
Malam itu Fandi akhirnya tidur bersama Jingga lagi. Sesuai permintaan kekasihnya itu, Jingga tidak ingin tidur sendirian. Mereka saling bercerita tentang diri mereka masing-masing, tentang keluarga, teman-teman dan kapan pertama kali Fandi mulai menyukai Jingga.
Berkali-kali mereka saling bertatapan dan akhirnya terjadi lagi hal yang seharusnya tidak terjadi antara mereka. Fandi dan Jingga bercinta lagi untuk yang kedua kalinya. Kali ini mereka melakukannya berkali-kali malam itu. Mereka seperti sang kekasih yang sedang di mabuk asmara. Tidak lagi memikirkan akibat dari yang mereka lakukan malam itu.
Fandi tersentak dari tidurnya. Ia melihat jam dinding menunjukkan pukul 4 pagi.
“Jingga.” Fandi masih mendekap Jingga dalam pelukannya. Ia kemudian mengecup lembut kening Jingga.
“Fandi.” Ucap Jingga suara khas bangun tidurnya.
“Kamu capek? Kalau capek gak usah sekolah. Kamu istirahat saja, aku saja yang ke sekolah.” Usul Fandi mulai bangkit dari tempat tidur.
“Fandi.” Rengek Jingga. Jingga kembali memeluk Fandi dari belakang. Jingga lalu mencium bahu Fandi.
“Nakal!” Ucap Fandi menoleh ke belakang.
“Habisnya kamu seperti candu. Bikin aku selalu ketagihan.” Bisik Jingga seraya menggigit telinga Fandi.
“Auuwww..” Seru Fandi geli-geli sakit.
“Terima kasih sayang. Aku gak menyangka kamu ternyata nakal seperti ini.” Ujar Fandi menyentuh hidung Jingga yang mancung.
__ADS_1
“Kalau kita sudah nikah dan aku minta tiap hari bagaimana?” Tanya Jingga senyum-senyum nakal.
“Hhhmmm.. Bagaimana ya?” Balas Fandi pura-pura berpikir.
“Fandi.” Jingga mencubit pinggang Fandi.
“Ampun ampun! Kalau kita sudah menikah pastinya aku gak akan membiarkan kamu keluar kamar. Heheheheee..” Balas Fandi cengengesan.
“Kita di kamar ngapain?” Tanya Jingga pura-pura polos.
“Banyak. Kita bisa main-main, belajar, tiduran. Pokoknya banyak yang bisa kita lakukan di kamar nanti.” Jawab Fandi sok serius.
“Bercinta?” Tanya Jingga nakal.
“Fandi, kalau aku hamil sebelum kita menikah bagaimana?” Tanya Jingga kali ini serius.
“Aku akan cepat-cepat menikahi kamu.” Jawab Fandi menatap Jingga.
“Kamu yakin?” Tanya Jingga penasaran.
“Aku sangat yakin. Kita bisa tinggal disini berdua. Aku akan urus kamu, bertanggung jawab untuk kehidupan kamu. Dan yang pasti aku akan membahagiakan kamu Jingga.” Ujar Fandi mantap.
__ADS_1
“Terima kasih Fandi. Aku beruntung punya kamu.” Ucap Jingga sembari tersenyum menatap Fandi.
“Aku yang beruntung memiliki kamu.” Balas Fandi dengan tatapan matanya yang bahagia.
“Kamu gak akan meninggalkan aku kan? Apapun yang terjadi?” Tanya Jingga lagi.
“Aku gak akan pernah meninggalkan kamu. Percayalah! Aku gak mungkin menyia-nyiakan kesempatan untuk memilikimu. Dari dulu kamu adalah impianku Jingga.” Jawab Fandi meyakinkan Jingga.
“Jingga, kalau aku yang bertanya boleh?” Tanya Fandi ragu-ragu.
“Tanya apa Fandi?” Balas Jingga singkat.
“Kenapa kamu mau menyerahkan keperawananmu untukku malam itu?” Tanya Fandi penasaran. Karena ia tahu pasti saat itu Jingga belum menyukainya.
“Aku juga gak tahu Fandi. Malam itu aku merasa sangat nyaman bersama kamu dan aku melihat ada cinta yang begitu besar di matamu ketika menatapku. Aku terhanyut dalam cintamu malam itu Fandi.” Jawab Jingga seraya tersenyum memejamkan matanya mengingat kejadian malam itu.
“Terima kasih kamu sudah memberi aku kesempatan sedekat ini.” Ucap Fandi kembali membelai pipi Jingga.
“Ayo siap-siap! Jangan sampai aku bergairah lagi. Heheheee..” Jingga tertawa kecil. Fandi kemudian bangkit dari ranjang. Ia memakai kaosnya dan mengambil kunci motor.
“Aku pulang dulu ya sayang. Kamu istirahat saja, tidak usah sekolah.” Fandi mengecup kening Jingga lalu berjalan keluar dari kamar dan mengunci pintu.
__ADS_1
*****