Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 124


__ADS_3

Setelah seluruh prosesi pemakaman pak Irwan selesai, Fandi mengantar Laura ke rumah pak Irwan yang ada di Indonesia.


Dalam perjalanan Fandi meminta supir menghentikan mobil dan singgah ke sebuah warung makan.


“Laura, kamu tunggu sebentar di mobil.” Fandi turun dari mobil, Laura hanya mengangguk.


Beberapa menit kemudian Fandi datang membawa kantong plastik. Laura tidak memperhatikan, karena masih mengingat keberasamaannya yang terakhir bersama pak Irwan.


Sesampainya di rumah, Laura langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Fandi mengikutinya dari belakang.


Laura kemudian masuk ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Setelah selesai Laura membaringkan tubuhnya ke tempat tidurnya. Tubuhnya terasa sangat lelah sekali. Sesekali ia kembali meneteskan air mata mengenang saat terakhirnya bersama pak Irwan papanya.


*****


Tok tok tok..


“Laura, bolehkah aku masuk?” Tanya Fandi di depan pintu kamar Laura.


“Masuklah Fandi!” Jawab Laura membolehkan Fandi untuk masuk ke kamarnya.

__ADS_1


“Kamu makan dulu ya. Aku bawa soto mie yang enak sekali. Aku yakin kamu pasti berselera menyantapnya.” Bujuk Fandi membawakan semangkuk soto mie dan teh manis hangat.


“Aah.. Fandi.” Laura tersenyum berat ke arah Fandi.


“Ayo di coba! Aku yakin kamu pasti akan menyukainya. Ini soto mie favorit aku dari zaman sekolah dulu.” Ujar Fandi meyakinkan Laura jika makanan yang di bawanya itu sangat enak.


“Kamu beli dimana? Kenapa tiba-tiba sudah ada?” Tanya Laura sembari meminum teh manis hangat terlebih dahulu.


“Tadi di perjalanan kan aku sempat mampir sebentar? Di warung makanan pinggir jalan.” Jawab Fandi.


“What? Warung pinggir jalan? Apa ini steril?” Tanya Laura spontan dengan ekspresi terkejutnya.


“Maaf Fandi. Tapi aku memang belum pernah makan makanan yang di jual di pinggir jalan. Aku takut sakit perut.” Balas Laura ragu-ragu.


“Baiklah. Tidak apa-apa. Aku akan memesankanmu makanan restoran. Kamu mau makan apa?” Tanya Fandi sembari mengeluarkan ponselnya dari saku celana.


“Tidak usah Fandi. Aku tidak mau merepotkanmu.” Jawab Laura menolak tawaran Fandi.


“Kamu harus makan Laura. Aku tidak mau kamu sakit.” Balas Fandi mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


“Kenapa kamu terlalu perduli dan mengkhawatirkan aku Fandi? Sebentar lagi kita akan bercerai. Kamu tidak jatuh cinta kan?” Tanya Laura menatap heran.


“Hahaahaaa.. Kamu ada-ada saja Laura. Kamu jangan GR. Aku tidak sedang jatuh cinta padamu. Aku hanya tidak ingin repot kalau nantinya kamu sampai sakit.” Jawab Fandi tertawa jahil.


“Iih.. Dasar!” Laura mengerrnyitkan dahinya kesal mendengar jawaban Fandi.


“Jadi kamu mau makan apa?” Tanya Fandi lagi kali ini siap-siap mengetik di layar ponselnya.


“Aku makan ini saja. Heheeheee..” Jawab Laura cengengesan sembari mengambil mangkuk dari meja di samping tempat tidurnya.


“Huufft.. Dasar aneh!” Fandi mendengus melihat tingkah Laura.


Laura makan sangat lahap. Ternyata Fandi benar, soto mie tersebut sangat enak. Laura tidak berhenti melahapnya. Fandi hanya tersenyum kecil melihat Laura yang makan dengan lahap.


“Bagaimana? Enak kan?” Tanya Fandi tersenyum kecil. Laura hanya mengangguk, sesekali Laura cengengesan melihat ke arah Fandi.


Setelah melahap soto mie sampai habis tak bersisa, Laura merasa mengantuk berat. Laura lalu berbaring dan Fandi menyelimutinya.


*****

__ADS_1


__ADS_2