
Setelah memarkirkan motornya, Fandi membuka pintu kamar Jingga dengan kunci yang ia pegang. Ia mendapati Jingga yang masih tertidur lelap di ranjangnya. Di dekatinya wajah kekasihnya itu. Manis, putih, hidung mancung dan bibirnya yang seksi membuat Fandi ingin terus memandangnya.
Fandi tidak menyangka akan secepat ini bisa menjadikan Jingga kekasihnya. Disaat ia merasa masih belum layak untuk Jingga.
“Terima kasih Jingga. Kamu sudah memberi aku kesempatan untuk sedekat ini. Aku gak pernah menyangka akhirnya bisa menjadi kekasihmu secepat ini. Aku janji gak akan menyia-nyiakan kamu. Aku gak akan pernah meninggalkan kamu. Aku akan bertanggung jawab untuk kehidupan kamu ke depannya. Hhhmmm.. Aku sangat mencintai kamu sayang.” Ucap Fandi pelan. Sesekali ia membelai wajah dan rambut Jingga. Melihat bibir Jingga yang merah dan seksi, ia merasa ingin sekali mengecupnya. Namun hasrat itu ia tahan, ia tidak ingin kekasihnya itu terbangun.
*****
‘Fandi, sedalam itukah kamu mencintai aku? Maaf aku gak pernah menyadarinya.’ Gumam Jingga dalam hati. Sebenarnya Jingga sudah terbangun saat Fandi masuk ke dalam kamar, namun Jingga sengaja berpura-pura tidur.
Fandi menyelimuti tubuh Jingga dengan selimut, kemudian mengusap lembut kepala Jingga.
“Aku pulang dulu sayang.” Bisik Fandi. Ia mengecup kening Jingga dengan lembut. Tiba-tiba Jingga mendekapnya. Jingga mengalungkan kedua tangannya di leher Fandi.
“Kamu mau kemana?” Tanya Jingga menatap Fandi.
“Kamu bangun? Pasti terbangun karena suaraku.” Balas Fandi memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
“Cup..” Jingga mengecup bibir Fandi dengan lembut. Fandi terkejut dan kembali membelalakkan matanya.
“Jingga, kamu makan dulu ya?” Ujar Fandi seraya melepaskan ciuman Jingga. Ia takut akan bernafsu lagi. Sedari tadi ia berusaha menahan diri ketika melihat Jingga tertidur memakai gaun tidurnya.
“Aku gak mau makan sayang. Aku mau kamu.” Balas Jingga nakal. Jingga kemudian menarik Fandi ke atasnya.
“Sayang, seminggu lagi kita ujian. Aku gak mau kita dapat masalah dan tidak bisa mengikuti ujian.” Ujar Fandi serius.
“Aku mau dengar lagi yang kamu ucapin tadi.” Bisik Jingga di telinga Fandi.
“Yang mana?” Tanya Fandi heran.
“Jadi tadi kamu pura-pura tidur?” Tanya Fandi mengernyitkan dahinya.
“Heheheheee..” Jingga tertawa. Lalu Fandi mulai menggelitiki Jingga.
“Nakal!” Balas Fandi kemudian memeluk Jingga. Ia berbaring di ranjang sambil memeluk Jingga dari belakang.
__ADS_1
“Sedalam itukah kamu mencintai aku Fandi?” Tanya Jingga menoleh ke belakang.
“Hhhmm.. Sangat-sangat dalam.” Jawab Fandi seraya menghembuskan nafasnya.
“Kenapa?” Tanya Jingga.
“Karena kamu gadis yang sangat spesial. Kamu motivasi aku. Karena kamulah aku bisa seperti sekarang.” Ujar Fandi. Ia mengangkat tubuh Jingga. Sekarang posisi Jingga berada di atasnya.
“Aku?” Jingga menunjuk dirinya.
“Iyaa sayang. Aku beberapa kali menang olimpiade dan mendapat beasiswa kuliah itu pun motivasinya kamu.” Lanjut Fandi.
“Terus saat aku pacaran sama orang lain. Bagaimana perasaanmu?” Tanya Jingga mulai penasaran.
“Jujur aku patah hati saat itu. Berkali-kali. Tapi aku tahu diri. Aku belum layak untukmu, bahkan sampai sekarang.” Ujar Fandi dengan suara yang mulai pelan.
“Belum layak untukku? Kamu ngawur! Sekarang kamu malah sudah bertanggung jawab sama aku. Membiayai uang kos dan makan sehari-hariku, padahal kamu juga masih sekolah. Dari segi mana kamu berpikir belum layak untukku? Malah aku yang berpikir tidak layak untuk kamu Fandi.” Balas Jingga yang kemudian menunduk.
__ADS_1
“Siapa bilang kamu tidak layak untukku? Kamu sangat spesial di mataku. Sampai kapanpun.” Balas Fandi seraya memegang dagu Jingga.
*****