
Tidak perlu menunggu lama, akhirnya Fandi telah resmi menjadi pemilik hotel Star yang dulunya milik pak Irwan. Fandi datang ke hotel di dampingi pak Herman pengacara almarhum pak Irwan untuk menjelaskan kepada semua karyawannya bahwasanya mulai hari itu Fandi adalah bos mereka.
Sebagian besar karyawan sudah mengenal Fandi, mereka tahu betul Fandi adalah menantu dari pak Irwan. Mereka tak terlalu canggung, apalagi Fandi merupakan sosok yang cukup ramah kepada karyawannya.
Fandi mulai beradaptasi dengan semua pegawai dan manajemen yang di terapkan oleh hotel itu, tanpa mau merubah apapun. Karena ia tahu betul hotel Star sudah sangat di kenal oleh masyarakat luas, performa serta pelayanannya tidak perlu di ragukan lagi. Fandi hanya berusaha melanjutkan apa yang sudah di rintis dengan susah payah oleh almarhum mertuanya itu.
*****
Beberapa hari kemudian
“Hallo bro..” Sahut Riko di ujung telepon.
“Hallo Rik, ada apa?” Tanya Fandi sembari menghentikan pekerjaan.
“Sidang pertama perceraian lu 2 hari lagi. Jangan lupa datang.” Riko mengingatkan tentang persidangan yang harus di hadiri oleh Fandi.
“Okee Rik. Gue pasti datang. Lu sibuk gak?” Balas Fandi tanpa ragu-ragu.
“Gak bro. Kenapa? Kita ngopi?” Riko menebak langsung maksud Fandi.
“Iya Rik. Gue juga sekalian mau menanyakan pendapat lu?” Fandi sudah terbiasa dengan tebakan Riko yang jarang meleset padanya
__ADS_1
“Gue jemput lu kemana?” Tanya Riko lagi
“Jemput gue ke hotel Star saja Rik.” Jawab Fandi.
“Okee bro.” Riko lalu menutup teleponnya.
Setelah menutup telepon dari Riko, Fandi kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sudah satu bulan Fandi tinggal di kosan. Fandi berencana ingin membeli sebuah rumah, tapi ia belum menemukan rumah yang tepat. Fandi masih saja bolak balik dari kos ke hotel, itu pun masih menggunakan taksi online.
*****
“Rik.” Sahut Fandi sembari mendekat.
“Haii bro. Kita pergi sekarang?” Riko berjalan keluar hotel menuju mobilnya. Fandi mengikuti Riko.
Riko melajukan mobilnya dengan santai. Seperti biasa mereka berbincang-bincang sambil tertawa terbahak-bahak.
Setelah sampai di Mall, mereka langsung menuju cafe tempat biasa mereka ngopi. Mereka mulain duduk, Fandi kemudian mulai mengutarakan niatnya untuk membeli sebuah mobil. Tapi ia masih bingung, Fandi menanyakan pendapat Riko sahabatnya.
“Jadi lu mau mobil yang seperti apa?” Tanya Riko antusias.
__ADS_1
“Gue masih bingung Rik, mana yang cocok untuk gue.” Fandi mengernyitkan dahinya. Fandi tidak begitu paham mengenai mobil. Oleh karena itu ia menanyakan pendapat Riko sahabatnya.
“Apapun mobilnya pasti cocok sama lu bro. Tidak akan terlihat aneh, malah yang aneh itu ketika lu belum punya mobil. Iya, seperti sekarang ini. Hehehee..” Timpal Riko sambil cengengesan.
“Aneh dimananya?” Fandi tidak paham dengan maksud perkataan Riko.
“Gimana gak aneh bro? Pemilik hotel Star, hotel bintang 5 ternama, tapi belum memiliki mobil pribadi. Hehehee..” Ledek Riko di sambut ketawa Fandi.
“Heheheee.. Lu bisa saja Rik." Fandi ikut tertawa setelah mendengar ledekan Riko.
“Pokoknya besok siang lu ikut sama gue. Kita jelajahi semua showroom mobil di kota ini sampai kita menemukan mobil yang nyangkut di hati lu.” Ujar Riko penuh semangat.
“Okee Rik.” Fandi mengangguk menyetujui saran Riko.
“Terus tempat tinggal lu gimana bro? Lu gak mungkin tinggal di kosan terus kan?” Tanya Riko manatap sinis.
“Itu gue sudah memikirkannya Rik. Gue berniat ingin membeli rumah, tapi sama. Gue masih belum menemukan rumah yang cocok.” Jawab Fandi.
“Iya, semoga lu secepatnya menemukan rumah yang cocok sekalian ratunya juga segera ketemu. Amin.” Celetuk Riko mengundang tawa Fandi.
*****
__ADS_1