Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 129


__ADS_3

“Okee Rik, gue masuk dulu.” Fandi turun dari mobil Riko. Riko mengantar Fandi hingga ke rumah Laura.


“Iya bro. Nanti lu kabari aja gue. Biar gue bantu pas pindahan.” Balas Riko sebelum akhirnya melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Laura.


Bi Minah membukakan pintu untuk Fandi. Fandi kemudian masuk ke dalam rumah.


“Selamat malam tuan, non Laura sudah menunggu di ruang makan.” Ujar bi Minah ramah.


“Terima kasih bi.” Fandi melanjutkan langkah kakinya.


Fandi berjalan menuju kamarnya. Ia tak langsung ke ruang makan menemui Laura yang sudah menunggunya untuk makan malam bersama.


*****


“Fandi mana bi?” Tanya Laura tanpa menoleh pada bi Minah.


“Maaf non. Tuan Fandi langsung masuk ke kamar."


“Apa bibi tidak bilang kalau aku sudah menunggunya?” Laura sedikit membentak bi Minah.


“Maaf non. Bibi sudah bilang. Bibi akan segera memanggil tuan Fandi lagi non. Maaf.” Jawab bi Minah menunduk.

__ADS_1


Belum sempat beranjak dari ruang makan, Fandi muncul di hadapan mereka. Fandi menatap sinis ke arah Laura. Rupanya sedari tadi Fandi memperhatikan sikap Laura pada bi Minah.


“Bibi boleh ke belakang sekarang.” Ujar Fandi tersenyum ramah pada bi Minah.


“Baik tuan.” Bi Minah segera berjalan kembali ke dapur.


“Kenapa tidak langsung kesini? Aku sudah lama menunggumu.” Tanya Laura menatap tajam.


“Kenapa menungguku? Kamu bisa makan duluan, tidak perlu menungguku.” Jawab Fandi sembari mengambil nasi dan meletakkan ke atas piringnya.


“Jangan GR dulu. Aku menunggumu bukan karena ingin makan bersama. Tapi aku ingin tahu bagaimana kelanjutan proses perceraian kita.” Balas Laura mencibir.


“Aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk GR padamu, aku lebih senang makan sendiri. Lagian aku tidak suka membahas sesuatu ketika sedang di meja makan.” Jawab Fandi datar.


“Ya ya ya.. Terserah!” Balas Laura lagi mencemooh Fandi.


Fandi tidak menanggapi omongan Laura. Fandi fokus dengan makanannya. Laura tampak mulai kesal melihat perlakuan Fandi yang mengacuhkannya.


“Lalu bagaimana perkembangannya?” Tanya Laura lagi mulai sewot.


Fandi masih diam dan fokus dengan makanannya. Laura menatap tajam Fandi, namun Fandi sedikit pun tak menoleh.

__ADS_1


“Hallo! Aku sedang bicara padamu.” Ujar Laura dengan suara sedikit keras.


Fandi berhenti seketika dan mengernyitkan dahinya menatap Laura. Fandi tampak mulai kesal.


“Bisakah kita makan dulu. Aku tidak suka bicara saat makan.” Balas Fandi masih mengernyitkan dahinya.


Laura tak bisa lagi berkata apa-apa. Laura menelan kekesalannya pada Fandi. Sementara Fandi kembali melanjutkan makannya tanpa ingin terusik.


Setelah menyelesaikan makannya Fandi baru menanggapi pertanyaan dari Laura.


“Mengenai perceraian kita, hanya menunggu sidang pertamanya. Kamu tenang saja, semuanya akan segera selesai.” Ujar Fandi sebelum meninggalkan ruang makan.


“Baguslah. Aku rasa aku tidak perlu datang ke persidangan.” Laura mencibir sembari mengangkat kedua alisnya. Fandi tampak hanya tersenyum sinis pada Laura.


“Aku juga berharap kamu tidak datang. Karena ketidak hadiranmu akan mempercepat prosesnya.” Balas Fandi mulai meninggalkan ruang makan.


Laura terdiam mendengar jawaban Fandi yang menohok. Fandi pergi meninggalkan ruang makan tanpa menoleh ke belakang. Laura semakin merasa kesal dengan perlakuan Fandi padanya.


“Sial! Lagi-lagi dia membuatku merasa terhina seperti ini. Belum pernah ada orang yang menyepelekan aku saat berbicara.” Umpat Laura jengkel.


*****

__ADS_1


__ADS_2