
Setelah Ujian Nasional berakhir, sekolah mengadakan travelling untuk perpisahan siswa kelas 12. Semua siswa kelas 12 wajib mengikuti tanpa terkecuali. Mereka berangkat dengan menggunakan bus pariwisata yang telah di sewa oleh pihak sekolah.
Fandi dan Jingga duduk berpasangan dalam satu bus, meskipun mereka berbeda kelas. Begitu pun dengan Riko dan Novi. Sedangkan Rani duduk dengan Eka.
“Fandi, gak tau kenapa aku merasa sedikit pusing.” Ucap Jingga sambil memegangi keningnya.
“Kamu kurang tidur atau telat makan?” Tanya Fandi khawatir.
“Enggak, Aku cukup tidur dan semalam makan tepat waktu. Tadi pagi juga kita sarapan bareng, gak telat juga.” Jawab Jingga masih memegangi keningnya.
“Terus kenapa bisa pusing?” Tanya Fandi lagi.
“Aku sepertinya mabuk darat.” Jawab Jingga.
“Mabuk darat? Ya sudah, kamu tidur saja.” Balas Fandi sembari menaruh kepala Jingga di pundaknya.
Selama perjalanan Jingga tertidur pulas. Fandi yang tadinya ingin ikut bernyanyi dengan teman-temannya, terpaksa mengurungkan niatnya itu. Ia tidak ingin kekasihnya itu terganggu.
__ADS_1
“Fandi, aku boleh bicara sebentar?” Sonya mendekati Fandi dan duduk di kursi barisan sebelah Fandi.
“Mau bicara soal apa Sonya? Maaf Jingga lagi tidur, aku tidak mau dia terbangun.” Balas Fandi lugas.
“Tidak. Aku tidak akan bicara keras-keras. Setelah ini aku tidak akan menganggu kamu ataupun Jingga lagi." Ujar Sonya meyakinkan.
“Baik, silahkan!” Balas Fandi memperbolehkan Sonya berbicara.
“Apa dugaanku selama ini benar? Kamu memang sudah menyukai Jingga dari dulu? Dan saat Jingga pingsan kamu bukan cuma khawatir sebagai teman tapi lebih dari itu?” Sonya melontarkan pertanyaan bertubi-tubi pada Fandi. Namun Fandi tampak tenang mendengarkan Sonya.
“Okee.. Sekarang sudah jelas. Aku mulai paham. Pantas saja kamu gak pernah mau memberiku kesempatan untuk lebih dekat. Ternyata sudah ada Jingga. Terima kasih Fandi, kamu sudah baik sama aku selama ini.” Sonya mengulurkan tangannya mengajak Fandi untuk bersalaman.
“Aku minta maaf Sonya jika aku pernah tidak sengaja menyakiti perasaanmu. Dan terima kasih kamu juga sudah baik kepadaku.” Fandi membalas salaman Sonya sembari tersenyum. Fandi merasa lega, karena merasa Sonya tidak akan menganggu Jingga lagi setelah itu.
‘Fandi, selama itu kamu berhasil memendam perasaan tanpa ada orang lain yang tahu. Dan aku begitu bodoh tidak pernah menyadarinya.’ Gumam Jingga dalam hatinya. Jingga sengaja tetap berpura-pura tidur saat Fandi dan Sonya tengah berbicara.
Bus berhenti, karena telah sampai di tujuan. Fandi mencoba membangunkan Jingga.
__ADS_1
“Jingga, kita sudah sampai sayang.” Bisik Fandi lembut di telinga Jingga.
“Hhhmm..” Jingga menghembuskan nafasnya dan membuka mata berpura-pura bangun dari tidur.
“Apakah kamu masih pusing?” Tanya Fandi khawatir.
“Sudah tidak sayang.” Jawab Jingga sembari tersenyum melihat wajah Fandi.
“Ayo kita turun!” Ajak Fandi.
Fandi menggenggam tangan Jingga sangat erat. Mereka menuruni bus dengan mesra. Semua teman-teman menatap kagum ke arah mereka. Fandi sangat perhatian pada Jingga, ia memperhatikan langkah kaki Jingga agar tidak tersandung saat berjalan.
Sonya yang memperhatikan mereka berdua dari kejauhan masih merasa jengkel. Sepertinya Sonya masih belum bisa menerima kenyataan.
‘Jingga, jangan berpikir kamu telah menang. Kamu boleh berbahagia saat ini Jingga, tapi ingat Sonya tidak akan pernah membiarkan kamu bahagia lebih lama.’ Gumam Sonya dalam hati seraya menatap tajam penuh dendam ke arah Jingga.
*****
__ADS_1