Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 113


__ADS_3

“Kamu sudah bangun?” Tanya Fandi heran melihat Laura turun lebih awal dari biasa.


Laura hanya mengangguk dan duduk di kursi di depan Fandi. Laura mengambil sepotong roti dan mengoleskan selai cokelat di atasnya.


“Kamu mau kemana sudah rapi?” Kali ini Laura yang mulai bertanya pada Fandi. Laura mengernyitkan dahinya mengamati Fandi.


“Tentu saja aku mau bekerja.” Jawab Fandi sembari melanjutkan sarapannya.


“Ooh ya, aku lupa. Hari ini kamu sudah menjadi direktur di perusahaan papaku. Selamat ya!” Balas Laura dengan nada meledek.


Fandi tak menghiraukan ucapan Laura. Setelah meminum kopinya, ia langsung berdiri dan berjalan keluar dari rumah. Laura melotot melihat Fandi yang mengabaikan ucapan selamat darinya.


“Kurang sopan! Aku masih bicara sudah pergi.” Celoteh Laura merasa kesal dengan sikap Fandi yang mengacuhkannya.


“Jangan ajari aku tentang kesopanan!” Balas Fandi menoleh ke belakang sebelum ia melanjutkan langkahnya.


Pagi itu Fandi mulai masuk kerja. Ia menjabat sebagai direktur di perusahaan pak Irwan yang berada di Sidney.


Saat memasuki lobbi perusahaan, semua karyawan menyambut kedatangan Fandi. Semua karyawan menunduk hormat. Fandi membalas dengan tersenyum ramah. Semua karyawan tampak senang, karena ternyata direktur mereka adalah orang yang ramah.

__ADS_1


Pagi itu Fandi mengumpulkan semua karyawan di ruang rapat, karena ia akan memperkenalkan diri sekaligus ingin mengenal karyawannya. Semua karyawan tampak senang dan bersemangat. Fandi memang sangat layak untuk memimpin, karena ia sangat pandai memotivasi karyawannya untuk bekerja lebih giat lagi.


*****


“Jingga.” Fandi memandangi layar ponselnya yang berlatar foto Jingga.


Semakin Fandi ingin melupakan Jingga, ia malah semakin sulit lepas dari bayang-bayang cinta pertamanya itu. Fandi menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya. Hatinya semakin tak tenang. Dadanya terasa sesak setiap kali menyadari hubungan mereka berakhir serumit itu. Fandi mencoba memejamkan matanya, namun hanya wajah Jingga yang hadir.


Jingga memang telah berhasil bertahta dalam kerajaan hatinya. Semua ruang di hatinya pun telah di miliki sepenuhnya oleh Jingga.


“Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta lagi? Aku sudah memilih untuk mencintai kamu dan mungkin seumur hidupku.” Ucap Fandi tercekat.


*****


“Masuk!” Sahut Fandi sembari menyimpan kembali ponselnya di dalam saku.


“Fandi.” Laura masuk dan langsung duduk di kursi di depan meja kerja Fandi.


“Kamu ada apa kesini?” Tanya Fandi heran melihat kedatangan Laura yang tak biasa.

__ADS_1


“Hahahaaa.. Ini kan kantor papaku.” Jawab Laura tertawa kecil mendengar pertanyaan Fandi.


“Aku tahu. Tapi kenapa kamu ke ruanganku?” Tanya Fandi lagi.


“Okee okee.. Aku sengaja datang kesini untuk bernegosiasi denganmu.” Jawab Laura. Fandi mengernyitkan dahinya bingung dengan jawaban Laura.


“Bernegosiasi maksudmu?” Tanya Fandi penasaran.


“Aku tahu jika kamu berniat ingin mengadukan tingkah lakuku pada papa kan?” Laura mencondongkan wajahnya melotot pada Fandi.


“Mengadu? Hahahaaa..” Balas Fandi tertawa kecil.


“Kenapa tertawa?” Tanya Laura. Laura merasa tidak ada yang lucu dari ucapannya.


“Kamu pikir aku pria seperti apa? Aku tidak mungkin mengadukan perangaimu pada pak Irwan. Pak Irwan tidak perlu tahu apa yang terjadi antara kita, karena setelah menikah dirimu adalah tanggung jawabku. Aku tidak mungkin membebankan pikirannya untuk hal yang sudah menjadi urusanku.” Jawab Fandi tenang. Fandi sangat dewasa dalam berpikir. Walau bagaimana pun Laura sekarang sudah menjadi tanggung jawabnya dan Fandi tidak mungkin membebani mertuanya itu dengan masalah mereka.


Laura tertegun mendengar jawaban dari Fandi yang sangat dewasa.


*****

__ADS_1


__ADS_2