Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 182


__ADS_3

Selama perjalanan Jingga tak banyak bicara. Ia masih saja terus memikirkan ucapan Laura. Meski ia berusaha ingin mempercayai Fandi, tapi tetap saja ada yang mengganjal di hatinya.


“Jingga.. Kenapa diam saja?” Tanya Fandi sembari menggenggam tangan Jingga.


Jingga hanya diam. Sesekali ia melirik Fandi. Bibirnya tak mampu mengutarakan apa yang ada di pikirannya saat itu.


“Sayang?” Fandi menepikan mobilnya di depan sebuah restoran yang tidak jauh dari hotelnya. Sebelum turun dari mobil Fandi kembali menggenggam tangan Jingga.


“Jingga sayang.. Sekarang kamu jujur sama aku. Apa kamu masih meragukan aku?” Tanya Fandi menatap mata Jingga. Jingga hanya tersenyum berat menanggapi.


“Fandi, aku percaya sama kamu. Kamu tidak mungkin berbohong.” Jawab Jingga berusaha menunjukkan bahwa ia lebih mempercayai Fandi daripada ucapan Laura.


“Tapi dari yang aku lihat kamu masih meragukan aku.” Fandi menatap penuh tanya.


“Fandi, aku sungguh mempercayaimu. Tapi tidak tahu kenapa, masih ada yang mengganjal dalam hati ini.” Balas Jingga mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


“Aku paham yang kamu pikirkan. Tapi aku sungguh tidak pernah melakukan apa-apa pada Laura. Aku juga sangat terkejut ketika Laura bicara seperti itu. Sebelumnya dia bilang ingin kembali berumah tangga denganku, karena kekasihnya tidak mau bertanggung jawab akan kehamilannya.” Fandi menjelaskan semuanya pada Jingga dengan tenang. Jingga sangat serius mendengar penjelasan dari Fandi.


“Lalu kamu bilang apa?” Tanya Jingga penasaran.


“Tentu saja aku bilang aku tidak bisa. Sebentar lagi aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai. Mustahil aku bisa hidup bersama wanita lain.” Jawab Fandi mantap.


“Terus bagaimana sekarang? Laura mengaku kalau kamu ayah dari anaknya. Aku takut pernikahan kita akan berantakkan karena kehadiran wanita itu." Jingga menggigit bibirnya membayangkan kalau pernikahan mereka akan batal lagi.


“Sayang, itu tidak akan terjadi. Aku akan segera menyelesaikan masalahku dengan Laura. Kali ini aku tidak akan membiarkan seseorang menghancurkan hubungan kita lagi.” Fandi memegang dagu Jingga meyakinkannya.


“Aku percaya kamu Fandi. Kali ini aku tidak akan membiarkanmu berjuang sendiri. Dulu kita pernah terpisah karena ketidak percayaanku. Sekarang aku tidak mau semua itu terulang lagi.” Balas Jingga menatap Fandi dengan senyuman.


“Ayo sayang, kita makan!” Fandi mengajak Jingga untuk turun dari mobil.


Mereka masuk ke restoran dengan bergandengan tangan. Jingga tampak lega. Ia tidak terlalu memikirkan ucapan Laura lagi.

__ADS_1


*****


Setelah selesai makan siang, Fandi kembali ke hotel. Seperti biasa Jingga ikut bersama Fandi. Betapa terkejutnya mereka, ternyata Laura masih berada di dalam ruangannya.


“Laura, kenapa kamu masih disini?” Tanya Fandi sinis.


“Aku menunggumu. Aku boleh menginap di hotel ini? Ooh ya Fandi, aku juga belum makan siang.” Laura bersikap manja pada Fandi. Saat Laura menghampiri Fandi dan hendak menyentuh lengannya, Fandi dengan sigap menepisnya.


“Laura jangan begini. Aku tidak suka.” Ujar Fandi masih dengan menatap sinis pada Laura.


“Fandi.. Walau bagaimana pun aku masih istrimu. Aku masih berhak atasmu.” Balas Laura dengan wajah yang tampak sedih. Jingga hanya diam memperhatikan tingkah laku Laura yang mulai membuatnya geram.


“Huuhhhh..” Jingga menghembuskan nafasnya dengan kasar menunjukkan betapa muaknya ia menyaksikan drama Laura.


“Sudahlah Laura. Kamu jangan mendramatisir keadaan. Kenyataannya aku dan kamu tidak pernah melakukan apa-apa. Aku sama sekali tidak pernah menyentuhmu. Maaf Laura, aku tidak bermaksud apa-apa. Tapi bukankah tadinya kamu sendiri yang mengakui kalau anak itu adalah anak Sam kekasihmu. Karena Sam tidak mau bertanggung jawab, makanya kamu mencariku untuk memintaku kembali.” Jelas Fandi tampak tenang. Jingga tersenyum melihat Fandi yang mulai bersikap tegas pada Laura.

__ADS_1


“Fandi.. Kamu bicara apa? Aku tidak mengerti.” Laura masih saja terus berpura-pura tidak paham.


*****


__ADS_2