Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 133


__ADS_3

Fandi terbangun dari tidurnya, ia mendengar suara berisik dari luar kamarnya. Fandi bangkit dari tempat tidurnya lalu mengucek matanya. Ia pun memutuskan keluar dari kamarnya untuk memastikan apa yang sedang terjadi di luar. Betapa kagetnya Fandi melihat Nita sedang beradu argumen dengan suaminya Rizki.


“Bang Rizki?” Sahut Fandi keceplosan. Ia lupa kalau Nita dan Rizki sedang bertengkar.


“Fandi.” Rizki tampak heran. Rizki menatap Fandi dengan tatapan matanya yang tajam.


“Fandi, kamu yang magang di IL Group dulu kan?” Tiba-tiba Nita ikut bertanya. Nita berpura-pura baru bertemu Fandi pagi itu.


‘Kak Nita? Aku tahu, pasti dia tidak mau bang Rizki sampai salah paham terhadapku.’ Batin Fandi.


“Iya, aku Fandi yang pernah magang di tempat kalian bekerja.” Fandi menjawab pertanyaan Nita seolah-olah memang mereka belum pernah bertemu lagi sebelumnya.


“Apa kabar? Sudah lama tak terdengar kabarmu dan tiba-tiba sudah disini saja.” Tanya Rizki basa basi. Sebenarnya Rizki tak begitu peduli dengan kabar Fandi. Yang ada di fikirannya saat itu hanyalah ingin menyelesaikan permasalahannya dengan Nita sesegera mungkin.


“Aku baik bang. Maaf kalau aku menganggu pembicaraan abang dan kak Nita.” Jawab Fandi merasa sungkan. Fandi tersenyum berat.

__ADS_1


“Tidak apa-apa Fandi. Aku malah merasa tidak enak, karena ribut di depan kosanmu.” Rizki tampak sedikit malu di hadapan Fandi.


“Maaf Fandi kalau suara kami tadi menganggumu.” Nita ikut-ikutan tidak enak pada Fandi.


“Tidak masalah. Aku akan kembali ke dalam.” Fandi tersenyum kecil sembari berbalik hendak masuk kembali ke kamarnya.


“Ooh ya Fandi. Aku dan Nita sudah menikah.” Rizki tiba-tiba memberitahu Fandi perihal hubungannya dengan Nita. Fandi menghentikan langkahnya dan kembali berpura-pura kaget mendengar ucapan Rizki.


“Benarkah? Ternyata bang Rizki sama kak Nita berjodoh. Maaf aku tidak tahu.” Fandi tersenyum seolah-olah tak menyangka dengan berita yang baru saja ia dengar dari mulut Rizki.


“Iya, aku mengerti bang.” Balas Fandi seadanya.


“Kamu sendiri kenapa ngekos disini? Bukankah kamu sudah menikah dengan putri pak Irwan dan tinggal di luar negeri?” Tanya Rizki tampak heran.


“Sayangnya permasalahan rumah tanggaku tidak seperti bang Rizki dan kak Nita yang masih bisa di selesaikan.” Fandi menghembuskan nafasnya dengan kasar dan berusaha untuk tersenyum meskipun berat.

__ADS_1


“Maaf Fandi. Aku turut prihatin dengan apa yang menimpa rumah tanggamu.” Balas Rizki bersimpatik pada Fandi.


“Tidak apa-apa bang. Aku sudah ikhlas menerimanya.” Fandi kembali tersenyum pada Rizki dan Nita.


Tidak beberapa lama kemudian, Rizki menggenggam tangan Nita. Rizki menatap mata istrinya Nita dengan tatapan penuh rasa bersalah. Setelah terdiam sejenak, akhirnya Nita tersenyum dan memeluk Rizki.


Fandi ikut tersenyum melihat kejadian di depan matanya. Ia merasa senang melihat Rizki dan Nita sudah berbaikkan. Sebesar apapun masalah yang terjadi antara dua orang yang saling mencintai, tidak perlu menunggu lama pasti akan berakhir. Karena cinta yang ada di hati mereka. Begitu pun permasalahan antara Nita dan Rizki yang akhirnya selesai, karena memang mereka masih saling mencintai satu sama lain.


‘Andai permasalahan aku dan Jingga dulu bisa selesai seperti ini, mungkin kami..’ Batin Fandi.


Lagi-lagi Fandi kembali teringat Jingga. Selalu Jingga. Sampai kapan pun Jingga akan selalu mengisi pikiran dan hati Fandi.


Fandi kembali melihat ke arah Nita dan Rizki. Ia merasa iri menyaksikan kemesraan sepasang suami istri itu. Akhirnya Fandi memilih untuk kembali ke kamarnya.


*****

__ADS_1


__ADS_2