
Di mall yang sama, Fandi dan Riko tampak sedang duduk menikmati secangkir kopi. Fandi memang sangat menyukai kopi. Riko yang awalnya tidak menyukai kopi jadi mulai menyukai minuman itu. Bagi Riko, Fandi adalah sahabatnya yang banyak membawa perubahan dalam hidupnya. Riko yang awalnya adalah anak yang bandel suka melawan orang tua dan kelayapan malam-malam, sekarang sudah menjadi lebih baik. Orang tua Riko pun sangat senang dengan Fandi, karena Fandi membawa pengaruh yang baik untuk anak mereka.
“Bro, andai dari dulu gue tahu kalau yang namanya kopi itu mantap. Mungkin Papa bakalan sering kehilangan kopinya di rumah.” Celetuk Riko sambil menyeruput kopinya.
“Iya Rik, gue malah suka kopi awalnya di suruh icip kopinya sama bapak.” Fandi kembali mengingat kebersamaannya dengan orang tuanya dulu.
“Waahh seru donk bro?” Tanya Riko.
“Iya Rik, dulu itu tiap kali bapak pulang dari toko, ibu langsung menyuguhkan bapak secangkir kopi lengkap dengan cemilannya juga. Kadang ibu bikin cemilannya ubi rebus, kadang gorengan juga. Bapak suka sekali kopi buatan ibu. Kalau lagi di toko bapak sering kangen sama kopi buatan ibu.” Fandi menjelaskan moment indah itu dengan penuh senyuman sembari mengenang kembali masa-masa itu.
“Terus?" Tanya Riko lagi.
“Terus bapak langsung pulang ke rumah, hanya sekedar untuk minum kopi buatan ibu.” Jawab Fandi masih tersenyum.
“Pasti kopi buatan ibu lu enak banget ya bro?” Tanya Riko penasaran.
__ADS_1
“Eeenaaakk sekali Rik.” Fandi memanjangkan kata-katanya.
Mereka tertawa kompak. Lalu Fandi menanyakan moment kebersamaan Riko bersama keluarganya. Riko pun mulai menceritakan tentang keluarganya kepada Fandi. Mereka saling berbagi cerita. Sesekali tertawa terbahak-bahak dengan lelucon yang di buat Riko. Hingga beberapa saat kemudian Fandi dan Riko melihat dari kaca jendela cafe, Fiki yang sedang menggandeng mesra seorang gadis.
“Fiki sama siapa itu bro?” Tanya Riko sambil menunjuk ke arah Fiki.
“Brengsek!” Bisik Fandi mengepalkan tangannya.
Tanpa pikir panjang, Fandi berdiri dan segera menghampiri Fiki. Fiki sangat heran melihat kemunculan Fandi yang tiba-tiba sudah ada di hadapannya. Fandi menatap sinis Fiki.
Fandi spontan mendorong Fiki hingga Fiki jatuh ke lantai. Dengan sigap Fiki berdiri dan langsung mendaratkan tinjunya ke wajah Fandi. Dan terjadilah pergulatan antara mereka. Semua orang di mall hanya menyaksikan perkelahian mereka. Riko yang berusaha melerai pun juga ikut-ikutan kena pukul oleh Fiki. Tidak perlu menunggu lama security datang dan membawa paksa mereka keluar dari mall.
“Heii gembel.. Lu gila?” Hujat Fiki sinis menatap Fandi.
“Dasar brengsek! Gak ada bersyukurnya lu jadi manusia.” Balas Fandi membuang muka.
__ADS_1
“Kenapa lu? Lu gak suka gue selingkuhi Jingga? Lu naksir dia? Hahahaaa..” Fiki lagi-lagi membuat emosi Fandi naik lagi.
“Bangs*t!” Fandi hampir saja ingin memukul Fiki lagi, namun Riko berhasil menahannya.
“Apa lu? Sana kejar gadis lu yang gampang gue kadalin. Barusan dia kesini merengek-rengek memohon sama gue.” Ujar Fiki bicara asal.
“Ayo bro kita pergi! Ngapain ladenin manusia macam dia?” Riko merangkul Fandi menariknya meninggakan Fiki dan gadis yang sedang bersamanya. Gadis itu terlihat sudah mulai emosi.
“Dasar gembel! Lu pikir Jingga suka laki-laki kayak lu? Mimpi lu! Dia gak suka laki-laki kere.” Fiki masih saja meneriaki Fandi yang sudah mulai jauh dan tak menghiraukannya lagi.
“Plaakkk!!!” Tiba-tiba gadis di samping Fiki menamparnya.
“Sayang?” Balas Fiki.
“Cowok brengsek! Kita PUTUS..” Sang gadis kemudian pergi meninggalkan Fiki sendirian. Fiki mematung masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1
*****