Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 27


__ADS_3

“Cing..” Jingga masuk ke kamar Windy tanpa permisi.


“Iya mpus.” Jawab Windy sedang mengganti pakaian sekolahnya dengan pakaian rumah.


“Kamu tahu gak, tadi Sonya adeknya si Fiki mendatangi aku.” Jingga memulai pembicaraan mereka.


“What? Adeknya si Fiki? Terus dia bilang apa?” Windy penasaran dan ikut duduk di sebelah Jingga di tepi ranjangnya.


“Ya aku ceritain semua kelakuan kakaknya.” Jawab Jingga dengan santainya.


“Dia marah-marah gak sama kamu?” Tanya Windy mulai terlihat kesal membahas masalah Fiki lagi.


“Awalnya suaranya agak lantang sih cing. Tapi setelah aku jelasin semuanya, dia mulai melunak.” Jawab Jingga lalu tersenyum.


“Kirain dia marah-marah mpus. Kalau dia marah-marah biar aku yang ikutan melabrak dia.” Usul Windy mengedipkan matanya membujuk Jingga.


“Hahahhaaa...” Jingga tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Windy.


“Terus kamu sama Fiki baikkan lagi?” Tanya Windy lagi.


“Iihh.. ya gak lah. Cuiihh..” Jingga menunjukkan ekspresi jijiknya pas mendengar pertanyaan Windy.


“Tapi anehnya Sonya bertanya hubungan aku sama seseorang yang bernama Fandi” Jingga tiba-tiba ingat pertanyaan Sonya tadi soal Fandi.

__ADS_1


“Haahh.. Fandi itu siapa?” Windy makin penasaran dan membelalakan matanya menatap Jingga penuh tanya.


“Aku gak tahu. Aku gak kenal siapa Fandi. Tapi Sonya bilang Fandi itu pernah di ajak kesini pas melayat dan juga yang gendong aku ke UKS waktu pingsan." Lanjut Jingga menjelaskan tentang Fandi yang ia ketahui dari Sonya.


“Waaaww.. Manis banget.” Balas Windy tersenyum geli pada Jingga.


“Haaahhh.. Manis? Maksudnya?” Jingga heran dengan ekspresi wajah Windy.


“Iya manis mpus. Kamu gak tahu orangnya, tapi ia pernah melayat kesini dan pernah gendong kamu juga.” Jawab Windy dengan ekspresi senyum-senyum menggoda Jingga.


“Biasa aja kali cing.” Jingga mencubit pinggang Windy dan Windy pun meringis kesakitan.


Jingga berdiri dari ranjang lalu keluar dari kamar Windy berjalan menuju kamarnya untuk berganti pakaian.


*****


“Mau apa?” Tanya Windy ketus.


“Aku mau ketemu Jingga." Jawab si lelaki.


“Siapa cing?” Jingga ikut ke depan untuk melihat si tamu. Jingga pun ikut terkejut mengetahui si tamu ternyata adalah Fiki.


“Kamu mau apa lagi kesini?” Tanya Jingga yang juga ketus.

__ADS_1


“Aku mau bicara sama kamu sebentar. Please?” Fiki berusaha membujuk Jingga dengan wajah memelas.


“Oke..” Jingga kemudian mendekat dan mengajak Fiki untuk bicara di teras.


“Aku mau kita bicara empat mata.” Fiki melirik Windy memberi isyarat agar Windy meninggalkan mereka berdua.


“Ya udah aku masuk. Tapi kalau dia macam-macam, kamu panggil aku aja mpus?” Windy meninggalkan mereka dan berdiri di belakang pintu untuk menguping.


“Langsung aja.” Jingga kemudian duduk menunggu Fiki mulai bicara.


“Sebenarnya cewek yang kemarin itu mantan aku. Kemarin dia minta di temenin ke mall, tapi karena dia belum move on makanya masih gandeng tangan aku.” Fiki mencoba membela dirinya berharap Jingga mempercayainya dan memaafkan dirinya dengan mudah.


“Terus?” Balas Jingga singkat.


“Ya aku sebenarnya sama dia gak ada apa-apa. Kamu jangan salah paham ya sayang?” Fiki lagi-lagi membujuk Jingga dengan rayuannya, tapi Jingga tidak semudah itu luluh olehnya.


“Maaf ya kak. Kakak mau jelasin seperti apapun aku sudah gak perduli.” Jingga kemudian berdiri ingin masuk ke dalam rumah. Namun Fiki menghentikan langkah kaki Jingga dengan kata-katanya yang sangat menohok.


“Sekarang udah miskin aja belagu.” Fiki melontarkan kata-kata kasar, karena Jingga menolaknya mentah-mentah. Namun Jingga tak mengindahkan perkataannya dan tetap berlalu menutup pintu rumah.


Di belakang pintu Windy sudah tampak marah mendengar perkataan Fiki.


“Aku labrak dia ya mpus?” Ujar Windy sembari membuka pintu hendak keluar melabrak Fiki.

__ADS_1


“Gak usah cing. Orang seperti Fiki gak usah di ladeni.” Balas Jingga tersenyum menenangkan Windy.


*****


__ADS_2