
Setelah check out dari wisma penginapan, Fandi dan Jingga menuju warung tempat Fandi bekerja. Fandi ingin pulang sebentar mengambil uang tabungannya. Ia berniat membayarkan uang kos Jingga untuk beberapa bulan ke depan.
“Kamu tunggu sebentar disini. Aku ke dalam dulu.” Ujar Fandi tergesa-gesa. Ia kemudian masuk ke dalam warung.
‘Fandi.. Ternyata lelaki yang tidak pernah aku sadari keberadaannya, itu yang akan menjadi pendamping hidupku.’ Ucap Jingga dalam hatinya. Jingga sesekali tersenyum memikirkan kekonyolan yang mereka lakukan tadi malam.
“Jingga.” Sahut Fandi membuyarkan lamunan Jingga.
“Ii..iyaa.” Balas Jingga terbata-bata.
“Kamu mikirin apa?” Tanya Fandi penasaran. Ia tersenyum melihat Jingga. Sedari tadi ia memperhatikan Jingga dari kejauhan yang senyum-senyum sendiri.
“Aku gak mikirin apa-apa kok?” Jawab Jingga lalu naik ke atas motor Fandi.
Selama perjalanan Jingga memegang pinggang Fandi. Fandi merasa sangat senang. Ia tak menyangka akhirnya bisa sedekat itu dengan gadis pujaan hatinya.
Fandi turun dari motor kemudian masuk ke dalam rumah pemilik kos-kosan mba Wati. Fandi kenal baik dengan mba Wati, karena mba Wati adalah salah satu pelanggan di warung tempatnya bekerja. Mba Wati menghampiri Jingga dan berkenalan dengan Jingga. Setelah berbincang-bincang sebentar, mba Wati menyodorkan sebuah kunci kepada Jingga.
“Ini kunci kamarnya. Kamar kamu yang di pojokkan sana. Ingat! Paling telat pulangnya jam 11 malam.” Ujar mba Wati sambil menunjuk kamar di pojokkan.
“Iya mba. Tapi aku boleh bayar uang kosannya double di bulan depan?” Tanya Jingga ragu-ragu. Jingga takut bila mba Wati tidak setuju.
__ADS_1
“Uang kos? Tenang. Uang kos untuk 2 bulan ke depan sudah di bayar sama pacar kamu si ganteng itu.” Tunjuk mba Wati senyum-senyum.
“Haaahhh?” Jingga terkejut. Jingga tidak menyangka Fandi akan membayarkan uang kosannya.
“Ya sudah, mba ke dalam dulu. Kamu silahkan beres-beres kamar barumu.” Seru mba Wati seraya meninggalkan mereka berdua.
“Ayo!” Sahut Fandi. Fandi sudah bersiap-siap menuju kamar kos Jingga. Ia membawakan tas berisi pakaian Jingga menuju kamar.
“Fandi, terima kasih.” Ucap Jingga sambil melirik Fandi. Fandi hanya tersenyum.
*****
“Fandi, minum dulu!” Sahut Jingga. Kemudian Fandi segera menghampiri Jingga.
Fandi meneguk minuman itu. Ia memang sangat haus. Jingga mengelap keringat Fandi dengan tangannya. Fandi menatap mata kekasihnya lagi.
“Kenapa?” Tanya Jingga heran melihat Fandi tersenyum menatapnya.
“Cantik.” Bisik Fandi.
“Nakal.” Balas Jingga seraya mencubit pinggang Fandi.
__ADS_1
“Auuwww.. Ampun!” Teriak Fandi.
“Hahahaaa.. Rasain!” Seru Jingga tertawa.
Setelah selesai membersihkan kamar Jingga, Fandi merasa sangat capek. Badannya terasa pegal semua. Ia membaringkan badannya di ranjang. Jingga kemudian duduk di samping Fandi. Jingga menyuruh Fandi mengangkat kepalanya dan meletakkannya di atas pahanya. Fandi menuruti perkataan Jingga. Karena Fandi merasa mereka sudah resmi jadi sepasang kekasih.
“Fandi, kamu beneran suka sama aku?” Tanya Jingga penasaran sambil membelai rambut Fandi.
“Kenapa?” Fandi balik bertanya.
“Aku cuma ingin tahu.” Balas Jingga.
“Sebenarnya aku sudah menyukaimu sejak saay pertama kali masuk SMA. Saat kita satu gugus waktu MOS.” Fandi menjelaskan kapan ia pertama kali menyukai Jingga.
“Dan makin lama perasaan itu berubah menjadi cinta.” Lanjut Fandi. Jingga hanya tersenyum mendengar ucapan Fandi.
Mereka kembali bercerita tentang kehidupan mereka sebelumnya. Seketika Jingga kembali ceria. Fandi seperti berhasil mengembalikan senyum di wajah Jingga yang sudah lama hilang.
Siang harinya, Fandi berpamitan pada Jingga. Ia bergegas ke tempat kerjanya untuk mulai bekerja.
*****
__ADS_1