
“Aku tidak akan mungkin bosan apalagi meninggalkan kamu Jingga. Kamu itu jantungku. Kamu itu hidupku. Hidup tanpa kamu sama saja mati.” Ucap Fandi meyakinkan Jingga.
“Hhhmmm..” Jingga menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Jingga mencoba untuk lebih tenang.
“Kamu percayakan sama aku?” Tanya Fandi menatap Jingga.
“Iya.” Jingga mengangguk mulai tersenyum.
“Sebenarnya aku mau kasih ini.” Fandi membuka kotak berisi kue brownies yang di belinya siang tadi beserta lilin angka 18.
“Fandi.” Jingga terharu. Jingga tidak menyangka Fandi mengingat ulang tahunnya yang ia sendiri sudah lupa.
“Kamu tiup dulu lilinnya.” Ujar Fandi saat sedang menyalakan lilin.
Jingga memejamkan matanya berdoa sebelum meniup lilin.
‘Aku ingin selalu bahagia bersama Fandi.’ Jingga berdoa di dalam hatinya dan kemudian meniup lilin.
“Kamu minta apa sama Allah?” Tanya Fandi penasaran.
“Kamu gak perlu tahu. Kepo!” Balas Jingga cemberut.
__ADS_1
“Heheheee.. Terus sama aku minta apa?” Tanya Fandi lagi cengengesan.
“Sebenarnya aku cuma minta kamu.” Jawab Jingga kemudian mendekat dan memeluk Fandi.
“Benarkah?” Tanya Fandi lagi memastikan.
“Iya, aku minta sama Allah ingin selalu bahagia sama kamu. Dan aku minta sama kamu untuk selalu ada di sisiku.” Jawab Jingga yang sudah berada dalam pangkuan Fandi.
“Jingga, aku gak tahu lagi bagaimana cara menggambarkan betapa besarnya aku mencintai kamu. Sangat besar. Dan saking begitu besarnya aku mencintai kamu, aku gak bisa lagi mengibaratkannya. Kamu cukup merasakannya sendiri dari perlakuanku selama ini.” Ujar Fandi serius. Ia ingin Jingga yakin akan cintanya dan tidak lagi ada keraguan.
“Aku percaya. Aku akan selalu percaya. Maafin aku Fandi. Tadi aku sempat berpikir kamu mulai bosan sama aku.” Balas Jingga menunduk dalam pelukan Fandi.
“Ooh ya sayang, aku ada hadiah untuk kamu.” Fandi mengeluarkan sebuah kotak dari dalam saku jaketnya.
“Ayo kita buka!” Jawab Fandi.
Mereka pun sepakat untuk membukanya bersama. Saat di buka, Jingga takjub ternyata ada sebuah kalung dengan liontin inisial huruf F di dalam kotak tersebut.
“Fandi, terima kasih. Ini indah sekali.” Jingga sangat takjub dengan kalung pemberian Fandi. Jingga tidak menyangka Fandi akan membelikannya sebuah perhiasan.
“Kamu suka?” Tanya Fandi penasaran. Ia kemudian memasangkan kalung itu ke leher Jingga.
__ADS_1
“Aku suka sekali. Dan inisial F ini sangat indah sama seperti kamu” Balas Jingga haru.
“Karena aku mau kamu selalu ingat kalau sekarang kamu itu adalah milikku. Hanya milikku.” Ujar Fandi memanyunkan bibirnya.
“Cup..” Kali ini Jingga yang mengecup bibir Fandi dengan lembut dan penuh perasaan.
“Jingga. Setelah kita menikah, aku akan sewa satu rumah sederhana untuk nanti kita tinggali.” Ujar Fandi mulai serius.
“Kamu kuliah dan kerja. Terus aku di rumah sendirian ngapain?” Tanya Jingga mengernyitkan dahinya.
“Kamu di rumah menunggu aku. Kalau nanti kamu kangen, aku cepat-cepat pulang dan kelonin kamu di rumah. Heheheheee...” Celetuk Fandi.
“Nakal!” Balas Jingga.
“Memangnya kamu gak kangen?” Tanya Fandi mulai menggoda.
“Kangen ngapain?” Balas Jingga sembari melepaskan diri dari pelukan Fandi. Jingga lalu membaringkan tubuhnya ke tempat tidur.
“Aku boleh.” Fandi ikut membaringkan tubuhnya di samping Jingga.
“Fandi, mengapa harus bertanya? Aku ini milik kamu sekarang. Hanya menunggu sahnya saja.” Balas Jingga tersenyum.
__ADS_1
Fandi lalu kembali menerkam Jingga dan akhirnya malam itu mereka bercinta lagi beberapa kali.
*****