
“Kamu sakit Jingga. Tapi kamu tidak perlu khawatir, kamu pasti akan sembuh.” Ujar Fandi menenangkan Jingga. Jingga tampak belum puas mendengar jawaban dari Fandi.
“Aku sakit apa?” Jingga masih menatap Fandi seolah mencari tahu jawabannya dari mata itu.
“Hhhmmm..” Fandi menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
“Gegar otak.” Jawab Fandi menunduk.
Jingga kemudian tersenyum berat seraya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Jingga sebisa mungkin berusaha tampak biasa mendengar jawaban Fandi.
“Fandi, aku tidak ingin di rawat. Aku hanya ingin bersama anakku Dirga.” Jingga kembali mengutarakan keinginannya untuk pulang.
“Jingga, aku mohon! Kamu harus tetap disini. Kamu harus di rawat. Kalau perlu kita akan berobat keluar negeri agar kamu segera sembuh.” Bujuk Fandi menggenggam tangan Jingga.
“Untuk apa Fandi? Untuk apa?” Tanya Jingga kembali menitikkan air matanya.
“Untuk Dirga dan juga untukku.” Jawab Fandi kembali membelai pipi Jingga. Kemudian Jingga menyentuh tangan Fandi yang ada di pipinya.
“Apa maksudmu?” Tanya Jingga lirih.
“Aku masih mencintaimu Jingga. Aku masih sangat mencintaimu.” Jawab Fandi sembari menatap mata Jingga dalam-dalam.
Untuk sesaat Fandi melupakan status Jingga yang masih menjadi istri orang. Yang ada di fikirannya saat itu hanyalah ingin memberitahu Jingga apa yang ada di hatinya. Jingga hanya terdiam. Mata Jingga seolah tidak mau lepas dari tatapan Fandi. Jingga melihat masih ada cinta yang begitu besar dalam mata Fandi.
“Sudahlah Fandi. Semua itu sudah lewat. Sekarang kita sudah punya kehidupan masing-masing. Kita sama-sama sudah menikah.” Ujar Jingga melepaskan dirinya.
__ADS_1
“Aku tahu Jingga. Aku sadar betul status kamu. Aku juga tidak mungkin merusak kebahagiaanmu.” Balas Fandi tersenyum berat.
‘Bahagia?’ Batin Jingga.
“Bukankah kamu juga sudah menikah?” Tanya Jingga tersenyum membalas senyuman Fandi.
“Ooh.. Iya, aku memang sudah menikah.” Jawab Fandi gelagapan.
“Syukurlah. Semoga kamu bahagia Fandi.” Jingga tampak tidak tenang mengucapkannya.
“Terima kasih. Tapi sayangnya beberapa bulan yang lalu aku memutuskan untuk berpisah dengan mantan istriku.” Jelas Fandi. Jingga menatap heran penuh tanya.
“Berpisah?” Jingga tampak penasaran.
“Bersyukurlah Fandi. Karena mungkin ada yang lebih bernasib malang dari kamu.” Balas Jingga datar.
“Kamu sendiri, bagaimana dengan pernikahanmu?” Tanya Fandi mencoba menyelidik. Karena Fandi masih penasaran maksud dari pesan masuk yang di bacanya di ponsel Jingga tadi.
“Aa..aku.. Aku sangat bahagia Fandi.” Jawab Jingga dengan ekspresi bahagianya yang terlihat di buat-buat.
“Syukurlah. Suami kamu namanya siapa?” Tanya Fandi memastikan.
“Namanya Ferdinan. Kenapa?” Jawab Jingga heran.
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu.” Balas Fandi datar sembari memperhatikan ekspresi wajah Jingga.
__ADS_1
“Maaf Jingga. Apa kamu benar-benar bahagia?” Tanya Fandi lagi. Fandi seperti tak yakin jika Jingga bisa hidup bahagia tanpa dirinya.
“Iya Fandi. Aku bahagia dengan kehidupanku.” Jawab Jingga ragu-ragu.
“Meski tanpaku?” Fandi mengangkat alisnya penasaran dengan jawaban Jingga.
“Iya Fandi. Aku bahagia meski tanpa kamu.” Jawaban Jingga seolah tidak ada yang berarti dari hubungan mereka dulu. Fandi seperti hanya bagian dari masa lalu Jingga yang sudah lama di kuburnya.
“Terima kasih Jingga untuk kejujuranmu. Setidaknya aku tahu selama ini hanya aku saja yang terus-terusan memikirkanmu. Setiap hari aku selalu merasa bersalah dan berharap bisa bertemu lagi, untuk sekedar menjelaskan kesalahpahaman waktu itu.” Fandi menjelaskan harapannya selama ini untuk bertemu Jingga.
“Aku tahu Fandi. Aku sudah bertemu Sonya dan Sonya sudah menjelaskan semuanya.” Balas Jingga mengangguk.
“Lalu kenapa kamu tidak kembali?” Tanya Fandi mengernyitkan dahinya.
“Aku sudah menjadi istri orang pada saat itu.” Jawab Jingga seadanya.
“Aku masih penasaran Jingga. Di dalam suratmu yang aku baca, kamu bilang kalau saat itu kamu sedang hamil anakku. Apa yang terjadi pada anak itu?” Fandi melontarkan pertanyaan yang membuat Jingga terkejut. Jingga tampak kaget mendengar Fandi menanyakan tentang anak mereka.
“Fandi, aku minta maaf.” Jingga kembali mengatakan maaf sambil menangis.
Fandi terdiam tak percaya. Fandi berpikir bagaimana mungkin Jingga tega membunuh anak mereka yang tak berdosa. Jingga memperhatikan raut wajah Fandi, mata Fandi tampak merah.
Sesaat kemudian Jingga meminta Fandi untuk meninggalkan ruangannya dengan alasan Jingga ingin beristirahat dan tidak ingin terganggu.
*****
__ADS_1