
Flashback (Jingga)
Hari itu Jingga akan pergi keluar kota bersama bu Romlah. Mba Ratih mengantar Jingga ke depan. Mba Ratih tampak sedih akan di tinggal oleh Jingga.
“Jingga baik-baik disana ya! Jangan lupa sama mba Ratih.” Pesan mba Ratih pada Jingga. Jingga tersenyum pada mba Ratih, karena mba Ratih sangat perduli padanya.
“Terima kasih mba. Jingga gak mungkin lupa sama mba Ratih.” Balas Jingga tersenyum ramah.
Bu Romlah menyuruh Jingga untuk segera masuk ke dalam mobilnya. Jingga pun segera menurutinya. Jingga memasukkan tasnya ke dalam bagasi sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil. Mba Ratih melambaikan tangannya pada Jingga.
“Jingga, mba Ratih perduli sekali sama kamu.” Ujar bu Romlah.
“Iya bu. Mba Ratih dulu kerja di rumah saya dari saya kecil.” Jawab Jingga seadanya.
“Pantas saja. Dia seperti menganggap kamu seperti anaknya sendiri.” Lanjut bu Romlah. Jingga tersenyum mendengar ucapan bu Romlah.
Selama perjalanan Jingga tak banyak bicara. Ia hanya bicara setiap kali di tanya oleh bu Romlah.
*****
Sekitar 3 jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah restoran besar. Restoran itu tampak sangat mewah. Bu Romlah mengajak Jingga untuk masuk bersamanya.
__ADS_1
“Ayo duduk Jingga!” Bu Romlah mempersilahkan Jingga duduk di kursi restoran.
Bu Romlah memesan makan dan minuman untuk mereka berdua. Tidak lupa bu Romlah meminta pegawai di restoran itu untuk memberitahukan kedatangannya kepada sang pemilik restoran.
“Tolong beritahu pak Ferdinan ya kalau bu Romlah sudah datang!” Bu Romlah meminta pegawai di restoran itu untuk memanggil pak Ferdinan yang tak lain adalah pemilik restoran itu.
“Baik buk.” Pegawai itu menunduk sebelum akhirnya memberitahukan pada bosnya akan kedatangan bu Romlah.
Tidak beberapa lama kemudian, muncul seorang pria paruh baya berumur sekitar 50an. Pria itu tersenyum ke arah Jingga dan bu Romlah sebelum ikut duduk di meja mereka.
“Haii Romlah.. Apa kabar?” Tanya Ferdinan sangat ramah.
“Aku baik mas. Ini Jingga yang aku ceritain beberapa waktu lalu.” Bu Romlah mulai memperkenalkan Jingga pada Ferdinan.
“Iya pak.” Jawab Jingga menunduk.
“Bagaimana mas? Karena Jingga ini sangat cantik, aku rasa gak cocok kerja di warung aku yang kecil. Kalau disini kan tempatnya besar dan bagus juga kalau Jingga kerja disini untuk penarik juga bagi pelanggan.” Bu Romlah menjelaskan keuntungan bila Jingga kerja di restoran itu.
“Tapi saya gak habis pikir kenapa mau kerja jadi pelayan?” Tanya Ferdinan melirik Jingga dengan lirikkan nakal.
“Saya baru lulus sekolah pak, jadi saya benar-benar butuh pekerjaan ini.” Jawab Jingga seadanya.
__ADS_1
“Kalau jadi istri muda saya mau?” Ferdinan kembali melirik Jingga dengan mata genitnya.
Jingga spontan terkejut mendengar pertanyaan Ferdinan. Ia tampak gugup, bingung harus berkata apa. Untung bu Romlah segera mencairkan suasana.
“Aahh.. Mas bisa saja!” Bu Romlah berusaha tertawa menanggapi ucapan Ferdinan hanyalah candaan.
“Saya serius.. Daripada capek-capek kerja jadi pelayan, mending jadi istri saya saja.” Ferdinan kembali mengutarakan maksudnya. Kali ini bu Romlah yang melirik Jingga.
“Maaf.. Saya hanya ingin bekerja pak.” Jawab Jingga menunduk.
“Okee okee.. Tidak apa-apa. Kamu langsung di terima bekerja disini. Saya sudah langsung menyukai kamu, jadi tidak perlu ada surat lamaran atau wawancara segala.” Ujar Ferdinan bersemangat.
“Terima kasih pak..” Balas Jingga tersenyum pada Ferdinan.
“Syukurlah kalau begitu. Terima kasih mas. Kalau begitu saya langsung tinggalin Jingga disini ya?” Bu Romlah tampak lega akhirnya Jingga bisa bekerja di restoran itu.
“Iya iya.. Disini ada mess kok, Jingga bisa tinggal di mess bersama yang lain.” Ferdinan masih melirik-lirik Jingga.
“Kamu langsung ke belakang ya? Beresin barang-barang dulu, besok baru mulai bekerja.” Lanjut Ferdinan.
Ferdinan kemudian memanggil asistennya untuk mengantar Jingga ke mess pegawai yang berada di belakang restoran. Tidak lupa asisten Ferdinan juga menyerahkan pakaian seragam yang akan di pakai Jingga untuk bekerja besok.
__ADS_1
*****