
Satu minggu sudah berlalu. Ujian Nasional pun telah berakhir. Fandi merasa sangat lega. Ia sudah tidak sabar ingin secepatnya lulus SMA dan melanjutkan pendidikannya ke Perguruan Tinggi. Tapi sebelum itu ia berniat akan menikahi Jingga sang pujaan hatinya terlebih dahulu.
Besok adalah ulang tahun Jingga, Fandi ingin sekali memberikan hadiah untuk Jingga. Tapi ia bingung akan membeli apa.
“Rik, besok Jingga ulang tahun. Bagusnya gue beri Jingga hadiah apa ya?” Fandi menanyakan pendapat Riko, karena Riko selalu punya ide. Lebih-lebih yang berhubungan dengan cewek.
“Hhhmmm.. Kalau menurut gue kasih boneka aja.” Jawab Riko seolah berpikir.
“Haalaahh.. Jangan boneka. Boneka itu sudah biasa. Yang lebih spesial lah Rik.” Balas Fandi kurang setuju dengan ide Riko.
“Apa ya?” Riko memegangi keningnya berpikir lebih keras.
“Kalau gue belikan kalung bagaimana menurut lu?” Tanya Fandi. Ia ingin sekali memberi hadiah yang berharga untuk Jingga kekasihnya.
“Ya bagus. Gue setuju. Cewek itu selalu suka perhiasan. Cewek lu pasti suka banget bro.” Balas Riko setuju dengan pendapat Fandi.
“Oke.. Gue belikan itu saja.” Ujar Fandi Mantap.
“Lah itu lu punya ide yang lebih cemerlang. Malah tanya gue? Heheheee..” Celetuk Riko seraya tertawa.
__ADS_1
“Heheheee.. Gue tanya pendapat lu Rik, karena gue menghargai lu sebagai sohib gue.” Balas Fandi.
“Hiks.. hiks.. Gue terharu bro.” Balas Riko lagi.
“Lebay lu.” Fandi menjitak kepala Riko.
Sesaat setelah membahas soal hadiah, Jingga datang menghampiri Fandi di kelasnya. Karena ujian telah selesai, Jingga ingin mengajak Fandi untuk pulang.
“Haii Riko.” Sapa Jingga melambaikan tangannya kepada Riko.
“Haii Jingga.” Balas Riko.
“Fandi, ayo kita pulang!” Ajak Jingga sembari menarik tangan Fandi.
“Kenapa aku pulang sama Novi? Memangnya kamu mau kemana?” Tanya Jingga heran. Jingga melirik Novi dan Riko seolah bertanya.
“Aku ada keperluan sebentar. Sa..saama Riko.” Jawab Fandi terbata-bata.
“Memangnya mau kemana Rik?” Kali ini Jingga bertanya langsung kepada Riko.
__ADS_1
“Kaa..kami mau ke kantor papa. Barusan papa telepon aku suruh kesana, sekalian suruh aku ajak Fandi juga.” Jawab Riko terbata-bata mencari alasan berbohong kepada Jingga.
“Ooh gitu?” Balas Jingga kurang percaya dengan alasan Riko.
“Iya sayang, maaf ya? Hari ini kamu pulang sama Novi dulu ya. Novi aku titip Jingga ya tolong antarkan Jingga sampai pintu kosannya!” Ujar Fandi meminta tolong pada Novi.
“Kalau itu beres Fandi. Aku akan laksanakan. Kamu tolong jagain ayang bebeb Riko. Jangan biarin matanya jelalatan lihatin cewek diluar sana.” Novi melirik Riko memberi kode agar Riko jangan macam-macam.
“Siap!” Balas Fandi.
“Duuh ayang beb, gak usah ragu. Cintaku hanya untuk ayang bebeb Novi seorang.” Celetuk Riko melirik manja Novi.
“Kalau begitu kami pulang dulu.” Ujar Jingga sembari meninggalkan kelas Fandi dan Riko.
“Daa ayang beb Riko.. Daa Fandi..” Seru Novi melambaikan tangannya.
“Hati-hati ayang beb.” Balas Riko melambaikan tangan.
Fandi hanya tersenyum memperhatikan langkah kaki Jingga berlalu meninggalkannya. Dalam hatinya ia tidak tega untuk berbohong. Namun ia juga tidak mungkin jujur kepada Jingga kalau ia akan membeli sebuah perhiasan untuk Jingga. Jingga pasti akan terang-terangan melarang, karena bagi Jingga uang Fandi lebih baik di tabung untuk bekal hidup mereka ke depannya.
__ADS_1
‘Maaf sayang, kali ini aku harus berbohong. Tapi hanya satu kali ini. Aku janji besok tidak akan bohong lagi.’ Ucap Fandi dalam hatinya.
*****