
Beberapa bulan kemudian
Seperti biasa di kampus Fandi tidak banyak bicara. Ia hanya kuliah, ke perpustakaan, ke kantin lalu pulang. Fandi juga tidak punya banyak teman. Ia memilih untuk fokus dengan kuliahnya. Sesekali Riko yang berbeda jurusan dengan Fandi datang ke Fakultas Fandi untuk sekedar bercengkerama dengan sahabatnya itu.
Di kampus Fandi terkenal sebagai mahasiswa yang pintar dan aktif. Beberapa kali mengikuti lomba akademik mewakili Universitasnya. Selain itu Fandi juga aktif di organisasi, beberapa organisasi ia ikuti. Fandi sengaja mencari banyak kesibukan agar ia tidak terlalu sedih memikirkan Jingga.
“Fandi, selamat ya! Kamu menang lagi lomba kali ini.” Ucap seorang wanita. Wanita itu adalah Diah teman sekelas Fandi.
“Iya. Terima kasih.” Balas Fandi.
“Ooh yaa Fandi, kalau kamu ada waktu aku mau traktir kamu makan siang.” Ajak Diah menawarkan makan siang bersama Fandi.
“Maaf Diah. Aku siang ini ada rapat HIMA.” Tolak Fandi seraya meninggalkan Diah.
Fandi memang tidak pernah mengiyakan ajakan teman wanitanya.
Di samping kuliah Fandi juga bekerja. Kali ini Fandi bekerja di cafe. Tapi bukan menjadi seorang pelayan, tapi menjadi penyanyi di cafe itu. Dengan skill yang ia miliki dalam bermain gitar dan bernyanyi, Fandi membiayai kehidupannya sehari-hari.
Setiap malam Fandi menyanyikan beberapa lagu bagus yang berbeda-beda setiap harinya. Namun ada satu lagu yang selalu ia nyanyikan setiap hari.
Di tepi ruang rinduku,
__ADS_1
Ku lihat bintang-bintang saat hati ini mulai bertanya,
Akankah dia datang bisikkan cinta untukku.
Berlari untuk mengejarmu.
Tapi ku tak bisa menggapaimu.
Berharap untuk ada kamu dan takkan lagi pergi dariku.
Dan ku yakini kaulah cintaku.
Dan kini ku sadari,
Belai lembutmu yang slalu buat aku bagaikan raja cintamu.
*Berlari untuk mengejarmu.
Tapi ku tak bisa menggapaimu.
**Berharap untuk ada kamu dan takkan lagi pergi dariku.
__ADS_1
Dan ku yakini kaulah cintaku***.
Fandi menyanyikan lagu itu dengan penuh perasaan sehingga semua pengunjung yang mendengarnya merasa tersentuh.
Setiap hari setelah sepulang bekerja dari cafe, Fandi menyempatkan diri singgah di depan rumah Windy. Ia berharap bisa bertemu dengan Jingga kembali. Jingga benar-benar telah hilang di telan awan, tanpa kabar tanpa berita. Namun Fandi tidak pernah sekalipun putus asa mencarinya. Fandi tanpa lelah terus mencari Jingga setiap harinya.
“Kamu dimana Jingga?” Gumam Fandi.
Setelah tidak mendapatkan hasil apa-apa dari rumah Windy, akhirnya Fandi memutuskan untuk kembali ke kosannya.
*****
Fandi tinggal di kosan di tempat dimana Jingga dulu tinggal. Ia tidak mengubah apapun dari kamar itu. Semua masih sama seperti yang di tata Jingga dulu.
Fandi meletakkan gitar dan tasnya di atas meja, lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
“Jingga, ini sudah hampir 9 bulan kepergianmu. Pasti kandunganmu sudah berusia 9 bulan. Itu artinya kamu akan melahirkan sayang. Kembalilah Jingga! Aku mohon kembalilah. Aku ingin kita bisa bersama lagi dan membesarkan anak kita bersama-sama.” Ujar Fandi sembari memandangi langit-langit kamar.
Fandi kemudian masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air. Ia merasa sangat gerah karenaa seharian beraktifitas di luar. Setelah mandi dan memakai baju, Fandi kembali berbaring dan membuka ponselnya. Di ponsel Fandi tampak foto Jingga yang menjadi wallpaper layar ponselnya. Fandi membuka galeri dan melihat lagi foto-foto Jingga dan foto kebersamaan mereka dulu.
Tak beberapa lama kemudian Fandi akhirnya tertidur dengan masih memegang ponselnya di tangannya. Wajahnya tampak lesu seperti banyak pikiran.
__ADS_1
*****