Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 76


__ADS_3

Sementara itu di rumah sakit, Fandi masih belum sadarkan diri. Sudah 5 hari Fandi belum sadar dari komanya. Hanya Riko yang setia menemani Fandi selama di rumah sakit. Beberapa teman lainnya juga ikut membesuk dan melihat keadaan Fandi.


Pada hari ke 6, Fandi mulai sadar dari komanya. Fandi mencoba membuka matanya dan berkali-kali memanggil nama Jingga. Riko bingung harus bicara apa kepada Fandi. Riko dan lainnya sudah berkali-kali mencoba menghubungi Jingga namun panggilannya tidak di angkat oleh Jingga. Sampai sekarang telepon Jingga tidak lagi aktif.


“Rik, Jingga mana?” Tanya Fandi dengan suara serak.


“Maaf bro. Gue udah menghubungi Jingga beberapa kali, tapi tidak di angkat. Novi dan yang lain juga sudah mencoba menghubungi Jingga, tapi tetap tidak di angkat.” Jawab Riko ragu-ragu. Riko takut memberitahu Fandi akan memperburuk kondisinya.


“Coba telepon lagi Rik. Siapa tahu sekarang di angkat.” Ujar Fandi memohon.


“Udah beberapa hari ini gue coba, tapi gak aktif bro. Coba gue telepon lagi sekarang.” Balas Riko sembari memencet nomor ponsel Jingga. Ternyata masih saja tidak aktif.


“Tidak aktif bro.” Lanjut Riko menyerahkan ponselnya pada Fandi agar Fandi percaya.


“Lu sudah cek ke kosannya Rik? Gue takut Jingga kenapa-napa. Gue takut dia pingsan di kamarnya. Gue mohon, tolong di cek ke kosannya Rik.” Fandi berkali-kali memohon pada Riko. Ia takut Jingga pusing dan tiba-tiba pingsan lagi di kamarnya.

__ADS_1


“Okee bro. Gue telepon Novi. Biar Novi aja yang kesana memastikan.” Balas Riko menenangkan Fandi.


‘Sayang, apa kamu baik-baik saja?' Gumam Fandi dalam hatinya. Ia sangat khawatir memikirkan kondisi Jingga tanpa memikirkan kondisinya sendiri yang masih sakit.


Setelah makan siang, Fandi mencoba kembali menghubungi Jingga menggunakan ponselnya sendiri. Namun nomor Jingga tetap tidak aktif.


“Kamu dimana Jingga? Sedang apa?” Tanya Fandi dengan suara pelan.


Riko yang melihat kekhawatiran Fandi hanya geleng-geleng kepala. Riko kasihan melihat kondisi sahabatnya itu. Namun tak bisa berbuat banyak untuk menolongnya.


“Novi, mana Jingga?” Tanya Fandi antusias. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu Jingga.


“Jingga gak ada disini Fandi.” Jawab Novi tidak tega.


“Ooh.. Gak apa-apa. Tapi Jingga baik-baik saja kan?” Tanya Fandi lagi penasaran.

__ADS_1


“Aa..aku gak tahu Fandi. Tadi aku ke kosannya dan ketuk pintunya berkali-kali, tapi gak ada jawaban. lalu aku inisiatif ke rumah ibuk kosnya, terus ibu kos itu kasih aku kunci kamar Jingga dan dia bilang ini titipan dari Jingga untuk kamu.” Jelas Novi terbata-bata sembari menyerahkan kunci tersebut ke tangan Fandi.


“Jingga.”Ucap Fandi lirih kemudian terdiam.


“Sabar bro. Mungkin Jingga butuh waktu sendiri.” Balas Riko menepuk pundak Fandi mencoba menenangkan.


Fandi masih terdiam. Riko dan Novi memutuskan untuk meninggalkan Fandi sendiri. Hati Fandi berkecamuk. Seribu pertanyaan muncul di benaknya. Ia tidak menyangka apa yang terjadi waktu itu sangat melukai perasaan Jingga.


*****


“Maafkan aku Jingga. Harusnya waktu itu aku membiarkanmu untuk ikut, mungkin kesalahpahaman ini tidak akan terjadi.” Ucap Fandi pelan. Ia menyesal tidak mengiyakan permintaan Jingga yang ingin ikut saat ia hendak ke toilet. Andai saja Jingga ikut, mungkin Sonya tidak akan membuat Jingga salah paham seperti sekarang.


Fandi kalut tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya ingin segera sembuh dan mulai mencari Jingga. Ia yakin Jingga tidak akan meninggalkannya hanya karena kejadian saat itu.


*****

__ADS_1


__ADS_2