
Hari itu Fandi memutuskan untuk pindah lebih awal ke kosannya yang lama. Fandi mengemas pakaian dan barang-barangnya. Fandi sama sekali belum memberitahu Laura.
Fandi kemudian membawa barang-barangnya keluar dari kamar sebelum akhirnya berpamitam pada Laura. Meskipun akan segera bercerai, Fandi tetap merasa perlu berpamitan dengan istrinya itu.
Saat keluar dari kamar, Fandi secara tidak sengaja berpapasan dengan Laura yang kebetulan baru dari ruang tengah. Laura melirik Fandi dengan barang bawaan di tangannya.
“Kamu mau kemana?” Tanya Laura mengernyitkan dahinya.
“Aku mau kembali ke kosan yang lama.” Jawab Fandi seadanya.
“Kenapa tak memberitahuku sebelumnya?” Tanya Laura lagi seperti sedang menuntut penjelasan dari Fandi.
“Maaf karena tidak memberitahumu dulu. Tapi aku sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari.” Fandi meletakkan barang-barangnya ke lantai.
“Tanpa menanyakan pendapatku?” Laura belum puas mendengar jawaban Fandi. Mendengar ucapan Laura, Fandi merasa heran. Karena bagi Fandi, dia tak perlu menanyakan pendapat Laura terlebih dahulu.
“Kenapa aku harus bertanya dulu padamu? Sebentar lagi kita akan segera berpisah, setelah itu aku tentu harus mencari tempat tinggal yang sendiri” Jawab Fandi tersenyum sinis.
“Iya, memang seharusnya begitu. Kamu memang tidak perlu tinggal disini, karena kita akan segera bercerai. Okee..” Balas Laura gelagapan. Tiba-tiba saja Laura salah tingkah. Laura merasa malu dengan sikapnya yang terlalu berlebihan pada Fandi.
__ADS_1
“Baiklah. Aku pergi dulu.” Fandi mengangkat kembali barang-barangnya dan mulai berjalan meninggalkan Laura yang masih terdiam.
“Fandi.” Sahut Laura menghentikan langkah Fandi yang mulai jauh.
“Iya.” Fandi menoleh pada Laura.
“Besok pagi aku akan berangkat ke Australia.” Ujar Laura mengingatkan Fandi tentang keberangkatannya.
“Kalau begitu hati-hati.” Balas Fandi seadanya.
Fandi kembali berjalan tanpa menoleh lagi. Laura tampak sedih menyaksikan kepergian Fandi. Laura terus memandangi Fandi hingga akhirnya Fandi benar-benar hilang dari pandangannya. Langkah kakinya mulai gontai, Laura memaksakan diri untuk naik ke tangga menuju kamarnya. Sesampainya di dalam kamar, Laura menghempaskan tubuhnya ke kasur.
“Akhirnya besok kita bercerai. Seharusnya aku senang, tapi entah kenapa aku seperti tidak ingin kehilanganmu.” Ujar Laura menyeka air matanya.
*****
Sementara itu Fandi tengah sibuk menaikkan barang-barangnya ke atas mobil Riko. Riko membantu Fandi.
“Cuma ini barang-barang lu bro?” Riko bertolak pinggang di samping mobilnya.
__ADS_1
“Iya Rik. Ayo kita pergi!” Fandi masuk ke dalam mobil di susul oleh Riko.
“Lu udah pamitan sama Laura?” Tanya Riko penasaran sembari memperhatikan raut wajah Fandi.
“Sudah.” Jawab Fandi.
“Lu benaran sama sekali gak ada perasaan sama Laura?” Tanya Riko lagi. Kali ini Riko tampak penasaran.
“Becanda lu Rik. Gue sama sekali tidak punya perasaan apa-apa sama Laura. Meski di awal pernikahan gue berusaha untuk membuka hati untuknya, tapi gue tidak pernah berhasil. Dia pun seperti itu.” Jawab Fandi dengan penuh keyakinan. Hati Fandi memang seakan mati rasa, tidak bisa lagi merasakan cinta dari wanita lain.
“Gue benar-benar heran dengan pernikahan kalian. Sudah jalan 2 tahun, tapi rasa cinta itu tidak pernah tumbuh.” Riko berkali-kali menggeleng. Riko tidak menyangka kalau sahabatnya itu sangat sulit untuk jatuh cinta lagi.
“Ya begitulah kenyataannya Rik.” Balas Fandi datar.
“Tapi gue masih berharap setelah ini lu ketemu cewek cantik dan move on dari Jingga.” Riko menepuk pundak Fandi. Riko hanya ingin sahabatnya itu bahagia.
“Insya Allah Rik.” Fandi tersenyum, dalam hatinya ia masih memikirkan Jingga.
*****
__ADS_1