Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 34


__ADS_3

Jingga menangis bersandar di dada Fandi. Sesaat Fandi meletakkan tangannya di kepala Jingga. Ia mengelus rambut Jingga dengan lembut. Ia paham bagaimana perasaan Jingga saat itu. Dadanya pun terasa sesak mendengar hinaan dari Sonya. Jingga terus saja menangis dalam pelukan Fandi. Dan kemudian tersadar.


“Maaf.” Ucap Jingga lirih sambil menyeka air matanya.


“Hhmm.. Tidak apa-apa.” Jawab Fandi sedikit gugup.


“Baju kamu basah kena air mataku.” Jingga menunjuk baju Fandi yang basah karena tetesan air matanya. Jingga kemudian mencoba mengusap baju Fandi yang basah tadi.


“Heii.. Gak apa-apa.” Balas Fandi. Kali ini Fandi memegang tangan Jingga. Ia mencoba menghentikan Jingga yang merasa sungkan pada Fandi. Fandi menatap tajam dan Jingga pun terdiam masuk ke dalam tatapan Fandi.


“Sekali lagi aku minta maaf.” Lagi-lagi Jingga meminta maaf. Jingga menunduk malu dengan apa yang baru saja terjadi.


“Kenapa kamu melerai aku dan Sonya?” Tanya Jingga. Fandi hanya membalas dengan tersenyum. Tangan Fandi mencoba melihat luka cakaran di lengan Jingga.


“Fandi?” Tanya Jingga lagi. Kali ini Fandi yang sedang membersihkan luka Jingga terhenti. Fandi terkejut mendengar Jingga menyebut namanya. Padahal selama ini Fandi merasa Jingga tidak mengenalnya.


“Fandi, Kamu dengar aku?” Jingga kembali bertanya.


“Hhmmm..” Fandi menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia berusaha untuk tetap tenang menjawab pertanyaan Jingga.


“Aku gak bisa lihat orang bertengkar. Apalagi perempuan.” Jawab Fandi tenang. Jingga terdiam dan memanyunkan bibirnya. Jingga merasa tidak puas dengan jawaban yang di berikan Fandi.

__ADS_1


“Kenapa kamu gendong aku? Kenapa bukan Sonya?” Kali ini pertanyaan Jingga membuat Fandi mulai gugup.


“Ya, karena aku lihat disana Sonya yang salah." Fandi menjawab dengan terbata-bata.


“Oohh.. Tapi Sonya kan pacar kamu?” Tanya Jingga memancing.


“Apa?” Tanya Fandi terkejut mendengar omongan Jingga.


“Iya, Sonya pacar kamu kan?” Tanya Jingga lagi.


“Aa..aku dan Sonya? Kamu salah orang. Aku dan Sonya tidak ada hubungan apa-apa.” Fandi menegaskan kepada Jingga kalau ia dan Sonya tidak berpacaran.


“Iya.” Lanjut Fandi.


“Seharusnya kamu tadi gak usah bawa atau gendong aku segala. Seharusnya Sonya orang yang harus kamu bela.” Jingga mulai lagi dan kali ini dengan raut wajah sewot.


“Lahh.. Kok gitu?” Fandi bingung dan menggaruk-garuk kepalanya.


“Iya, kami bertengkar juga gara-gara kamu.” Tunjuk Jingga mulai menyalahkan Fandi.


“Lahh.. Kok jadi aku sih?” Fandi makin bingung. Ia di bawa-bawa dalam pertengkaran Jingga dan Sonya.

__ADS_1


“Karena dari dulu Sonya berpikir kamu suka sama aku. Padahal jelas-jelas kamu tahu dia suka sama kamu?” Jelas Jingga sambil melirik Fandi.


“Aku dan Sonya tidak ada hubungan apa-apa. Dan aku sudah ngomong sama Sonya dari dulu. Aku rasa gak ada masalah.” Fandi lalu menjelaskan kepada Jingga secara detail hubungannya dengan Sonya. Jingga mulai mengangguk pertanda paham dengan penjelasan Fandi.


“Tapi kenapa dia masih marah ya sama aku? Bilang aku ular kepala dua. Apa maksudnya coba?” Jingga mengernyitkan dahinya bertanya pada Fandi.


“Ya.. Aku gak tahu.” Balas Fandi cuek.


“Okee.. Tapi tindakan kamu tadi bikin Sonya makin geram sama aku. Dia pasti berpikir kalau kecurigaannya selama ini memang benar kalau kamu suka sama aku.” Jingga melanjutkan omongannya setelah diam sejenak.


“Kamu gak suka aku kan?” Tanya Jingga spontan.


“Haahhh??” Fandi terkejut dengan pertanyaan Jingga.


“Aa..aku?” Fandi terbata-bata.


“Hahahaaaa... Santai saja.” Jingga tertawa dan berlalu meninggalkan Fandi.


‘Kamu benar. Aku memang suka sama kamu Jingga. Bahkan dari dulu.’ Jawab Fandi dalam hatinya seraya memperhatikan Jingga yang melangkah menjauh.


*****

__ADS_1


__ADS_2