Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 120


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, pak Irwan langsung di tangani oleh dokter. Laura sangat panik melihat kondisi pak Irwan. Meskipun Laura dan pak Irwan selalu saja berdebat, tapi tetap saja Laura sangat menyayangi papanya itu.


“Laura, tenanglah!” Fandi mencoba menenangkan Laura yang sedari tadi menangis merasa bersalah.


“Fandi, aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada papa.” Laura berusaha menyeka air matanya.


“Yang kamu lakukan harusnya berdoa, bukan menangis. Aku paham betul perasaanmu.” Ujar Fandi.


“Aku benar-benar anak yang tidak tahu di untung. Papa telah memberikan semua yang terbaik untukku. Fasilitas, pendidikan, kasih sayangnya bahkan semua yang aku butuhkan dan yang aku inginkan selalu di penuhi papa. Tapi aku selalu menjadi anak yang pembangkang.” Jelas Laura menyesali perbuatannya.


“Tidak ada gunanya menyesali semuanya sekarang.” Balas Fandi datar.


“Aku tahu penyesalanku tidak akan merubah keadaan.” Laura kembali menangis sembari menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.


Satu jam berlalu. Pak Irwan telah melewati masa kritisnya. Dokter yang memeriksa pak Irwan pun keluar dari ruang pemeriksaan. Setelah dokter menjelaskan kondisi pak Irwan kepada Laura dan Fandi, Laura menangis sejadinya. Fandi berusaha menenangkan Laura.

__ADS_1


“Maafkan Laura pa. Laura selalu jadi anak yang pembangkang. Tidak pernah mau menuruti kata-kata papa.” Ucap Laura di sela isak tangisnya.


“Sudahlah Laura. Ayo temui papamu!” Ajak Fandi.


*****


Fandi dan Laura masuk ke ruang perawatan, karena kebetulan pak Irwan telah di pindahkan ke ruang perawatan. Laura melihat papanya terbaring lemah di tempat tidur. Pak Irwan tersenyum ke arah Laura dan Fandi.


“Laura.” Ucap pak Irwan dengan nafas yang berat.


“Tidak nak. Laura tidak salah. Papa yang salah. Papa yang memaksakan keinginan papa sendiri. Papa terlalu sayang sama kamu, sehingga papa terlalu mengatur kehidupanmu seperti keinginan papa.” Jelas pak Irwan menatap Laura. Pak Irwan merasa bersalah tidak memberi anaknya itu kesempatan menikahi pria pilihannya. Laura kembali meneteskan air matanya, pak Irwan lalu menyeka air mata putrinya itu.


“Maafkan Laura pa. Papa adalah papa terbaik. Papa tidak salah memilihkan suami untuk Laura. Fandi pria yang baik. Hanya saja Laura lebih dulu mencintai pria lain. Maafkan Laura pa!” Balas Laura mencium tangan pak Irwan. Fandi merasa tidak enak menyaksikan pemandangan mengharukan antara ayah dan anak itu.


“Fandi.” Panggil pak Irwan.

__ADS_1


“Iya pa.” Fandi segera mendekat.


“Fandi, papa berterima kasih kamu sudah baik sama Laura. Papa minta maaf kalau papa sudah menempatkanmu di posisi yang sulit seperti ini. Papa yakin kamu sudah berusaha menjadi suami yang baik untuk Laura.” Ujar pak Irwan tersenyum berat pada Fandi.


“Iya pa. Fandi minta maaf kalau tidak bisa merubah Laura. Laura dan kekasihnya saling mencintai pa. Fandi tidak bisa berbuat banyak.” Balas Fandi menunduk.


“Tidak apa-apa Fandi. Kamu pria baik, papa yakin kamu pasti menemukan wanita baik pula di luar sana. Sekali lagi papa minta maaf.” Lanjut pak Irwan.


“Fandi mengerti pa.” Balas Fandi lagi sembari tersenyum berat.


“Laura, setelah perceraianmu dengan Fandi selesai. Papa berharap kekasihmu bisa segera menikahimu. Karena papa tidak mau anak papa selamanya di luar semalaman dengan pria yang bukan suaminya.” Jelas pak Irwan lagi.


“Baik pa. Laura akan minta Sam untuk secepatnya menemui papa.” Laura tampak sangat senang. Pak Irwan memberikan Laura kesempatan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.


*****

__ADS_1


__ADS_2