Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 162


__ADS_3

Flashback (Jingga)


Hari pernikahan Jingga dan Ferdinan berlangsung secara sederhana. Namun banyak dari relasi bisnis Ferdinan yang datang. Banyak dari mereka yang takjub dan memuji kecantikan Jingga. Ferdinan tampak bangga di puji oleh rekannya.


“Lu langsung ke kamar! Tunggu gua di dalam.” Ferdinan berbisik pada Jingga. Jingga pun menurutinya sembari membawa Dirga ke kamarnya.


Jingga bergegas masuk ke kamarnya dan tidak lupa mengunci pintu. Jingga sepertinya tidak ingin Ferdinan datang ke kamarnya. Karena ia memang tidak ingin menghabiskan malam pertamanya dengan pria itu. Selain Ferdinan selalu berbicara dengan nada kasar, Ferdinan juga suka main perempuan seperti yang di katakan oleh istri pertamanya Hastari. Itulah yang membuat Jingga tidak ingin di dekati.


“Aku gak bisa seperti ini. Aku tidak bisa melayani pria itu. Aku tidak sudi!” Umpat Jingga membayangkan betapa jijiknya ia pada Ferdinan. Ia tidak sudi melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri.


Jingga menidurkan Dirga di tempat tidur. Ia kemudian berbaring pula di samping anaknya. Beberapa kali Ferdinan mengetuk pintu kamarnya. Jingga hanya mengabaikan, berpura-pura kalau ia sudah tertidur.


Akhirnya Jingga benar-benar tertidur, karena kondisinya memang sudah terlalu letih dengan acara penikahannya hari itu.


*****


“Lu semalam ngapain? Tidur kayak orang mati. Gua gedor beberapa kali gak ada respons. Istri macam apa lu?” Celoteh Ferdinan menatap Jingga dengan tatapan yang sinis.

__ADS_1


“Maaf pak. Semalam saya kecapekkan jadi ketiduran.” Balas Jingga membela diri.


“Kecapekkan? Huuhh.. Sampai pintu kamar lu kunci dari dalam?” Tanya Ferdinan dengan suara sedikit keras.


“Mungkin Jingga sudah terbiasa mengunci pintu sebelum tidur mas. Maklumi saja!” Hastari ikut membela Jingga.


“Gua gak ngomong sama lu. Gak usah ikut ngomong.” Ucapan Ferdinan membuat Hastari terdiam. Willy yang kebetulan juga berada di meja makan yang sama tampak emosi melihat Ferdinan.


“Apa tidak ada kata-kata yang lebih baik lagi yang bisa keluar dari mulut daddy?” Timpal Willy sinis.


“Lu gak usah sok ngatur gua. Anak kemarin sore sudah belagak pintar.” Ferdinan tak terima Willy juga ikut-ikutan.


“Kenapa tiba-tiba semua diam?” Lanjut Ferdinan menatap sekitarnya.


“Sudah mas. Ayo makan saja!” Ujar Hastari.


“Lu benar-benar ya jadi istri bikin gua kesal terus.” Lagi-lagi Ferdinan membentak Hastari. Willy mengepalkan tinjunya menatap ke arah Ferdinan.

__ADS_1


“Daddy tolong jangan bentak mommy!” Balas Willy dengan suara sedikit keras.


“Emang kenapa kalau gue bentak mommy lu? Lu mau apa?” Tanya Ferdinan menantang mata Willy.


“Sudah Willy. Tidak apa-apa nak, kamu makan saja! Nanti terlambat ke sekolahnya.” Hastari mencoba meredam emosi anaknya.


“Iya mom. Yang waras harus selalu mengalah.” Celetuk Willy kembali menyantap sarapannya.


“Anak bangs*t! Lu pikir gua gak waras?” Ferdinan tampak sangat emosi dengan ucapan Willy.


Ferdinan kemudian langsung berdiri dan menarik lengan Willy. Dengan sigap Willy menyikut Ferdinan. Terjadi pergulatan antara ayah dan anak itu. Willy tidak perduli yang di ladeninya itu adalah ayahnya sendiri. Ferdinan tampak tak berkutik lagi meladeni emosi Willy. Karena dari segi faktor umur dan stamina, Ferdinan kalah jauh dari Willy. Hastari berteriak histeris melihat pergulatan anak dan suaminya itu. Sementara Jingga hanya diam mematung menyaksikannya.


“Jangan daddy pikir aku akan tinggal diam melihat daddy semena-mena sama mommy. Dan perlu daddy ingat! Mulai detik ini aku tidak akan membiarkan daddy menyakiti mommy, kak Jingga dan Dirga.” Willy mengancam Ferdinan dengan tatapannya yang sangat tajam. Ferdinan tampak takut dan pasrah.


Setelah itu Willy beranjak keluar dari rumah. Tidak lupa ia berpamitan pada Hastari dan Jingga. Ferdinan hanya mengernyitkan dahinya menatap sinis Willy yang melangkah menjauh.


“Lihat didikan lu! Anak tak tahu diri.” Umpat Ferdinan menunjuk ke arah Willy yang sudah menghilang dari pandangan semua orang.

__ADS_1


Dengan perasaan yang masih kesal, Ferdinan pun ikut meninggalkan rumah menuju restorannya.


*****


__ADS_2