Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 125


__ADS_3

“Fandi, terima kasih.” Ucap Laura menatap Fandi dengan senyumannya yang masih berat.


“Terima kasih untuk apa?” Tanya Fandi.


“Terima kasih untuk soto mie yang enaknya.” Jawab Laura memanyunkan bibirnya.


“Sudah, jangan bicara lagi. Sekarang tidurlah!” Balas Fandi melangkah keluar dari kamar Laura.


“Fandi, kamu mau kemana?” Tanya Laura membuat langkah Fandi terhenti.


“Aku akan menginap di hotel malam ini. Kamu istirahatlah!” Jawab Fandi datar.


“Tidurlah disini!” Ajak Laura.


“Tidur disini?” Fandi terkejut mendengar ajakan Laura.


“Bu..bukan di kamar ini. Maksud aku, di rumah ini kan ada banyak kamar. Kamu bisa tidur di salah satu kamar yang ada di rumah ini. Maksud aku seperti itu. Kamu jangan salah paham.” Jelas Laura terbata-bata. Wajahnya tiba-tiba memerah.


“Oo.. begitu? Aku pikir kamu yang sudah mulai jatuh cinta denganku.” Balas Fandi mencibir.


“Hahh? Itu tidak mungkin Fandi. Jelas-jelas kamu bukan tipeku.” Laura ikut mencibir.


“Syukurlah kalau begitu. Karena kamu juga bukan tipeku Laura.” Fandi lalu pergi meninggalkan kamar Laura dengan tersenyum sinis.

__ADS_1


‘Fandi, aku tidak mungkin jatuh cinta padamu.’ Batin Laura.


Sementara itu Fandi berjalan dengan santainya. Di ruang tengah Fandi bertemu dengan bi Minah asisten rumah tangga di rumah itu.


“Tuan, kamar tamu sudah saya bersihkan. Tuan sudah bisa beristirahat.” Ujar bi Minah sembari menunjuk arah kamar yang di maksud.


“Terima kasih bu.” Balas Fandi tersenyum ramah.


Fandi kemudian berjalan menuju kamar yang di tunjukkan oleh bi Minah tadi. Fandi masuk ke kamar itu. Tas berisi pakaian Fandi pun ternyata sudah berada di dalam kamar tersebut.


Fandi meletakkan ponsel dan jam tangannya di meja nakas yang berada di sebelah tempat tidur. Fandi pun langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


“Hhhmm.. Segar sekali.” Fandi mengguyur seluruh tubuhnya dengan air.


Saat hendak memejamkan matanya, tiba-tiba Fandi teringat akan mimpinya tentang Jingga.


“Jingga.” Fandi langsung membuka layar ponselnya dan menemukan foto Jingga.


“Aku merindukan kamu Jingga.” Fandi menatap foto Jingga dengan tatapan yang sama, tatapan penuh cinta.


“Dan apa arti dari mimpi itu? Kenapa aku bisa bermimpi seperti itu setelah sekian lama?” Fandi bertanya-tanya sendiri sambil mengingat kembali setiap detil yang terjadi dalam mimpinya beberapa waktu lalu.


*****

__ADS_1


Fandi memencet ponselnya dan menemukan nomor Riko.


“Hallo Rik. Gue sekarang ada di Indonesia.” Ujar Fandi tak sabar memberitahu sahabatnya itu.


“Kok tiba-tiba lu sudah di Indonesia saja bro? Bukannya kemarin lu bilang minggu depan berangkatnya?” Tanya Riko heran Fandi mendadak sudah berada di Indonesia.


“Iya Rik. Gue lupa mengabari lu. Pak Irwan mertua gue meninggal dunia. Gue dan Laura baru saja menyelesaikan prosesi pemakamannya disini.” Jawab Fandi menjelaskan alasannya lebih awal kembali ke Indonesia.


“Gue turut berduka cita bro.” Balas Riko.


“Gue sudah kangen sama lu Rik. Besok kita ngopi di tempat biasa?” Ajak Fandi. Fandi sebetulnya sudah sangat merindukan kebersamaannya dengan Riko sahabatnya itu.


“Okee bro. Gue juga sudah kangen berat sama lu. Gak ada lu gak rame bro. Hahahaaa..” Celetuk Riko sambil tertawa.


“Lu bisa aja Rik. Dan kocak lu gak pernah berubah.” Balas Fandi tertawa kecil.


“Terus lu sama Laura bagaimana kelanjutannya?” Tanya Riko mulai penasaran dengan rencana awal Fandi yang ingin mengakhiri pernikahannya dengan Laura.


“Kalau soal itu, besok kita bahas sekalian Rik. Gak enak bahas di telepon.” Jawab Fandi seadanya.


“Okee okee bro. Gue paham. Sampai ketemu besok bro!” Sahut Riko.


“Iya Rik. Sampai ketemu besok!” Balas Fandi sembari menutup teleponnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2