferdinan?” Tanya Fandi memastikan.
“Iya. Ini siapa?” Ferdinan bertanya balik pada Fandi.
“Saya teman Jingga.” Jawab Fandi.
“Ooh.. Ada apa menghubungi saya?” Tanya Ferdinan agak sinis.
“Maaf jika saya ikut campur masalah rumah tangga bapak dan Jingga. Tapi saya rasa anda sudah sangat keterlaluan menghina Jingga. Tidak sepantasnya seorang suami berkata sedemikian kasarnya.” Fandi mengutarakan maksudnya menelepon. Ferdinan terdiam sejenak.
“To the point saja.. Lu siapa tu wanita? Laki barunya?” Ucapan Ferdinan tambah menyulut emosi Fandi.
“Saya bukan siapa-siapa Jingga. Tapi saya sangat menghargai seorang wanita.” Fandi masih berusaha tetap tenang menghadapi Ferdinan meski ia sudah mulai emosi.
__ADS_1
“Haalaah.. Gak usah sok membela dia. Lu tahu wanita macam dia gak pantas di hargai.” Balas Ferdinan masih merendahkan Jingga.
“Terlepas dari apapun itu, tidak seharusnya anda menghina seorang wanita apalagi istri anda sendiri.” Fandi masih gigih membela Jingga.
“Gua tahu siapa lu? Lu udah tergoda sama dia? Hati-hati! Dia cuma morotin harta lu. Kayak gua bertahun-tahun ngasih makan dia & anaknya, tapi sekalipun gak mau melayani gua. Gak beda jauh sama gua melihara bud*k.” Ferdinan semakin menjadi-jadi menghina Jingga. Fandi masih berusaha untuk tenang tidak terpancing emosi.
“Memberi makan istri dan anak bukankah memang kewajiban anda sebagai seorang suami dan ayah?” Tanya Fandi dengan nada sinis.
“Lu gak usah membela pel*cur sialan itu. Kewajibannya sebagai istri saja tidak ia penuhi. Dia cuma mau di kasih makan, tapi gak mau berc*nta sama gua suaminya. Siapa yang tahan 5 tahun menikah tidak pernah sekalipun melayani gua di ranjang. Tapi sama laki-laki lain malah menghasilkan anak har*m.” Ferdinan makin tak karuan membukakan aib Jingga.
“Iya, anak har*m. Dia bunting sama orang lain. Gua nikahi dia setelah anak har*mnya lahir. Lu kalau mau sama dia silahkan! Gua juga sudah tidak butuh samp*h seperti dia. Gua bisa dapat yang jauh lebih cantik dari itu. Buat apa cantik, tapi gak bisa gua nikmati.” Ferdinan melanjutkan perkataannya.
‘Berarti benar Dirga adalah anakku.’ Batin Fandi. Fandi terdiam untuk beberapa saat.
“Kenapa lu diam? Lu minat sama tu wanita. Saran gua, lu buntingin dulu dia baru nikahi. Kalau gak nasib lu bakal sama kayak gua!” Ujar Ferdinan masih merendahkan Jingga.
__ADS_1
“Saya malah merasa kasihan pada Jingga. Kenapa dia bisa menikah dengan pria seperti anda? Seharusnya dia bisa dapat suami yang baik dan bisa menghargainya.” Balas Fandi dengan nada yang sinis.
“Hahahaaa.. Untung gua mau nikahi dia. Siapa yang mau menikahi samp*ah?” Ferdinan tampak bangga dari nada bicaranya.
“Salah besar! Anda yang beruntung memiliki istri seperti Jingga. Karena tidak ada wanita cantik yang mau menikah dengan pria tua yang kasar seperti anda.” Ujar Fandi tanpa ragu-ragu.
“Bangs*t! Lu berani ngatain gua. Lu gak tahu siapa gua?” Tanya Ferdinan meledak-ledak.
“Anda yang tidak tahu siapa saya? Saya jamin anda akan menyesal, karena telah berani menghina dan menyakiti Jingga dan Dirga.” Tantang Fandi kemudian menutup teleponnya.
Belum sempat Ferdinan merespons, Fandi sudah menutup teleponnya. Fandi tampak marah mendengar semua perkataan Ferdinan yang terang-terangan menghina Jingga dan Dirga.
“Dirga adalah anakku.” Fandi semakin yakin setelah mendengar langsung dari Ferdinan. Ia bergegas kembali masuk ke kamar menemui Dirga yang ternyata adalah anaknya.
****
__ADS_1