Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 105


__ADS_3

“Selamat Fandi! Akhirnya kamu menikah dengan wanita pilihan kamu. Dia sangat beruntung.” Ucap wanita itu mengulurkan tangannya hendak bersalaman dengan Fandi. Fandi merasa tidak enak, ia bingung harus berkata apa pada wanita yang sedang berdiri di hadapannya. Wajah wanita itu tampak sangat kecewa.


“Terima kasih Lona.” Balas Fandi dengan ekspresi datar menyalami Lona.


“Tadinya aku pikir Jingga adalah wanita paling beruntung, tapi ternyata wanita ini jauh lebih beruntung.” Ujar Lona sembari melirik pada Laura. Laura tampak santai mendengar ucapan Lona. Laura berpikir Lona adalah salah satu mantan kekasih Fandi yang kini telah menjadi suaminya.


Fandi hanya diam. Ia membalas setiap kata yang keluar dari mulut Lona dengan senyuman. Kata-kata Lona membuat Fandi tercekat. Ia merasa telah menjadi seorang pengkhianat cinta Jingga.


‘Jingga maafkan aku!’ Gumam Fandi dalam hatinya. Bibirnya mulai berat untuk tersenyum.


*****


Usai acara Fandi langsung masuk ke kamar pengantin yang sudah di sediakan di hotel tersebut. Fandi masuk ke kamar mandi dan mengguyur seluruh tubuhnya. Ia menyesal telah setuju untuk menikah dengan Laura disaat hatinya masih sangat mencintai Jingga.


“Apa yang aku lakukan?” Ucap Fandi lirih di bawah rintik air yang jatuh dari shower.

__ADS_1


Fandi masih tak percaya dengan pernikahan yang baru saja terjadi. Ia tidak pernah membayangkan akan menikah dengan wanita selain Jingga. Meskipun ia tahu saat itu Jingga telah mengkhianatinya dan berbahagia dengan kehidupannya yang baru. Tapi kenyataannya sekarang mereka sama-sama telah berpaling. Mereka telah memilih jalan masing-masing untuk hidup dengan orang yang baru dalam hidup mereka.


Fandi keluar dari kamar mandi. Ia terkejut melihat Laura sudah berada di dalam kamar yang sama dengannya. Laura yang sudah berganti pakaian, sekarang hanya memakai kimono tidur.


“Kamu kenapa disini?” Tanya Fandi keheranan.


“Ini kan kamar pengantin. Itu artinya kamar aku juga kan?” Jawab Laura tersenyum menggoda pada Fandi.


‘Waaww.. Badannya bagus juga. Seksi!’ Batin Laura. Laura memandangi Fandi dari atas sampai bawah. Fandi yang kebetulan hanya memakai handuk yang di lilitkan ke pinggang merasa risih.


“Aku tahu, aku mau mandi.” Laura masuk ke kamar mandi dengan wajah yang cemberut.


Fandi bergegas mengambil pakaiannya dan segera memakainya. Fandi kemudian berbaring di ranjang tidur dengan posisi miring.


Beberapa menit kemudian Laura keluar dari kamar mandi. Laura melihat Fandi sudah berbaring di ranjang dengan posisi membelakanginya. Laura menjadi jengkel. Laura segera memakai pakaian dan hendak ke luar dari kamar.

__ADS_1


“Kamu mau kemana?” Tanya Fandi menoleh ke arah Laura.


“Aku mau cari udara segar di luar. Lagian itu bukan urusanmu!” Jawab Laura sedikit ketus.


“Aku tahu itu bukan urusanku. Tapi sekarang ini kita sudah menikah dan semua orang di hotel ini tahu itu.” Balas Fandi yang kemudian duduk.


“Lantas apa hubungannya dengan aku yang ingin mencari udara segar?” Jawab Laura masih dengan nada ketus.


“Aku hanya ingin menjaga nama baik pak Irwan dan nama baikku juga. Aku tidak mau orang tahu jika pernikahan ini sama sekali tidak ada artinya bagi kita.” Balas Fandi tersenyum pada Laura.


“Dasar aneh! Aku tidak mau satu ranjang denganmu.” Ujar Laura menunjuk Fandi.


“Okee.. Aku akan tidur di sofa. Kamu silahkan tidur disini.” Fandi kemudian membawa bantal dan meletakkannya di atas sofa. Ia kemudian berbaring tanpa menoleh sedikit pun pada Laura yang masih dengan wajah jengkelnya.


*****

__ADS_1


__ADS_2