Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 160


__ADS_3

Flashback (Jingga)


“Haii Dirga..” Jingga tersenyum menatap wajah bayi mungilnya.


Meski tubuh Dirga begitu kecil, tapi suara tangisnya terdengar nyaring. Jingga memberi nama anaknya Dirga yang berasal dari gabungan nama Fandi Rasyid dan namanya Jingga Permata. Karena Dirga memang adalah buah cinta Jingga bersama Fandi.


“Dirga, mulai sekarang mama akan selalu menyayangi dan menjaga Dirga. Mama sayang sekali sama Dirga.” Ucap Jingga membelai pipi Dirga yang lembut. Jingga berkali-kali mencium Dirga. Dirga yang sedang memejamkan matanya, sesekali mengintip Jingga.


Dirga menangis, Jingga segera menyusui Dirga. Karena sedari tadi Dirga belum di beri ASI. Jingga benar-benar bahagia setelah kelahiran Dirga. Meskipun ia memilih untuk hidup tanpa Fandi, Jingga tidak benar-benar bisa sekali pun hidup tanpa memikirkan Fandi.


“Fandi, ini anak kita Dirga. Andai kamu ada disini. Hhmm.. Tapi mungkin sekarang ini kamu sudah bahagia bersama Sonya.” Jingga meneteskan air matanya. Ia masih teringat kejadian dulu saat dirinya menyaksikan sendiri Fandi dan Sonya bermesraan.


‘Aku tidak boleh menangis lagi. Aku hanya akan bahagia untuk Dirga.’ Batin Jingga sembari menyeka air matanya.


Setelah menyusu, akhirnya Dirga tertidur pulas. Jingga meletakkan Dirga dalam box bayi. Jingga masih saja menatap wajah anaknya itu. Matanya tak mau berkedip. Ia merasa tak mau melepaskan pandangannya dari Dirga.


*****


Selama 3 hari di rumah sakit, tidak ada satupun yang datang menjenguknya. Bagi Jingga itu sama sekali tidak penting, karena baginya tidak ada lagi yang lebih penting selain memikirkan Dirga anaknya.

__ADS_1


“Jingga..” Ferdinan masuk ke dalam kamar perawatan Jingga.


“Pak Ferdinan..” Balas Jingga terkejut dengan kedatangan Ferdinan.


“Okee.. Kamu sudah siap untuk pulang.” Tanya Ferdinan mengangkat alisnya.


“Sudah pak.” Jawab Jingga datar. Jingga tiba-tiba teringat kesepakatannya dan Ferdinan beberapa waktu lalu. Wajah Jingga seketika berubah takut.


“Ayo!” Sahut Ferdinan keluar meninggalkan kamar itu.


Jingga bangkit dari ranjangnya. Ia menggendong Dirga sembari membawa tas yang berisi pakaiannya dan Dirga. Saat keluar dari kamar, seorang perawat langsung menghampiri Jingga dan membantu Jingga membawakan tasnya menuju mobil.


Mobil berhenti di sebuah rumah yang sangat besar. Di teras rumah tampak seorang wanita dan seorang pemuda telah menunggu kehadiran mereka. Jingga turun dari mobil dengan menggendong Dirga. Wanita dan pemuda itu tersenyum berat melihat kedatangan Jingga.


“Hastari, ini Jingga. Kamu tolong jelaskan dia tentang tugasnya di rumah ini!” Ujar Ferdinan dengan nada memerintah.


“Baik mas.” Balas wanita yang bernama Hastari itu.


Hastari adalah istri pertama Ferdinan. Mereka menikah sudah puluhan tahun. Hastari dan Ferdinan memiliki seorang putra bernama Willy. Willy berumur tidak berbeda jauh dari Jingga.

__ADS_1


Setelah mengantar Jingga ke rumahnya, Ferdinan kembali ke restorannya. Mulai hari itu Jingga sudah tidak lagi bekerja di restoran Ferdinan, karena sebentar lagi Ferdinan akan menjadikannya istri kedua.


“Berapa usiamu Jingga?” Tanya Hastari saat mengantar Jingga ke kamarnya.


“19 tahun bu.” Jawab Jingga ramah.


“Jangan panggil ibu, panggil mba saja. Karena sebentar lagi kamu juga akan jadi istri mas Ferdinan. Ternyata kamu masih muda sekali, tidak beda jauh dari Willy. Willy tahun ini lulus SMA.” Hastari melirik anaknya.


“Iya mba.” Jingga hanya mengangguk.


“Kamu kenal dengan mas Ferdinan dimana?” Tanya Hastari mulai penasaran.


“Saya kerja di restoran bapak Ferdinan.” Jawab Jingga seadanya.


“Kamu cantik. Kenapa mau menikah dengan mas Ferdinan yang sudah seumur orang tuamu?” Hastari menatap penuh tanya pada Jingga.


“Saya berhutang pada pak Ferdinan mba.” Jingga memberitahukan alasannya pada Hastari. Hastari tersenyum seolah sudah biasa dengan tabiat suaminya itu.


*****

__ADS_1


__ADS_2